BERITAKINI.CO.ID — Keputusan ini diumumkan langsung oleh CEO KPMG Australia John Sams, yang baru menjabat sejak Juli 2026. Ia menggantikan pimpinan lama yang terseret imbas skandal yang mencuat pada Maret 2026 silam. Saat itu, sejumlah whistleblower menuding staf KPMG menggunakan data rahasia klien untuk memenangkan kontrak audit senilai besar.
"Kami menyadari tantangan yang muncul akibat kegagalan kami sendiri, serta pekerjaan yang harus terus kami lakukan untuk membangun kembali kepercayaan," ujar Sams dalam pernyataan resminya, dikutip Reuters, Senin (24/8).
Kemerosotan Pendapatan dan Kontrak Pemerintah yang Hilang
Skandal tersebut memicu perubahan besar di jajaran pimpinan. Mantan CEO, kepala divisi Audit, Chairman, dan sejumlah partner senior memilih meninggalkan perusahaan. Konsekuensinya terlihat dari kinerja keuangan: pendapatan KPMG Australia turun 1 persen menjadi US$2,257 miliar atau sekitar Rp39,94 triliun (kurs Rp17.698) pada tahun fiskal yang berakhir Juni 2026.
Divisi konsultasi menjadi sektor yang paling terpukul dengan penurunan pendapatan hampir 17 persen. Hilangnya sejumlah kontrak dari pemerintah federal turut memperparah kinerja divisi tersebut. Sebagai bagian dari sanksi, KPMG telah sepakat untuk tidak mengikuti tender pekerjaan baru dari pemerintah hingga 30 September 2026, selama masa peninjauan tata kelola dan etika perusahaan berlangsung.
Empat Divisi Masih Tumbuh di Tengah Tekanan
Di tengah pelemahan, beberapa lini bisnis justru menunjukkan pertumbuhan. Divisi Deal Advisory and Infrastructure tumbuh 3 persen, sementara Tax and Legal serta Audit and Assurance masing-masing mencatat kenaikan 11 persen. Divisi Mid-Market and Private juga tumbuh 6,4 persen, menunjukkan bahwa fundamental di luar konsultasi masih solid.
Selain memangkas karyawan, KPMG akan menyederhanakan struktur organisasi untuk membentuk tim yang lebih terintegrasi dan selaras dengan operasional layanan advisory global. Sams menegaskan perusahaan tetap fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan di tengah kondisi ekonomi yang menekan investasi klien.
"Meski kondisi kemungkinan akan terus berlanjut, kami tetap fokus pada hal-hal yang dapat kami kendalikan," kata Sams.