BERITAKINI.CO.ID — BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari memperingatkan potensi gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah perairan Sulawesi Tenggara pada periode 19-22 September 2026. Kecepatan angin di beberapa titik diprakirakan menembus 20 knot, kondisi yang dinilai berisiko bagi perahu nelayan dan kapal tongkang.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari, I Made Wahyu Gana Putra, menyatakan angin di wilayah Sultra umumnya bergerak dari timur ke selatan dengan kecepatan 2-15 knot. Namun, sejumlah perairan berpeluang mengalami peningkatan kecepatan angin hingga 20 knot.
"Kecepatan angin tertinggi diperkirakan mencapai 20 knot atau setara 5 Skala Beaufort yang berpotensi terjadi di Perairan Teluk Bone, Perairan Baubau, Laut Flores Selatan Buton, Perairan Wakatobi, serta Laut Banda Timur Wakatobi," kata Made Wahyu saat dihubungi di Kendari, Sabtu (19/9/2026).
Wilayah yang Berpotensi Dilanda Gelombang Tinggi
Gelombang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter diprakirakan berpeluang terjadi di Teluk Bone Barat Kabaena dan Perairan Baubau. Dua kawasan itu menjadi perhatian utama karena kombinasi angin kencang dan gelombang tinggi dapat meningkatkan risiko kecelakaan pelayaran.
BMKG mencatat ambang batas risiko berbeda untuk tiap jenis kapal. Perahu nelayan mulai berada dalam kondisi berbahaya ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter.
Kapal tongkang dinilai berisiko apabila menghadapi angin berkecepatan 16 knot dan gelombang setinggi 1,5 meter. Selisih ambang batas itu membuat operator kapal besar dan kecil perlu mengambil keputusan berbeda sebelum melaut.
"Pengoperasian perahu nelayan sangat berisiko apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Sedangkan kapal tongkang berisiko jika kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter," ujar Made Wahyu.
Imbauan bagi Nelayan dan Pengelola Transportasi Laut
BMKG meminta masyarakat pesisir tidak mengabaikan perkembangan cuaca sebelum beraktivitas di laut. Pengelola transportasi laut juga diimbau memperhitungkan kondisi angin dan gelombang sebelum melakukan pelayaran.
Pembaruan informasi cuaca maritim secara berkala dinilai penting untuk mengantisipasi perubahan kondisi di lapangan. Prakiraan empat hari ke depan menunjukkan potensi gelombang tinggi masih bertahan hingga 22 September 2026.
Nelayan tradisional yang menggunakan perahu kecil menjadi kelompok paling rentan dalam periode ini. Mereka disarankan menunda melaut atau mencari perairan yang lebih terlindung jika kecepatan angin mendekati 15 knot.