Pencuri Bitcoin Rp 4,3 Triliun Mengaku Tak Nyangka Penangkapan Heboh

Pencuri Bitcoin Rp 4,3 Triliun Mengaku Tak Nyangka Penangkapan Heboh
Malone Lam Pelaku Pencuri Bitcoin.(Sumber:NET)

WASHINGTON DC - Pengakuan bersalah disampaikan oleh seorang pemuda asal Singapura berusia 22 tahun, Malone Lam, setelah ditangkap Biro Investigasi Federal (FBI) di Amerika Serikat atas tuduhan menggasak Bitcoin senilai lebih dari US$ 245 juta atau setara Rp 4,3 triliun. Pemuda tersebut mengaku tak menyangka penangkapan atas dirinya bakal memicu kehebohan besar.

Pemuda yang sempat putus sekolah sewaktu duduk di bangku kelas delapan tersebut datang ke Amerika Serikat dari Singapura. Atas tindakan yang dilakukan, hukuman maksimal 20 tahun penjara kini mengancam dirinya usai menyatakan bersalah atas tuduhan konspirasi racketeering di tingkat federal.

Perkara hukum yang menyeret nama pemuda tersebut tercatat sebagai salah satu skandal peretasan dan pencurian aset mata uang kripto terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat.

Penuntut umum federal Amerika Serikat mendakwa pemuda tersebut selaku otak di balik jaringan pemuda yang melancarkan rentetan aksi scam kripto sejak tahun 2023. Pemuda ini menjadi salah satu dari total 18 terdakwa yang terseret, sekaligus menjadi orang ke-11 yang menyatakan bersalah secara resmi.

Kendati demikian, pengakuan bersalah yang disampaikannya menjadi titik terang sekaligus terobosan signifikan bagi penyidikan yang tengah dijalankan Departemen Kehakiman Amerika Serikat.

“Kami sering membahas soal bagaimana jadinya jika saya tertangkap, tetapi tidak pernah menyangka akan seheboh ini,” tutur pemuda tersebut kepada rekan-rekannya melalui sambungan telepon dari balik jeruji besi sebagaimana tertera di berkas dakwaan.

Berdasarkan lembar dakwaan penuntut umum Amerika Serikat, pemuda tersebut bersama rekan-rekannya pada Agustus 2024 memakai teknik rekayasa sosial guna mengelabui seorang warga asal Washington DC hingga berhasil menguras Bitcoin senilai lebih dari US$ 245 juta.

Dua orang yang disinyalir sebagai rekan konspiratornya menyamar sebagai pihak perwakilan Google dan bursa kripto Gemini. Penyamaran tersebut bertujuan memanipulasi korban supaya memberikan akses masuk ke akun Google Drive miliknya serta membocorkan kode keamanan, yang berujung pada penyedotan lebih dari 4.100 Bitcoin.

Setelahnya, tindak pencucian uang dilakukan guna mengonversi mata uang kripto hasil kejahatan tersebut menjadi uang tunai. Dana tersebut lantas dipakai untuk memenuhi gaya hidup foya-foya.

Otoritas Amerika Serikat membeberkan bahwa hasil kejahatan itu digunakan untuk memborong deretan mobil sport berharga fantastis, menyewa rumah mewah di Miami, serta menghabiskan jutaan dolar di berbagai kelab malam. Bahkan, dana senilai US$ 569.000 atau setara Rp 10 miliar sempat dihabiskan hanya dalam waktu satu malam di sebuah kelab malam kawasan Los Angeles.

Gaya hidup mewah dan foya-foya tersebut berlangsung selama satu bulan sebelum akhirnya agen FBI membekuknya di Miami. Catatan kepolisian menunjukkan transaksi pembelian jam tangan mewah seharga US$ 2 juta serta lebih dari 30 unit mobil sport seperti Porsche, Lamborghini, dan Ferrari yang telah dimodifikasi secara kustom.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index