BERITAKINI.CO.ID — Naiknya Haakon ke kursi raja bukan sekadar seremoni pergantian pemimpin. Ia mewarisi tanggung jawab besar untuk menjaga pamor monarki di saat kepercayaan publik sedang diuji oleh rentetan kasus yang melibatkan orang-orang terdekatnya.
Putri Mahkota Baru dan Aturan Suksesi yang Berubah
Putri sulung Haakon, Ingrid Alexandra (21 tahun), kini resmi menyandang gelar putri mahkota dan menjadi pewaris takhta berikutnya. Penunjukannya mengikuti aturan suksesi baru yang ditegaskan lewat amendemen konstitusi 1990, yang membolehkan anak sulung naik takhta tanpa memandang jenis kelamin.
Aturan itu tidak berlaku surut. Haakon tetap menjadi pewaris sah meski memiliki kakak perempuan, Putri Martha Louise, karena ia lahir sebelum amendemen disahkan. Posisinya sebagai penerus takhta pun tidak pernah berubah sejak kakeknya, Raja Olav V, wafat pada 1991.
Raja yang Sibuk Kuliah dan Doyan Selancar
Haakon bukan sosok yang hanya duduk di istana. Ia mengantongi gelar ilmu politik dari University of California, Berkeley, dan master bidang studi pembangunan dari London School of Economics. Sebelum itu, ia sempat menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut Kerajaan Norwegia dan pelatihan diplomatik di Kementerian Luar Negeri.
Di luar urusan kenegaraan, ia dikenal gemar berselancar, bermain ski, dan mendengarkan musik rock serta rap. Pengalamannya bertugas sebagai wali raja saat kesehatan Raja Harald menurun dalam beberapa tahun terakhir juga membuatnya akrab dengan seluk-beluk pemerintahan.
Kontroversi Pernikahan yang Justru Mendekatkan ke Rakyat
Jalan Haakon menuju takhta sempat diwarnai perdebatan publik saat ia memutuskan menikahi Mette-Marit Tjessem Hoiby pada Agustus 2001. Mette-Marit adalah ibu tunggal dengan masa lalu yang menjadi sorotan, termasuk pergaulannya di lingkungan pesta yang pernah terkait penggunaan narkoba.
Keputusan Haakon untuk tetap mempertahankan hubungannya itu awalnya menuai kritik. Namun, sang ayah, Raja Harald, akhirnya memberikan restu. Seiring waktu, pernikahan tersebut justru membentuk citra pasangan kerajaan yang lebih dekat dengan masyarakat biasa.
Ujian Berat dari Kasus Anak Tiri dan Kesehatan Ratu
Reputasi keluarga kerajaan kembali terusik oleh kasus hukum yang menjerat Marius Borg Hoiby, putra Mette-Marit dari hubungan sebelumnya. Pada Juni lalu, Hoiby dijatuhi hukuman empat tahun penjara atas dua dakwaan pemerkosaan dan sejumlah tindak kekerasan. Pihak pengacaranya menyatakan akan mengajukan banding.
Di saat yang sama, Mette-Marit juga menjadi sorotan terkait hubungan masa lalunya dengan Jeffrey Epstein. Ia telah meminta maaf secara terbuka dan menyebut keputusannya untuk tetap berhubungan dengan Epstein sebagai kesalahan besar. Kini, ia juga tengah menjalani pemulihan setelah transplantasi paru-paru pada Juni untuk mengatasi fibrosis paru kronis yang dideritanya.
Kakak Sang Raja yang Pilih Mundur dari Tugas Kerajaan
Kontroversi lain datang dari Putri Martha Louise, kakak Haakon. Ia pernah menuai kritik atas berbagai klaim dan aktivitas spiritualnya. Ia kemudian menikah dengan Durek Verrett, warga Amerika Serikat yang memperkenalkan diri sebagai shaman dan penyembuh.
Pada 2022, Martha Louise memutuskan untuk tidak lagi menjalankan tugas resmi mewakili keluarga kerajaan setelah muncul pertanyaan mengenai perannya dan hubungannya dengan Verrett.
Dukungan Publik yang Terus Mengikis
Monarki Norwegia masih mendapat dukungan mayoritas, tapi angkanya menunjukkan tren penurunan. Survei Dagbladet pada akhir 2022 mencatat 68 persen responden ingin mempertahankan sistem monarki. Angka ini turun signifikan dibandingkan survei NRK pada 2017 yang mencatat dukungan sebesar 81 persen.
Menurunnya dukungan itu menjadi pekerjaan rumah pertama bagi Raja Haakon VIII. Ia harus membuktikan bahwa institusi kerajaan tetap relevan di tengah gempuran kritik dan tuntutan transparansi dari rakyatnya.