Wonosobo Rilis Gerakan WAYAH demi Atasi Risiko Stunting

Wonosobo Rilis Gerakan WAYAH demi Atasi Risiko Stunting
Ilustrasi Perkumpulan ayah di wonosobo (FOTO: NET)

WONOSOBO - Sebanyak 146.404 keluarga di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, terdata berada dalam kondisi rentan stunting hingga pertengahan tahun 2026.

Situasi ini menjadi sebuah tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam rangka melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu untuk mewujudkan target Indonesia Emas 2045.

Merespons kendala tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo mengambil langkah memperkukuh ketahanan keluarga lewat peluncuran Gerakan WAYAH (Waktu Bersama Ayah) dan Kelas AMAN (Ayah Idaman) guna mendorong peran aktif ayah dalam mendidik anak.

Kedua program baru ini resmi diperkenalkan dalam acara puncak Festival Cinta Keluarga IV di Pendopo Bupati Wonosobo, Senin (6/7/2026), bersamaan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33 serta Hari Anak Nasional ke-42.

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menggarisbawahi bahwa pembentukan kualitas manusia merupakan pilar utama pembangunan daerah yang mesti diawali dari lingkungan keluarga.

"Sering kali pembangunan dimaknai dari apa yang tampak di depan mata, seperti jalan yang semakin baik, jembatan yang semakin kokoh, atau fasilitas publik yang semakin lengkap. Semua itu memang penting. Namun sesungguhnya, pembangunan yang paling menentukan masa depan daerah adalah pembangunan manusianya. Dan pembangunan manusia selalu berawal dari keluarga," ujar Afif.

Ia mengimbuhkan bahwa program ketahanan keluarga wajib dijalankan berkelanjutan sejak fase awal kehidupan demi menggapai sasaran akhir, yakni melahirkan SDM unggul.

"Pembangunan keluarga harus dimulai sejak awal kehidupan, melalui layanan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pengasuhan yang berkualitas, hingga menghadirkan lansia yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat. Seluruh ikhtiar itu bermuara pada satu tujuan, yakni membangun sumber daya manusia yang unggul," katanya.

Afif mencermati bahwa aktivitas mengasuh anak sejauh ini kerap dianggap sebagai tugas ibu semata, padahal keterlibatan ayah amat diperlukan baik secara jasmani maupun batin.

"Semangat 'Ayah Wajib Hadir' harus benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran ayah bukan hanya secara fisik, tetapi hadir untuk mendengar, mendampingi, membimbing, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya," tegas Afif.

Ia optimis bahwa penguatan fondasi keluarga bakal menjadi aset berharga buat Wonosobo dalam memaksimalkan bonus demografi untuk mencetak generasi sehat yang siap menghadapi Indonesia Emas 2045.

"Indonesia saat ini memasuki bonus demografi. Peluang ini hanya datang sekali dalam sejarah bangsa. Jika keluarga kami kuat, kami optimistis Wonosobo mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, serta siap menyongsong Indonesia Emas 2045," ucapnya.

Kepala DPPKBPPPA Kabupaten Wonosobo, Dyah Retno Sulistyowati, menyampaikan bahwa tantangan masa kini semakin rumit seiring dengan kemajuan teknologi digital yang berisiko mengikis mutu komunikasi di dalam rumah.

"Hari ini anak-anak hidup di era digital. Teknologi memang membuka peluang belajar, tetapi di sisi lain juga mengurangi interaksi dan kualitas komunikasi antara orang tua dengan anak. Banyak keluarga tinggal serumah, tetapi jarang benar-benar bersama," ujarnya.

Menurut Dyah, tidak ada kecanggihan teknologi yang bisa menggantikan peran langsung orang tua di dekat anak.

"Tidak ada aplikasi yang dapat menggantikan pelukan orang tua, tidak ada algoritma yang mampu menggantikan nasihat seorang ayah, dan tidak ada teknologi yang dapat menggantikan kasih sayang seorang ibu," katanya.

Bukan cuma stunting, Wonosobo juga masih berjuang menyelesaikan problem perkawinan usia dini, dengan temuan 264 kasus sepanjang 2025, serta persoalan kekerasan pada perempuan dan anak yang diurus oleh UPT PPA.

"Persoalan-persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Kolaborasi seluruh perangkat daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, kader, hingga keluarga menjadi kunci untuk membangun keluarga yang berkualitas," jelas Dyah.

Kini, Wonosobo telah memiliki 175 Sekolah Siaga Kependudukan beserta Kampung Keluarga Berkualitas yang tersebar di bermacam wilayah, sebagai bukti keseriusan daerah dalam membina keluarga.

"Prestasi tentu patut kami syukuri, tetapi yang lebih penting adalah memastikan seluruh program benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Dyah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index