BERITAKINI.CO.ID — Sejumlah perusahaan AI terkemuka meminta perlambatan pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Permintaan itu muncul setelah laporan tentang kawanan agen AI yang meretas situs web dan berkoordinasi lewat papan pesan rahasia. Para ahli antitrust menilai cara perusahaan menyampaikan permintaan ini justru bisa memicu masalah regulasi jangka panjang.
Permintaan "slowdown" atau perlambatan itu disampaikan setelah berbagai laporan tentang perilaku agen AI yang mengkhawatirkan. Seorang engineer Anthropic yang akan keluar juga menyampaikan pesan serius bagi umat manusia.
Perusahaan-perusahaan AI besar menyatakan kekhawatiran bahwa perlambatan pengembangan justru bisa melanggar hukum antitrust. Mereka menyebut perlambatan terkoordinasi berpotensi dianggap sebagai kesepakatan antikompetitif.
Kekhawatiran soal Hukum Antitrust
Para ahli antitrust menilai bahasa yang dipilih perusahaan AI tidak membantu posisi mereka. Menurut mereka, pengembangan AI yang tidak terkendali memang tidak sejalan dengan semangat Sherman Act.
Undang-undang antitrust Amerika Serikat itu ada untuk mendorong pasar yang kompetitif. Namun, mendapatkan restu resmi dari pemerintah bisa mencegah investigasi mahal di kemudian hari.
Dalam hukum antitrust, cara karyawan perusahaan membahas keputusan bisnis sering sama pentingnya dengan keputusan itu sendiri. Google dikenal melatih karyawannya menghindari frasa tertentu yang bisa menyiratkan perilaku antikompetitif.
Perusahaan itu menginstruksikan karyawan menekankan bagaimana keputusan bisnis meningkatkan layanan dan menguntungkan konsumen. Dari sudut pandang antitrust, frasa seperti "slowdown" atau "pause" bisa memicu alarm lebih besar daripada aktivitas yang sebenarnya diwakilinya.
Kesepakatan perlambatan bersama tanpa tujuan khusus bisa ditafsirkan regulator sebagai perjanjian antikompetitif untuk mengurangi perdagangan.
Peringatan dari Pakar Hukum
"Saya pikir mereka agak menyudutkan diri sendiri dengan cara mereka menyampaikan hal itu," kata John Bergmayer, penasihat hukum untuk organisasi nirlaba Public Knowledge.
Bergmayer menjelaskan bahwa dalam antitrust, ekonom biasanya melihat apakah ada pengurangan output. Artinya, apakah dua perusahaan atau lebih membuat pakta untuk "bersantai".
Alih-alih membahas upaya yang terdengar kolusif untuk mengurangi pengembangan, perusahaan AI bisa menekankan keinginan bekerja sama pada protokol keselamatan. Perlambatan rilis model bisa diperlakukan sebagai efek samping alami dari upaya itu.
Sikap Zuckerberg dan Perbandingan Otomotif
CEO Meta Mark Zuckerberg ikut berkomentar soal proposal perlambatan tanpa mendukungnya secara eksplisit. Perusahaannya baru saja lolos dari gugatan antitrust besar yang diajukan Federal Trade Commission.
Zuckerberg berargumen bahwa laboratorium AI punya "insentif alami yang kuat" untuk membuat agen AI berperilaku lebih baik. Konsumen tidak ingin model melakukan hal yang tidak diinginkan—disebut "misalignment" dalam jargon industri AI.
Perusahaan yang tidak meluangkan waktu memperbaiki alignment "akan tertinggal" secara kompetitif. Ini perbedaan antara dua produsen mobil yang berkata "kami sepakat tidak membuat mobil lebih baik untuk sementara" dan "kami tidak membuat mobil lebih cepat sampai kami tahu cara membuatnya aman".
Perlindungan Hukum yang Sudah Ada
David Lawrence, yang hingga baru-baru ini menjabat direktur kebijakan Divisi Antitrust Departemen Kehakiman, menulis di LinkedIn. Menurutnya, kesepakatan yang mencegah risiko katastrofik justru "meningkatkan output dan mendorong kompetisi".
Kesepakatan semacam itu, kata Lawrence, sudah dilindungi hukum melalui "ancillary restraints doctrine". Seorang pengacara karier FTC berkomentar di bawah unggahan itu: "Bagaimanapun juga, tanpa umat manusia tidak akan ada kompetisi."
Jika ada, kesepakatan kolektif untuk tidak menerapkan langkah keselamatan justru bisa memaparkan laboratorium AI pada tuduhan "quality fixing". Istilah itu merujuk pada kesepakatan perusahaan untuk tidak meningkatkan produk mereka sendiri.
Roger Alford, profesor di Notre Dame Law School dan mantan wakil kedua Divisi Antitrust DOJ, menunjuk kasus antitrust Eropa. Dalam kasus itu, perusahaan mobil bekerja sama mengembangkan teknologi pengurang emisi tetapi sepakat tidak bersaing pada peningkatan di luar yang diwajibkan hukum. Mereka akhirnya harus membayar denda sekitar satu miliar dolar.
Regulasi Diri dan Tekanan Pasar
Regulasi diri bukan hal baru. Bergmayer mencatat industri sudah bisa membatasi tanggung jawab antitrust mereka lewat National Cooperative Research and Production Act of 1993.
Undang-undang itu memungkinkan mereka membentuk organisasi pengembangan standar asalkan mengirimkan notifikasi ke FTC dan DOJ.
Penegak antitrust biasanya skeptis terhadap pengecualian antitrust. Menurut mereka, pengecualian itu membuat pemain besar semakin besar dan menghambat perusahaan baru mendapatkan traksi di pasar.
David Sacks, cochair President's Council of Advisors on Science & Technology, juga mengangkat alis atas permintaan itu. Sacks menuduh Anthropic dan OpenAI sebagai duopoli dan menyebut permintaan pengecualian antitrust sebagai "psyop musim pemilu" dan alasan untuk "membentuk kartel".