BERITAKINI.CO.ID — Perang dagang antara Amerika Serikat dan Kanada memasuki babak baru setelah Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengumumkan tarif balasan terhadap produk-produk AS. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada 8 September mendatang, dengan besaran tarif bervariasi antara 15, 25, dan 50 persen.
Dampak Terhadap Sektor Manufaktur dan Ekspor
Ekonom memperkirakan sektor manufaktur di provinsi Quebec, New Brunswick, dan Ontario akan menerima dampak paling besar. Provinsi British Columbia juga masuk kategori rentan karena ketergantungannya yang tinggi pada ekspor ke AS.
Menurut lembaga analisis Oxford Economics, provinsi-provinsi tersebut memproduksi barang yang mudah disubstitusi, seperti semen, kertas, kayu, minuman, pakaian, plastik, dan elektronik. Tarif yang diberlakukan AS diperkirakan memangkas 0,3 poin persentase dari Produk Domestik Bruto (PDB) Kanada tahun depan.
Ancaman PHK Massal di Perusahaan Kanada
Konsultan perdagangan internasional Ashley Kalyn dari Peacock Tariff Consulting di Toronto menyatakan kliennya sudah mulai merencanakan penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila tarif tetap dipertahankan. "Kami memperkirakan hingga 100.000 lapangan kerja akan hilang," ujarnya.
Ekonomi Kanada yang hanya sepersepuluh ukuran ekonomi AS membuat negara ini sangat rentan. Sekitar 70 persen ekspor Kanada dikirim ke negara tetangganya itu, sehingga tekanan tarif AS berdampak signifikan pada pendapatan nasional.
Ketegangan Politik dan Narasi Nasionalisme
Ketegangan kedua negara kian meningkat setelah pemerintahan Trump mengumumkan akan menyebut Danau Ontario sebagai "Lake America" sebagai bentuk protes. Perdana Menteri Carney merespons di media sosial bahwa kata "Ontario" berasal dari bahasa masyarakat adat dan telah digunakan lebih dari 400 tahun, mendahului berdirinya Kanada maupun AS.
Perdana Menteri Manitoba, Wab Kinew, mengejek langkah tersebut sebagai upaya lemah. Ia menganalogikannya dengan penampilan band lawas di kasino yang memainkan lagu lama. Sebelumnya, Trump juga mengganti nama Teluk Meksiko menjadi "Teluk Amerika" saat ketegangan dengan Meksiko memuncak.
Meski semangat nasionalisme warga Kanada meningkat, analis Vina Nadjibulla dari Centre for Strategic Statecraft meragukan daya tahannya. "Orang-orang merasa sangat bersemangat dengan gagasan Kanada melawan Trump, tapi saya tidak tahu berapa lama itu akan bertahan," katanya.
Masa Depan Perjanjian USMCA
Ekonom memperingatkan jika hubungan kedua negara terus memburuk, perjanjian dagang bebas Amerika Utara (USMCA) bisa berakhir. Tony Stillo dari Oxford Economics memperingatkan skenario tersebut akan mendorong ekonomi Kanada ke jurang resesi dan meninggalkannya pada jalur pertumbuhan yang lebih rendah secara permanen.
USMCA saat ini melindungi mayoritas ekspor Kanada dari tarif AS, menjaga tarif efektif tetap rendah di angka 5,1 persen. Dengan tarif terbaru, angkanya diperkirakan naik menjadi 6,9 persen.
Matthew Holmes dari Canadian Chamber of Commerce menilai perang atrisi tidak akan menguntungkan kedua ekonomi. Ia berharap kedua pihak mencari jalan keluar dari kebuntuan ini. "Kanada menunjukkan diri sangat tangguh," ujarnya.