BRIN Analisis Gelombang dan Arus Laut di Lokasi Hilangnya Virgo Transport 8

BRIN Analisis Gelombang dan Arus Laut di Lokasi Hilangnya Virgo Transport 8

BERITAKINI.CO.ID — Badan Riset dan Inovasi Nasional merilis hasil analisis kondisi gelombang, pasang surut, dan arus laut di perairan Laut Jawa saat KM Virgo Transport 8 hilang kontak. Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter dengan periode enam detik, masuk kategori sedang dan bukan gelombang ekstrem.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, memaparkan bahwa kondisi laut di lokasi kejadian memang bergelombang. Namun berdasarkan klasifikasi keselamatan pelayaran yang dipakai dalam kajian, tinggi gelombang saat itu tidak masuk kategori berbahaya.

"Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25–2,50 meter)," ujar Widodo.

Kategori tinggi menurut kajian tersebut dimulai pada 2,50 meter, sementara kategori sangat tinggi pada 4 meter. Artinya, kondisi di lokasi kejadian masih jauh dari ambang ekstrem.

Gelombang Didominasi Angin Lokal, Bukan Kiriman dari Wilayah Jauh

Analisis BRIN menunjukkan gelombang pada malam kejadian sebagian besar dibangkitkan oleh angin setempat. Kontribusinya mencapai sekitar 96 persen dari tinggi total gelombang, bukan swell yang merambat dari wilayah jauh.

Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan berada di kisaran 6,4–8,3 meter per detik atau 12–16 knot. Nilai itu setara dengan Beaufort 4–5.

"Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan sekitar 6,4–8,3 meter per detik atau 12–16 knot, yang berada pada kisaran Beaufort 4–5," kata Widodo.

Arah Gelombang dari Samping Picu Oleng Berulang

Gelombang datang dari arah tenggara-timur, sekitar 122 derajat. Posisi itu membuat gelombang mengenai kapal dari arah samping atau beam seas.

Kondisi tersebut dapat memicu kapal mengalami gerakan oleng secara berulang. Analisis dinamika kapal memperkirakan periode gelombang berada di kisaran 5,66–6,47 detik.

Sementara periode alami oleng kapal dengan ukuran panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter berada pada kisaran 11–18 detik. Rentang itu dihitung berdasarkan parameter stabilitas yang digunakan dalam kajian.

Perbedaan periode antara gelombang dan oleng alami kapal menunjukkan tidak terbentuk penguatan oleng melalui resonansi dalam skenario yang dianalisis.

Kemiringan Kapal Masih di Bawah Ambang Masuknya Air

Dengan parameter kajian yang tersedia, kemiringan kapal akibat gelombang diperkirakan 5,9 derajat pada kondisi umum. Pada pembebanan gelombang tertinggi, kemiringan diperkirakan mencapai 11,2–11,9 derajat.

Kontribusi angin terhadap kemiringan kapal diperkirakan kurang dari setengah derajat. Angka-angka itu berada di bawah ambang kemiringan sekitar 25 derajat yang dalam kajian digunakan sebagai indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak.

"Angka-angka ini berada di bawah ambang kemiringan sekitar 25 derajat yang dalam kajian digunakan sebagai indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak, serta jauh di bawah kisaran 50–60 derajat yang dikaitkan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali tegak," ucap Widodo.

Temuan BRIN Jadi Masukan Operasi Pencarian

Selain memetakan kondisi gelombang, kajian BRIN menghasilkan sejumlah temuan yang dapat dimanfaatkan sebagai masukan bagi operasi pencarian. Widodo menyebut hasil analisis ini bukan merupakan investigasi kecelakaan.

KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di Laut Jawa pada Minggu, 13 September, sekitar pukul 01.00 WIB. Hingga kini, upaya pencarian terhadap kapal dan awak masih berlangsung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index