Kisah Sumur Bor Warga Jadi Sumber Air Saat Kemarau

Kisah Sumur Bor Warga Jadi Sumber Air Saat Kemarau
Ilustrasi Sumur bor milik Wasiti (FOTO: NET)

PANGANDARAN - Setiap datang musim kemarau, halaman rumah Wasiti di Dusun Cilutung, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, selalu dipadati oleh antrean warga yang membutuhkan air bersih.

Toren penampung air berwarna merah yang ditopang dudukan beton terus mengalirkan air guna memenuhi kebutuhan ratusan warga Dusun Majingklak yang kesulitan mendapat air bersih karena air pipa di daerah mereka telah berubah asin.

Semenjak subuh, masyarakat sekitar mulai berdatangan membawa jeriken dan galon kosong, baik dengan berjalan kaki ataupun mengendarai motor, lalu bergantian mengisi wadah sebelum memulai aktivitas harian.

Sumur bor yang selesai dibuat oleh keluarga Wasiti semenjak sepuluh tahun silam sekarang tidak cuma dipakai untuk keperluan rumah tangga sendiri, tetapi beralih menjadi sumber air bersih utama bagi warga sekitar ketika musim kemarau datang. 

"Kalau musim kemarau gini, saya enggak kasih tarif. Seikhlasnya saja, kasihan warga kesulitan air. Mereka ada yang biasa kasih Rp 5.000 atau Rp 2.000 juga ada buat nyuci atau ambil air tiga kali balik," kata Wasiti.

Tiap hari, puluhan masyarakat datang silih berganti, mulai dari sekadar mengisi air ke galon hingga menumpang untuk mandi dan mencuci pakaian lantaran air di rumah mereka sudah tak layak dikonsumsi. 

"Warga dalam sehari kadang ada yang tiga kali bolak-balik ambil air, karena kan ambilnya pakai galon. Ada yang numpang mandi, numpang cuci. Banyak dalam kondisi seperti ini. Kadang datang waktu subuh," ujarnya.

Pemandangan antrean galon serta jeriken yang berjejer rapi ini selalu berulang setiap kemarau, bahkan sebagian warga terpaksa kembali lagi pada sore hari lantaran stok air di rumah cepat habis.

Sumber air ini dahulu dibuat pada tahun 2016 tatkala kawasan Majingklak dilanda kekeringan parah, di mana suami Wasiti pada mulanya berinisiatif menjajakan air bersih menggunakan motor dengan membawa tiga jeriken ukuran 30 liter. "Memang saat itu juga sudah sering kekeringan. Makanya dulu suami saya keliling pakai motor jual air," tuturnya.

Pada waktu itu, air tersebut dijual seharga Rp 5.000 untuk tiga jeriken, tetapi karena keperluan warga terus melonjak, keluarga Wasiti menggantinya dengan menggunakan mobil tangki yang dilengkapi toren. 

"Dulu sempat jualan air, semotornya Rp 5.000 tiga jeriken ukuran 30 liter. Karena makin banyak yang beli air, pindah pakai mobil jualan air, pakai toren, satunya Rp 50.000," katanya.

Wasiti membeberkan bahwa proses pencarian sumber air bersih ini tidaklah gampang sebab keluarganya sempat beberapa kali memindahkan lokasi pengeboran sedalam sembilan meter demi mendapat hasil yang bagus.

"Ngebornya ini dulu sembilan meter. Susah juga mencari sumber air yang bersih. Di titik pertama enggak asin, tapi kuning. Pindah ke belakang, airnya bau. Sampai nemu yang ini," ujarnya.

Usai mendapati sumber air yang layak konsumsi, keluarga Wasiti menempatkan sebuah toren penampung agar ketersediaan air tetap aman saat banyak warga datang bersamaan untuk mengantre.

Kendati airnya terus dipergunakan oleh banyak warga setiap harinya, Wasiti mengaku bahwa sumur bor miliknya belum pernah mengalami kekeringan dan debit air yang dihasilkan tetap stabil di tengah kemarau panjang. "Ya kondisi air di sumur ini, ada gitu. Kalau melimpah kan enggak tahu di dalam, tapi ada. Enggak pernah kekurangan," katanya.

Sekarang, kehadiran toren merah di halaman kediaman Wasiti telah menjadi tumpuan bagi ratusan penduduk Dusun Majingklak tiap kali kemarau melanda dan air di rumah mereka berubah rasa menjadi asin.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index