Baterai Motor Listrik Cepat Rusak? Ini Penyebab dan Cara Merawatnya

Baterai Motor Listrik Cepat Rusak? Ini Penyebab dan Cara Merawatnya
Ilustrasi pengguna motor listrik.(Sumber:NET)

JAKARTA - Kemajuan teknologi baterai dianggap menjadi salah satu faktor yang menjadikan sepeda motor listrik semakin layak dimanfaatkan sebagai sarana transportasi harian.Di samping menawarkan biaya operasional yang lebih efisien, kendaraan listrik juga dianggap lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM), walaupun masih menghadapi tantangan dalam hal pengelolaan limbah baterai.

Dosen Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Semarang (UNNES), Febrian Arif Budiman, menerangkan bahwa perbedaan paling mendasar antara sepeda motor listrik dan motor konvensional terletak pada bagian sumber tenaga penggeraknya.

Menurutnya, kendaraan listrik menggunakan motor listrik sebagai penggerak yang memperoleh pasokan energi dari baterai.Sementara itu, sepeda motor konvensional memanfaatkan mesin pembakaran internal yang bekerja lewat proses pembakaran campuran bahan bakar minyak serta udara.

Febrian menyampaikan bahwa teknologi baterai kendaraan listrik berkembang sangat pesat, salah satunya ditandai oleh kian luasnya pemanfaatan baterai Lithium Ferro Phosphate (LiFePO4).Jenis baterai ini memiliki kapasitas penyimpanan energi yang besar, ukuran lebih ringkas, serta mendukung proses pengisian daya yang lebih cepat.

Kendati demikian, usia pakai baterai sangat dipengaruhi oleh pola pemakaian dan perawatan.Menurut Febrian, sejumlah kebiasaan yang dapat mempercepat penurunan performa baterai di antaranya memakai alat pengisi daya yang tidak dilengkapi fitur cut-off, membiarkan daya baterai berulang kali merosot hingga 0–10 persen, tidak mengisi daya sampai penuh, mengangkut beban kendaraan melebihi kapasitas sehingga baterai sering mengalami overheat, serta menerobos banjir tanpa melakukan pengecekan di bengkel resmi.

"Umur baterai dipengaruhi dari jam kerja penggunaan baterai, penggunaan charger yang tidak dilengkapi dengan cut-off jika daya sudah penuh, penggunaan daya baterai kendaraan listrik yang terlalu sering mendekati habis atau 0–10 persen, sering melakukan charging kurang dari 100 persen, sering membebani daya baterai yang membuat baterai lebih cepat dan sering overheat, sering menerjang banjir dan tanpa melakukan pengecekan ke bengkel yang ditunjuk," ungkap Febrian , Senin (3/8/2026) lalu.

Sebaliknya, baterai bakal lebih awet jika dirawat dengan tepat.Ia menyarankan pengguna untuk mengisi ulang daya baterai sebelum kapasitasnya turun di bawah 20 persen, melakukan pengisian hingga 100 persen secara berkala, mencegah overheat dengan menyesuaikan beban kendaraan sesuai spesifikasi pabrikan, serta segera memeriksakan kendaraan ke bengkel resmi usai melewati banjir biarpun baterai dinyatakan aman dari genangan.

Menurutnya, perawatan yang tidak tepat dapat memicu berbagai risiko, mulai dari baterai yang gampang panas, distribusi pengisian daya antarsel yang tidak merata, umur baterai yang makin pendek, sampai potensi timbulnya ledakan dan kebakaran pada battery pack.

Di samping itu, Febrian menilai kendaraan roda dua listrik jauh lebih hemat bila dibandingkan dengan sepeda motor konvensional.Biaya listrik guna mengisi daya baterai dinilai jauh lebih murah ketimbang biaya pembelian BBM non-subsidi, utamanya karena sebagian besar sepeda motor keluaran terkini memerlukan BBM dengan nilai oktan minimal RON 92.

Ia pun menilai pemanfaatan motor listrik berpotensi mengurangi pencemaran udara apabila jumlah penggunanya terus meningkat.

"Menurut saya, motor listrik lebih ramah lingkungan, terlebih lagi jika jumlah sepeda motor listrik semakin banyak, sebaliknya kendaraan konvensional semakin berkurang," imbuhnya.

Lebih jauh, Febrian menyarankan masyarakat agar memperhatikan beberapa hal sebelum membeli sepeda motor listrik.

Beberapa di antaranya adalah kontur wilayah tempat kendaraan akan dipakai, jarak tempuh harian guna menentukan kapasitas baterai yang pas, masa garansi baterai, hingga ketersediaan layanan purnajual (after-sales service) dan pusat servis resmi lantaran harga baterai tergolong mahal.

"Selain itu juga minimnya biaya perawatan, kemudian pelayanan dari aftersales yang terjangkau atau di setiap daerah terdapat service center," paparnya.

Sementara itu, alumni Pendidikan Teknik Elektro UNNES, Widya Hapsari, menjelaskan bahwa usia baterai pada dasarnya tidak ditentukan oleh usia kalender, melainkan oleh pola pemakaian serta perawatannya.Menurutnya, usia baterai sangat dipengaruhi oleh frekuensi siklus pengisian dan pengosongan daya.

Kebiasaan memakai baterai hingga kondisi low battery juga dapat mempercepat penurunan kualitas baterai.Widya menambahkan bahwa motor listrik memang tidak mengeluarkan emisi knalpot saat dipakai.Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti kendaraan listrik sepenuhnya bebas dari emisi.Apabila listrik yang dipakai berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, emisi tetap dihasilkan pada proses pembangkitan listrik tersebut.

"Namun, perbedaannya adalah emisi tersebut berada di sumber pembangkitan listrik dan bukan langsung di jalan tempat kendaraan digunakan. Jadi, motor listrik dapat dikatakan lebih ramah lingkungan di titik penggunaan, sementara dampak lingkungannya secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh sumber energi listrik dan pengelolaan baterainya," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan limbah baterai menjadi salah satu tantangan krusial dalam perkembangan kendaraan listrik.Baterai bekas tergolong limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang tidak boleh dibuang secara sembarangan karena mengandung logam berat, bahan kimia, serta elektrolit yang berpotensi mencemari lingkungan dan air tanah.

Oleh karena itu, baterai bekas sebaiknya dikembalikan kepada pihak produsen lewat dealer, bengkel resmi, atau fasilitas pengelolaan limbah yang telah mengantongi izin.

"Pengelolaan limbah baterai motor listrik dapat dilakukan melalui pemanfaatan kembali, perbaikan sel secara parsial, dan daur ulang materialnya. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah baterai dapat menjadi bagian dari sistem ekonomi sirkular," pungkas Widya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index