Survei AS: Mayoritas Warga Tolak Serangan Iran, Nilai Keputusan Trump Keliru

Rabu, 02 September 2026 | 05:56:00 WIB

BERITAKINI.CO.ID — Penolakan publik terhadap langkah militer di Timur Tengah menjadi temuan paling mencolok dalam jajak pendapat terbaru University of Massachusetts Amherst. Hanya 26 persen responden yang mendukung serangan AS terhadap Iran. Sebanyak 54 persen menyatakan tidak menyetujui.

Penilaian Publik atas Penanganan Konflik Iran

Penilaian terhadap cara Trump mengelola perang dengan Iran juga dominan negatif. Hanya 25 persen responden yang menilai kinerja presiden dalam konflik tersebut baik. Sebaliknya, 68 persen menyebut penanganan Trump "tidak terlalu baik" atau "tidak baik sama sekali".

Ketika ditanya apakah keputusan menyerang Iran merupakan sebuah kesalahan, 55 persen responden menjawab setuju. Hanya 27 persen yang menilai serangan itu bukan sebuah kesalahan.

Erosi Kepercayaan terhadap Kinerja Umum

Level ketidakpuasan publik tidak hanya berhenti pada isu luar negeri. Secara umum, 64 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja Trump sebagai presiden. Hanya 32 persen yang menyatakan puas, sementara tiga persen belum menentukan sikap.

Angka itu naik dibandingkan survei serupa pada Maret. Ketika itu, 62 persen responden mengaku tidak puas dengan pemerintahan Trump.

Sentimen negatif terhadap kebijakan Iran sebenarnya sudah tecermin sejak awal. Pada Maret, sebanyak 63 persen responden tidak menyetujui pendekatan Washington terhadap Teheran. Data terbaru menunjukkan ketidakpuasan itu bertahan, bahkan setelah kebijakan AS terhadap Iran memasuki fase yang lebih keras.

Metode Survei

Jajak pendapat dilakukan pada 21–26 Agustus dengan melibatkan 1.000 responden dewasa di seluruh AS. Responden ditanya mengenai kinerja pemerintahan Trump, penanganan perang dengan Iran, hingga kebijakan ekonomi termasuk inflasi.

Hasil survei ini menjadi salah satu indikator tekanan politik yang dihadapi Trump menjelang pemilu, ketika elektabilitas kerap diruntuhkan oleh kebijakan luar negeri yang tidak populer di mata pemilih.

Terkini