Kecelakaan Fatal Tesla Autopilot Tersembunyi di Balik Laporan yang Diredaksi

Kecelakaan Fatal Tesla Autopilot Tersembunyi di Balik Laporan yang Diredaksi

BERITAKINI.CO.ID — Investigasi yang berjalan ini mencocokkan laporan kecelakaan Tesla yang diberikan kepada National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) dengan pemberitaan lokal. Setiap laporan yang diredaksi kemudian dihimpun untuk melihat pola: hampir semuanya berakhir dengan Tesla menyalahkan pengemudi.

Tiga Kecelakaan yang Sudah Terkonfirmasi

Sejauh ini, tiga kasus berhasil dijodohkan secara akurat. Ketiganya sempat hanya diberitakan sebagai kecelakaan biasa, tanpa ada penyebutan sistem mengemudi otomatis yang aktif.

Pertama di Clute, Texas. Steven Alvarez, 23 tahun, tewas setelah Model 3-nya keluar jalur dan menabrak kolam renang di sebuah taman. Polisi menduga pengemudi mengalami masalah medis. Namun data Tesla menunjukkan sistem driver-assist terverifikasi aktif pada kecepatan 104 mph — angka yang tidak pernah muncul di pemberitaan publik.

Kedua di Lake Mary, Florida. Pria 43 tahun tewas setelah Model 3-nya berhenti di jalur hidup Interstate 4 dan ditabrak truk semi dari belakang. Patroli jalan raya tidak bisa menjelaskan kenapa mobil berhenti. Data Tesla mencatat sistem driver-assist aktif, dengan kecepatan 0 mph.

Beberapa pekan kemudian, kasus hampir serupa terjadi di Mesa, Arizona. Sebuah Model 3 tahun 2020 berhenti di Loop 202 pada pukul 03.00 setempat, lalu ditabrak dari belakang. Pengemudinya tewas. Tesla mencatat sistem driver-assist aktif pada 0 mph dan masih menahan video rekaman insiden tersebut.

Metode Penjodohan Waktu dan Lokasi untuk Membongkar Kecelakaan

Laporan yang dikirim ke NHTSA memang meninggalkan beberapa kolom yang tidak diredaksi: kota, negara bagian, bulan kejadian, tipe kendaraan, jenis jalan, kecepatan sebelum benturan, serta waktu insiden dalam UTC. Dari situlah peneliti memulai.

Waktu UTC dikonversi ke waktu lokal, lalu dicocokkan dengan waktu yang dicatat polisi. Setelah memastikan kota, kendaraan, dan hasil fatal, peneliti mengonfirmasi bahwa hanya satu kecelakaan yang cocok. Selanjutnya, permintaan catatan publik diajukan ke instansi penyidik untuk mendapatkan telemetri mentah Tesla, bukan sekadar interpretasi dari perusahaan.

Tesla Mendominasi Laporan, tapi Menyembunyikan Hampir Semuanya

Aturan umum NHTSA sejak 2021 mewajibkan produsen melaporkan kecelakaan di mana sistem bantuan mengemudi Level 2 aktif dalam 30 detik sebelum dampak, jika ada korban luka, tewas, atau kendaraan ditarik. Tesla menyumbang sekitar 85 persen dari seluruh laporan industri, hampir 4.000 kecelakaan, dan jumlahnya naik setiap tahun.

Namun Tesla hampir selalu menghitamkan narasi laporan. Sejak 2019, perusahaan meredaksi narasi pada 99,9 persen laporannya, menutupi versi perangkat lunak, serta kolom yang menunjukkan apakah jalan masih di area yang diizinkan. Semua diberi label "informasi bisnis rahasia", dengan alasan publikasinya bisa menyebabkan kerugian finansial.

Pabrikan lain seperti GM, Ford, Honda, dan Toyota nyaris tidak meredaksi narasi mereka. Tesla menjadi satu-satunya pelapor besar yang menyembunyikan hampir seluruh isi laporan.

Bahaya Level 2 yang Dipasarkan Sebagai Otonom Penuh

Secara teknis dan hukum, Autopilot dan FSD masih Level 2: manusia tetap pengemudi dan penanggung jawab penuh. Namun Tesla gencar memasarkan FSD dengan sebutan "Full Self-Driving", membuat pengemudi lengah dan berhenti memperhatikan jalan.

Saat kecelakaan terjadi, Tesla cenderung menyalahkan pengemudi, sementara data yang bisa menunjukkan perilaku sistem saat gagal tidak pernah dibuka untuk publik. Publik diminta mempercayai pemasaran, tapi akses terhadap data justru ditutup. Inilah yang membuat investigasi ini perlu terus dilanjutkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index