JAKARTA - Upaya Indonesia untuk mempercepat transformasi digital nasional kini semakin menuntut langkah yang lebih strategis dan terbuka terhadap kolaborasi global.
Di tengah persaingan teknologi yang terus berkembang, penguasaan inovasi tidak lagi cukup hanya mengandalkan kekuatan domestik.
Negara-negara besar saat ini berlomba membangun ekosistem teknologi yang kuat, mulai dari infrastruktur digital, pengembangan sumber daya manusia, hingga investasi pada riset dan kecerdasan buatan.
Dalam konteks inilah, Indonesia dinilai perlu memperluas kemitraan internasional agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu tampil sebagai pemain utama.
Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menilai kerja sama internasional menjadi salah satu jalur paling penting untuk mempercepat penguasaan teknologi nasional.
Pendekatan ini dianggap relevan mengingat kebutuhan Indonesia yang sangat besar sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa. Konektivitas, infrastruktur digital, dan model interaksi baru yang cepat serta efisien menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Karena itu, keterbukaan terhadap investasi yang mendukung penguatan ekosistem teknologi nasional menjadi sinyal penting arah kebijakan pemerintah saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dalam pertemuan dengan delegasi perusahaan teknologi asal Tiongkok, Huaxia Kunpeng Technology Zhang Zhou. Pertemuan itu membahas peluang kerja sama investasi di sektor teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia.
Dari pertemuan tersebut, terlihat bahwa pemerintah tidak hanya membuka ruang bagi investasi baru, tetapi juga ingin memastikan kolaborasi yang masuk benar-benar memberi nilai tambah bagi penguatan kapasitas teknologi nasional.
Lebih jauh, pembahasan yang dilakukan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur semata. Kerja sama yang diusulkan mencakup pengembangan talenta digital, penguatan riset, pertukaran mahasiswa, hingga potensi pembangunan pusat data AI dan industri manufaktur perangkat teknologi.
Dengan kata lain, arah yang ingin dibangun bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar digital besar, tetapi sebagai basis pertumbuhan ekosistem teknologi yang lebih mandiri dan berdaya saing global.
Kerja Sama Global Dinilai Jadi Kunci Penguasaan Teknologi
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menegaskan bahwa kerja sama internasional menjadi kunci dalam mempercepat penguasaan teknologi oleh Indonesia.
Menurutnya, perkembangan teknologi global bergerak sangat cepat sehingga setiap negara perlu memanfaatkan peluang kolaborasi untuk memperkuat kapasitas nasional.
“Indonesia terbuka terhadap investasi yang mendukung penguatan ekosistem teknologi nasional,” ucapnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah saat ini mengambil posisi terbuka terhadap investasi asing, selama investasi tersebut sejalan dengan kebutuhan nasional dan mendukung pembangunan ekosistem teknologi yang berkelanjutan.
Dalam pandangan Bappenas, Indonesia harus mampu memanfaatkan kerja sama global sebagai jalan untuk mempercepat lompatan teknologi di berbagai sektor strategis.
Rachmat menyampaikan bahwa setiap negara pada dasarnya ingin menguasai teknologi berdasarkan kemampuan masing-masing. Indonesia pun memiliki semangat yang sama untuk terus berkembang melalui berbagai potensi kerja sama dengan banyak pihak.
Artinya, kerja sama internasional tidak dilihat sebagai bentuk ketergantungan, melainkan sebagai strategi percepatan untuk memperkuat daya saing nasional di era digital.
Indonesia Buka Peluang Investasi Teknologi Digital dan AI
Dalam pertemuan dengan delegasi Huaxia Kunpeng Technology Zhang Zhou, Rachmat menegaskan bahwa Indonesia menyambut baik investasi baru, terutama yang bergerak di industri digital dan ekosistem teknologi informasi.
Menurutnya, kebutuhan Indonesia sebagai negara besar menuntut adanya penguatan konektivitas dan model baru yang memungkinkan masyarakat saling terhubung dengan cepat.
“Kami menyambut semua investasi baru, terutama di industri digital, dalam ekosistem teknologi informasi, dalam semua yang kita butuhkan sebagai negara besar dengan lebih dari 280 juta penduduk. Kita butuh konektivitas, kita butuh model baru agar masyarakat bisa saling terhubung dengan cepat,” kata Menteri PPN.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah ingin memastikan investasi yang masuk tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan fundamental Indonesia dalam membangun infrastruktur digital yang lebih merata.
Dengan jumlah penduduk yang besar dan kebutuhan konektivitas yang terus meningkat, penguatan teknologi informasi menjadi salah satu syarat utama agar transformasi digital dapat berlangsung lebih cepat.
Keterbukaan ini juga mempertegas bahwa Indonesia ingin memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi digital secara lebih maksimal.
Apalagi, sektor AI kini menjadi salah satu bidang yang berkembang paling cepat dan berpotensi mengubah banyak sektor, mulai dari industri, pendidikan, pelayanan publik, hingga riset.
Perusahaan Tiongkok Siap Bangun Ekosistem Digital Indonesia
Dalam pertemuan tersebut, perusahaan teknologi asal Tiongkok, Huaxia Kunpeng Technology Zhang Zhou, menyampaikan komitmennya untuk berinvestasi dan berkontribusi dalam pembangunan ekosistem digital di Indonesia.
Komitmen itu diwujudkan melalui rencana pembangunan fasilitas pusat data AI beserta ekosistem pendukungnya.
Langkah ini menjadi penting karena pusat data dan teknologi AI kini menjadi fondasi utama dalam pengembangan ekonomi digital modern.
Kehadiran infrastruktur semacam itu dapat memperkuat kapasitas pengolahan data, mempercepat inovasi, dan mendukung pengembangan berbagai layanan digital yang semakin kompleks.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, kolaborasi yang diusulkan juga mencakup pengembangan talenta digital melalui kemitraan dengan perguruan tinggi.
Selain itu, ada pula upaya penguatan kapasitas riset dan inovasi yang dinilai sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi dari luar, tetapi juga ikut menghasilkan inovasi baru dari dalam negeri.
Pendekatan seperti ini memperlihatkan bahwa investasi teknologi yang diharapkan pemerintah bukan semata-mata berupa modal finansial, melainkan juga transfer pengetahuan, penguatan SDM, dan pembangunan fondasi jangka panjang bagi pertumbuhan industri digital nasional.
Potensi Kolaborasi Diperluas ke Riset dan Manufaktur
Pertemuan antara Bappenas dan delegasi perusahaan teknologi tersebut juga membahas potensi kerja sama yang lebih luas.
Sejumlah bidang yang dibicarakan meliputi pembangunan pusat data, pengembangan industri manufaktur perangkat teknologi, program pertukaran mahasiswa, hingga pembentukan pusat riset dan pengembangan atau research and development (R&D).
Ruang lingkup pembahasan ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin membangun kolaborasi yang komprehensif dari hulu hingga hilir. Tidak hanya memperkuat infrastruktur digital, tetapi juga membangun rantai nilai industri teknologi secara lebih utuh.
Dengan adanya manufaktur perangkat, misalnya, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Program pertukaran mahasiswa dan pembentukan pusat R&D juga dinilai strategis karena berkaitan langsung dengan pengembangan sumber daya manusia serta kapasitas inovasi nasional.
Dalam jangka panjang, penguatan riset dan pendidikan akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu naik kelas dari sekadar pasar besar menjadi produsen teknologi yang kompetitif.
“Melalui potensi kerja sama ini, Indonesia diharapkan dapat mempercepat transformasi digital nasional dan memperkuat posisinya tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam industri teknologi global,” ungkap dia.
Pernyataan tersebut merangkum arah besar yang ingin dicapai pemerintah. Indonesia tidak ingin hanya menjadi tujuan penjualan teknologi dari luar, melainkan ingin menempatkan diri sebagai bagian penting dalam peta industri teknologi dunia melalui investasi, inovasi, penguatan SDM, dan kolaborasi internasional yang terarah.