SURABAYA - Fenomena kejahatan bermodus hubungan asmara atau love scam kian mengkhawatirkan masyarakat di tanah air.
Merujuk pada catatan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK, sepanjang tahun 2025 terdapat 3.494 aduan terkait skema kejahatan ini dengan estimasi kerugian finansial menembus Rp49,198 miliar.
Dalam praktiknya, komplotan pelaku memakai data diri rekayasa, foto menarik, serta intensitas percakapan tinggi guna menciptakan persepsi ikatan emosional kepada korban.Usai kepercayaan terikat, fokus perbincangan perlahan digeser ke sasaran utama, mulai dari ajaran berinvestasi sampai pemerasan berkedok beragam sebab.
Pengalaman hampir terperangkap love scam dialami Antoni, seorang pendengar stasiun Radio Suara Surabaya.Dirinya membeberkan pernah dua kali dikontak oleh perempuan tak dikenal lewat platform Instagram.
Insiden perdana diawali lewat pesan pribadi.Sosok tersebut mengaku berdomisili di Korea Selatan dan bercakap memakai bahasa Inggris.
“Dia tahu profil kami, jadi dia tahu kami suka apa, hobi apa. Makanya omongannya nyambung,” ujar Antoni, Rabu (12/8/2026).
Pola interaksi bertambah intim.Sosok penipu kerap melayangkan sanjungan lalu meminta Antoni berpindah jalur percakapan ke WhatsApp.
Sesudah ikatan terjalin, pelaku mulai membahas sektor bisnis dan memproposisikan Antoni untuk mendalami aset digital cryptocurrency.
Disampaikan Antoni, pada hari ketiga perbincangan, arah pembicaraan mendadak bergeser.Bujukan mendalami mata uang kripto menjadi pertanda bahwa keakraban tersebut menyimpan niat lain.
Antoni lantas menjumpai skema yang identik untuk kedua kalinya.Dalam kesempatan ini, penipu mengatasnamakan diri sebagai wanita lokal.Metodenya hampir tidak berbeda.
Awal mula komunikasi via pesan Instagram, berpindah menuju WhatsApp, lalu disisipi pujian, pengiriman foto masa kecil, rekaman suara, hingga unggahan kegiatan harian seperti jam makan siang. “Kalau kami tidak aware, tidak tahu kalau mereka ini penipu,” kata Antoni.
Menurut penilaiannya, pendekatan sistematis ini membuat calon korban mudah terbuai lantaran pelaku tidak langsung mengekspos iktikad aslinya di awal.Niat jahat baru mengemuka sesudah obrolan terangkai berhari-hari.Antoni pada akhirnya memilih memutus kontak serta memblokir profil penipu tersebut.
“Kalau dia sudah mulai mengajak bisnis atau investasi tertentu, cryptocurrency atau apa, kalau memang kami enggak paham, mending enggak usah. Stop,” ujarnya.
Merespons peristiwa ini, Kanit V Subdit I Ditressiber Polda Jawa Timur Kompol Sodik Efendi sewaktu berbicara di Radio Suara Surabaya pada Rabu (12/8/2026) memaparkan bahwa love scam merupakan tindak pidana siber yang mengutamakan rekayasa psikologis.
Berdasarkan penjelasan Sodik, sindikat kejahatan umumnya menyesuaikan figur rekayasa dengan profil calon sasaran.Bilamana targetnya pria, pelaku memasang foto perempuan berparas menawan.Sebaliknya, bila sasaran wanita, pelaku akan menggunakan profil pria berpenampilan menarik dan meyakinkan.
“Penipuan online itu karakternya beda-beda. Yang seperti tadi disampaikan pendengar, itu adalah penipuan yang menggunakan modus love scam,” kata Sodik dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya.
Dirinya menyebutkan warga yang tengah dibelit persoalan emosional atau mengalami kesepian sangat rentan dijadikan target empuk para pelaku.
Saat keakraban menguat, penipu mulai memainkan psikologi agar kepercayaan korban kian kokoh.Tahapan selanjutnya bisa berbentuk bujukan investasi, pemberian kado, maupun rekayasa skenario pengiriman barang.
Pada salah satu penanganan kasus oleh kepolisian, penipu mula-mula menjanjikan kiriman hadiah kepada korban.Barang itu lantas diklaim dikirim dari mancanegara dan sudah tiba di bandara.
Berikutnya, pihak lain yang berakting sebagai oknum petugas bea cukai atau logistik menghubungi korban.Korban diinformasikan bahwa paket kiriman ditahan lantaran belum melunasi biaya tebusan atau administrasi.
Di titik tersebut, korban yang telanjur percaya pada pelaku pertama biasanya langsung menganggap instruksi itu benar.Korban akhirnya diarahkan untuk mengirimkan sejumlah uang transfer.
Ditegaskan Sodik, sindikat ini kerap membagi peran secara terstruktur.Ada aktor yang bertugas memikat emosional korban, sementara anggota lain menyamar menjadi petugas kargo demi meyakinkan proses transaksi.
Lompatan teknologi turut membuat pergerakan jaringan love scam makin pelik.Sodik menerangkan kepolisian menemukan pemanfaatan aneka instrumen digital untuk melacak serta memprofilkan calon korban.
Penipu memanfaatkan aplikasi seperti WhatsApp Sniper guna mengoleksi nomor target, lalu menganalisis latar belakang profilnya.Elemen penting yang diincar adalah kapasitas finansial calon target.
“Setelah mendapatkan target, mereka analisis. Orang yang menjadi target ini punya duit atau tidak?” ujar Sodik.
Data tersebut, menurut keterangannya, bisa diekstraksi menggunakan fitur peretas atau aplikasi pembaca identitas seperti Getcontact Premium.
Pelaku juga lazim memakai nomor seluler virtual tanpa kartu fisik yang cuma bertumpu pada kode verifikasi OTP.Kondisi ini menyajikan hambatan tersendiri bagi kepolisian dalam melacak identitas fisik pelaku.
Biarpun begitu, tim penyidik tetap mampu menjalankan analisis forensik digital melacak rekam jejak elektronik, mulai dari identitas nomor, alamat IP, hingga muara aliran dana.
Kendati demikian, pengungkapan perkara menjadi jauh lebih kompleks jika jaringan penipu beroperasi dari luar negeri.
Sodik menandaskan bahwa muara akhir dari deretan penipuan ini adalah pengerukan keuntungan materiil.Lantaran itu, penyidik tidak sebatas memburu figur pelaku, melainkan juga melacak lalu lintas uang.
Kendalanya, uang yang didapat pelaku bisa langsung dialihkan atau dikonversi menjadi koin kripto.Perubahan bentuk aset ini menyebabkan proses pembuktian dan audit keuangan menjadi sangat rumit.
“Dari rupiah, mereka lebur di kripto. Itu yang membuat agak rumit. Karena itu perlu analisis yang lebih dalam lagi. Pembuktiannya nanti yang agak sulit,” kata Sodik.
Pada kasus tertentu, polisi berhasil membongkar keterlibatan pihak penampung rekening.Rekening penampung tersebut dipakai untuk menghimpun dan meneruskan aset sebelum dialirkan ke luar negeri.
Namun, perburuan aset dalam bentuk mata uang digital kripto tetap menjadi tantangan besar.
Terkait potensi pengembalian dana korban, Sodik menerangkan peluang pemulihan sangat bergantung pada keberhasilan penyidik menemukan serta melacak aset tersebut.
Dalam perkara lain, polisi mengupayakan pemblokiran melalui perbankan untuk membekukan saldo yang terindikasi hasil kejahatan.Bila dana berhasil disita, uang tersebut berpeluang dikembalikan kepada pihak korban.
“Kalau bisa disita, bisa dipulihkan kepada korban,” ujarnya.
Khusus aset kripto, otoritas wajib berkoordinasi lintas penyedia platform lokal maupun internasional.
Sodik mengingatkan kembali bahwa love scam tidak selalu mengawali aksinya dengan meminta uang secara langsung.Sebaliknya, pelaku berani menginvestasikan waktu untuk memupuk rasa percaya sebelum menggiring korban ke transaksi keuangan.
Oleh sebab itu, segala ajakan bisnis, investasi, pembeliaan aset kripto, penerimaan hadiah, maupun tagihan biaya administrasi patut diwaspadai jika datang dari kenalan baru di dunia maya.
“Kami harap masyarakat selalu berhati-hati apabila menerima sesuatu hal yang tidak dikenal. Baik melalui sosial media yang ujung-ujungnya menjanjikan hadiah, meminta duit. Harapan kami masyarakat jangan mudah tergiur, jangan mudah tertarik dan jangan mudah cepat mendapatkan keuntungan,” pesannya.