Curhat Terakhir Dokter Icha Sebelum Wafat, Menangis Diintimidasi

Curhat Terakhir Dokter Icha Sebelum Wafat, Menangis Diintimidasi
Nur Azizah, orangtua dari dokter Icha. (FOTO:NET)

KUPANG - Suasana duka hingga kini masih menyelimuti rumah duka dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha di Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ratusan umat Katolik memadati kediaman dokter Icha untuk melaksanakan doa malam ketiga pada Rabu, 1 Juni 2026 malam.

Kepergian dokter Icha menarik perhatian luas dari lapisan masyarakat.

Kasus yang menimpa tenaga kesehatan tersebut menjadi sorotan tajam setelah muncul dugaan tindakan intimidasi yang dilakukan oleh tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), yakni Veronika Lake dari PDI Perjuangan (PDIP), Teres Lasaka dari Partai Golkar, dan Nobertu Bani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Seusai doa arwah dilaksanakan, ibunda korban, Nur Azizah, menceritakan kembali obrolan terakhir dengan putrinya mengenai peristiwa yang disebut sebagai bentuk intimidasi tersebut.

Dengan suara yang bergetar serta tak sanggup menahan tetesan air mata, ia mengaku masih mengingat dengan jelas curahan hati anaknya tatkala menghubungi dirinya lewat sambungan telepon.

"Saya ingat anak saya menelepon, menangis, menjerit, mengatakan 'Mama, saat ini saya sedang diintimidasi oleh anggota dewan. Saat ini saya capai loh, Mama," katanya.

Dalam sambungan telepon tersebut pula, dokter Icha sempat berujar bahwa dirinya telah bekerja sesuai dengan SOP tenaga kesehatan.

"Saya sudah bekerja sesuai SOP, bahkan saya paham SOP dan saya langsung konsultasi dengan dokter ahli bisa ular yang ada di Indonesia satu-satunya, yaitu dokter Maharani, tetapi ternyata beliau-beliau mungkin merasa lebih hebat. Seharusnya SOP itu tidak dipegang sembarang orang. Ini SOP pelayanan kesehatan yang berhak memegang adalah yang menjalankan teknisnya, tenaga kesehatan, bukan beliau-beliau yang berkuasa," sambung Nur Azizah menirukan suara anaknya.

Nur Azizah menyampaikan bahwa cerita tersebut menjadi kenangan yang akan terus membekas kuat dalam ingatannya.

Menurut dirinya, sang putri sudah berupaya keras menjalankan kewajiban sebagai tenaga kesehatan sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP) yang berlaku serta melakukan konsultasi dengan dokter yang mempunyai kompetensi di bidang penanganan bisa ular.

Suasana haru sangat menyelimuti rumah duka tatkala pihak keluarga mengenang kembali dedikasi almarhumah selama mengemban profesinya sebagai seorang dokter.

Ia memohon supaya dugaan intimidasi terhadap tenaga kesehatan tersebut dapat diusut secara tuntas dan seadil-adilnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index