Waspada 3 Modus Penipuan AI Terbaru yang Bisa Kuras Rekening

Waspada 3 Modus Penipuan AI Terbaru yang Bisa Kuras Rekening
Ilustrasi Penipuan Online.(Sumber:NET)

JAKARTA - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat taktik kejahatan siber kian canggih dan semakin sukar dikenali.Perangkat AI berbiaya murah kini memberikan akses luas untuk merekayasa visual serta audio, sekaligus merancang situs web yang benar-benar tampak asli dan meyakinkan.

Aksi penipuan berbasis AI ini kerap berkamuflase sebagai tayangan iklan 'resmi' di platform media sosial seperti TikTok.Dalam salah satu kesaksian wartawan New York Times, ia sempat menemukan promo sepatu Hoka dengan diskon mencapai 80% di TikTok.

Ketika tautan iklan ditekan, ia langsung diarahkan ke halaman situs yang sangat mirip dengan laman resminya.Namun, rasa curiga baru muncul sewaktu ia memasukkan sepatu pilihannya ke dalam keranjang belanjaan.

Ia lantas memeriksa forum daring Reddit dan mendapati sejumlah korban sudah terjerat oleh laman bodong tersebut.

Pihak Hoka sendiri sejatinya telah menerbitkan maklumat kewaspadaan terkait maraknya situs tiruan yang mencatut nama merek mereka.Penciptaan situs tiruan ini hanyalah satu dari sekian taktik penipuan digital yang bertambah canggih di era pesatnya AI.

Laporan FBI bulan lalu menunjukkan bahwa penjahat siber berhasil menguras uang warga AS hingga hampir US$21 miliar (Rp375 triliun) pada tahun lalu, dengan kerugian sekitar US$893 juta (Rp15 triliun) di antaranya berkaitan langsung dengan AI.

Pada prinsipnya, pemanfaatan AI makin memudahkan para peretas membuat platform yang terkesan resmi.Oleh sebab itu, publik wajib mengubah sudut pandang dalam merespons hal ini agar tidak gampang terjebak hingga menderita kerugian finansial.

"Alih-alih mencari indikator tentang apa yang buruk, sekarang Anda perlu memverifikasi apakah itu baik," kata Mark Beare, manajer umum Malwarebytes, sebuah perusahaan keamanan internet, dikutip dari New York Times, Minggu (2/8/2026).

Maraknya serbuan iklan palsu ini memicu gelombang aduan hukum terhadap perusahaan raksasa media sosial Meta.Bulan lalu, organisasi nirlaba advokasi konsumen Federasi Konsumen Amerika resmi melayangkan pengaduan yang menuduh Meta menyesatkan para pengguna terkait penanganan kejahatan siber.

Berkas pengaduan itu memuat beragam bukti iklan bodong, seperti tawaran perlengkapan bayi hingga promosi ponsel gratis.Pemerintah Santa Clara County di California turut melayangkan gugatan serupa terhadap Meta pada bulan ini.

Guna merespons gelombang tuduhan tersebut, Meta mengklaim sepanjang tahun lalu telah memusnahkan 159 juta iklan penipuan serta memblokir hampir 11 juta akun Facebook dan Instagram yang terhubung dengan jaringan penipu.

Meta turut sesumbar telah memperbesar investasi untuk mengaplikasikan teknologi anyar demi menumpas tindak kejahatan digital.Di sisi lain, juru bicara TikTok menegaskan bahwa platformnya melarang keras segala bentuk aksi penipuan maupun konten menyesatkan dalam materi iklan.

Perwakilan TikTok menambahkan bahwa pada triwulan keempat 2025, sebanyak 97% konten spam yang menyalahi ketentuan telah dibersihkan sebelum sempat dilaporkan oleh pengguna.

Selain mendesain toko daring palsu, para penjahat siber turut mengeksploitasi AI untuk memalsukan identitas orang lain demi menjerat calon mangsa, contohnya menyamar sebagai anggota keluarga.

Di bawah ini adalah jajaran modus kejahatan siber yang paling sering dijumpai pada era AI:

1.Penipuan Video Call

Skema penipuan lewat perpesanan teks maupun panggilan suara memang sudah lama merebak.Masyarakat pun sudah semakin jeli untuk mendeteksinya.Apabila muncul pesan dari kerabat, teman, atau keluarga yang sudah lama tak bersua dengan narasi mencurigakan lalu meminta dana, masyarakat umumnya dapat langsung menyadarinya sebagai aksi penipuan.

Akan tetapi, berkat peranan AI, para penjahat kini mulai merambah layanan panggilan video.Mereka memakai AI untuk mengubah tampilan wajah pada video agar serupa dengan sosok terdekat atau figur yang dikenali korban, lalu mengobrol hingga akhirnya meminta kiriman uang.

"Sangat mudah dan sangat murah untuk melakukan panggilan Zoom secara real-time dengan penggantian seluruh tubuh dan perubahan suara dengan cara yang sepenuhnya realistis," kata Andrew Yoon, seorang peneliti di CivAI, sebuah organisasi nirlaba yang mengajarkan orang-orang tentang kemampuan AI.

2.Selebritas Palsu

Semenjak hadirnya perangkat pembuat video instan seperti Sora ciptaan OpenAI, berbagai platform media sosial diserbu oleh konten rakitan AI.

Video manipulasi yang menampilkan jajaran selebriti Hollywood hingga jajaran eksekutif bisnis kondang beredar luas akibat melimpahnya sampel foto dan video mereka di internet yang mempermudah model AI merancang tiruan presisi.

Beberapa penjahat berusaha memanfaat reputasi para tokoh kenamaan tersebut untuk memasarkan produk rekaan.

Sebagai contoh, video deepfake koki ternama Gordon Ramsay sempat viral di media sosial beberapa tahun belakangan demi mempromosikan pembagian alat masak gratis.

Para korban yang mengira hanya membayar ongkos kirim murah untuk wajan gratis tersebut tanpa sadar telah menyerahkan informasi kartu kredit mereka kepada penjahat.

3.Situs Toko Resmi Palsu

Tayangan iklan yang mengarahkan korban ke situs buatan AI—seperti kasus toko sepatu yang nyaris mengelabui jurnalis New York Times—sangat menjamur di media sosial.Konten iklan tersebut bahkan sanggup disesuaikan secara presisi dengan minat pribadi calon korban.

Hal itu bisa terjadi lantaran pelaku rela merogoh kocek untuk membeli ruang iklan di TikTok maupun Instagram demi memanfaatkan fitur penargetan penonton yang sama seperti milik pemasar profesional, terang Beare dari Malwarebytes.

Para komplotan penjahat berani membakar uang untuk anggaran iklan tersebut karena mereka tidak memiliki komoditas fisik yang perlu diproduksi atau dikirimkan kepada pembeli.Terdapat trik cepat untuk menguji apakah sebuah toko daring merupakan situs tiruan atau bukan.

Langkah termudah yakni melakukan penelusuran Google terhadap alamat domain toko tersebut lalu mencermati ulasan di forum-forum daring, karena besar kemungkinan sudah ada korban yang membagikan pengalaman mereka.

Kunci paling ampuh untuk membentengi diri dari ancaman penipuan digital sebenarnya cukup sederhana.

Jangan mudah tergiur oleh penawaran iklan yang terasa 'terlalu indah untuk kenyataan', atau panggilan video mendadak yang menanyakan kabar lalu berujung meminta bantuan uang.Tetap utamakan kewaspadaan!

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index