Telkom

Telkom Perkuat Infranexia, Valuasi Saham TLKM Berpotensi Meningkat

Telkom Perkuat Infranexia, Valuasi Saham TLKM Berpotensi Meningkat
Telkom Perkuat Infranexia, Valuasi Saham TLKM Berpotensi Meningkat

JAKARTA - Di tengah upaya memperkuat infrastruktur digital nasional, langkah strategis PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terhadap pengelolaan aset serat optik menjadi perhatian pelaku pasar.

Bukan sekadar konsolidasi aset, rencana ini dinilai berpotensi mengubah peta nilai perusahaan sekaligus membuka peluang peningkatan valuasi saham ke depan.

Arah Strategis Konsolidasi Aset Serat Optik

Rencana besar tengah disiapkan oleh PT Telkom Indonesia Tbk dalam memperkuat basis infrastruktur melalui entitas Infranexia atau PT Telkom Infrastruktur Indonesia. 

Langkah ini berkaitan dengan konsolidasi aset serat optik yang dikabarkan melibatkan jaringan milik PLN Icon Plus.

Telkom disebut menerima arahan dari Danantara untuk mengonsolidasikan aset tersebut. Tujuannya tidak hanya untuk merapikan infrastruktur BUMN, tetapi juga meningkatkan daya tarik investasi Infranexia, terutama setelah dilakukan penyesuaian laporan atau restatement terhadap aset serat optik.

“Kami memperkirakan bahwa penambahan aset serat optik milik PLN akan membantu memulihkan skala bisnis serta memperkuat potensi monetisasi, sehingga lebih menarik bagi investor strategis,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan.

Langkah ini mencerminkan strategi jangka panjang Telkom dalam memperkuat fondasi bisnis digital, sekaligus memaksimalkan nilai aset infrastruktur yang dimiliki.

Potensi Sinergi Dengan Jaringan PLN Icon Plus

Sebagai operator jaringan serat optik yang luas, PLN Icon Plus memiliki infrastruktur dengan panjang lebih dari 400 ribu kilometer yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Jaringan ini melayani sekitar 1,2 juta home connected dan 2,7 juta home passes, serta mencakup segmen korporasi, pemerintah, hingga kebutuhan internal PLN.

Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan telekomunikasi PLN Icon Plus pada 2025 diperkirakan mencapai Rp 5,4 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 2,6 triliun. Angka ini menunjukkan potensi kontribusi signifikan jika aset tersebut dikonsolidasikan ke dalam Infranexia.

Dengan asumsi integrasi berjalan optimal, tambahan EBITDA dari PLN Icon Plus diperkirakan mencapai sekitar 26% terhadap Infranexia milik Telkom. Hal ini berpotensi memperkuat skala bisnis serta meningkatkan efisiensi operasional melalui sinergi jaringan.

Selain itu, konsolidasi ini juga dapat memperluas jangkauan layanan Telkom, memperkuat posisi di pasar broadband, serta meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat.

Proyeksi Kinerja Dan Dampak Terhadap Infranexia

Pada tahap awal, diskusi lebih difokuskan pada konsolidasi aset dibandingkan akuisisi perusahaan secara langsung. Struktur konsolidasi menjadi faktor penting yang akan menentukan dampak akhir terhadap kinerja keuangan.

“Namun, dengan asumsi aset serat optik PLN Icon Plus dimasukkan dan sepenuhnya dikonsolidasikan ke dalam Infranexia, kami memperkirakan EBITDA proforma dapat mencapai Rp 12,7 triliun,” ungkap Kafi.

Proyeksi tersebut mencerminkan potensi lonjakan signifikan pada skala bisnis Infranexia. Dengan basis aset yang lebih besar dan kapasitas jaringan yang meningkat, entitas ini diharapkan menjadi lebih menarik bagi investor strategis.

Meski demikian, rencana ini juga berpotensi menggeser waktu masuknya mitra strategis menjadi tahun depan. Kendati begitu, komunikasi dengan calon investor diperkirakan tetap berjalan seiring penguatan fundamental aset.

Langkah ini menunjukkan bahwa Telkom tidak hanya fokus pada ekspansi, tetapi juga pada optimalisasi nilai sebelum membuka peluang investasi eksternal.

Valuasi Saham Dan Target Harga TLKM

Dari perspektif pasar modal, rencana konsolidasi ini dinilai membawa sentimen positif terhadap saham TLKM. BRI Danareksa Sekuritas melihat adanya potensi kenaikan nilai wajar (fair value) saham seiring penguatan Infranexia.

Dengan asumsi Telkom melepas sekitar 20–30% saham Infranexia kepada investor strategis pada valuasi EV/EBITDA sebesar 9–12 kali, nilai wajar saham TLKM diperkirakan berada di kisaran Rp 4.100 hingga Rp 4.500.

Sementara itu, rekomendasi terhadap saham TLKM tetap berada pada level buy, dengan target harga dipatok sebesar Rp 4.000. Penilaian ini didasarkan pada kombinasi metode valuasi standar deviasi (SD) +1 pada EV/EBITDA sebesar 5,8 kali serta pendekatan discounted cash flow (DCF).

Prospek ini menunjukkan bahwa strategi konsolidasi tidak hanya berdampak pada operasional, tetapi juga berpotensi meningkatkan persepsi pasar terhadap nilai perusahaan.

Namun demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah potensi penyesuaian nilai aset serat optik yang lebih besar dari perkiraan atau kemungkinan terjadinya penurunan nilai (impairment).

Dengan berbagai faktor tersebut, langkah Telkom dalam memperkuat Infranexia melalui konsolidasi aset menjadi salah satu katalis penting yang dapat memengaruhi arah kinerja dan valuasi saham TLKM ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index