JAKARTA - Di tengah sorotan terhadap besarnya anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini tidak semata menjadi beban fiskal.
Lebih dari itu, program tersebut dinilai mampu menciptakan efek berganda yang turut mendorong penerimaan negara serta menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa meskipun MBG menyerap anggaran jumbo, ada kontribusi nyata terhadap penerimaan pajak.
Namun, ia menekankan bahwa manfaat utama program ini justru terletak pada dampak ekonomi yang lebih luas, bukan sekadar angka penerimaan pajak semata.
Program MBG sendiri menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan alokasi anggaran yang besar, kebijakan ini diharapkan mampu memberikan efek langsung maupun tidak langsung terhadap perekonomian nasional.
Kontribusi Pajak Dari Realisasi Anggaran Program
Dalam pemaparannya, Purbaya menyebut bahwa penerimaan pajak dari pelaksanaan program MBG diperkirakan berada di kisaran 3% hingga 5% dari total anggaran yang direalisasikan. Angka ini menjadi indikasi bahwa belanja pemerintah tetap memberikan umpan balik terhadap kas negara.
Dengan asumsi total anggaran mencapai Rp 335 triliun, potensi penerimaan pajak diperkirakan berada di rentang Rp 10,05 triliun hingga Rp 16,75 triliun. Nilai tersebut menunjukkan adanya kontribusi fiskal yang cukup signifikan dari program berskala besar ini.
"Itu sekitar 3% hingga 5% dari total anggaran direalisasikan masuk ke pajak," ujar Purbaya,
Meski demikian, ia menegaskan bahwa angka tersebut bukanlah tujuan utama dari pelaksanaan program MBG. Pemerintah justru lebih menitikberatkan pada manfaat ekonomi yang muncul dari perputaran anggaran di masyarakat.
Efek Berganda Terhadap Aktivitas Ekonomi Nasional
Lebih lanjut, Purbaya menilai bahwa dampak terbesar dari program MBG berasal dari efek multiplier atau efek berganda yang ditimbulkan setelah anggaran dibelanjakan. Perputaran uang di berbagai sektor dinilai mampu mendorong aktivitas ekonomi secara lebih luas.
Ketika anggaran digunakan untuk pengadaan bahan pangan, distribusi, hingga operasional program, berbagai pelaku usaha ikut merasakan manfaatnya. Mulai dari petani, distributor, hingga pelaku usaha kecil di daerah, semuanya terlibat dalam rantai ekonomi yang tercipta.
Dampak ini dinilai jauh lebih besar dibandingkan sekadar penerimaan pajak langsung. Aktivitas ekonomi yang meningkat akan menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan, sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.
Dengan demikian, program MBG tidak hanya berfungsi sebagai kebijakan sosial, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang mampu menggerakkan berbagai sektor secara simultan.
Dorongan Penciptaan Lapangan Kerja Di Daerah
Selain meningkatkan aktivitas ekonomi, implementasi MBG juga disebut mampu mendorong penciptaan lapangan kerja, terutama di tingkat daerah. Kebutuhan tenaga kerja dalam pelaksanaan program ini membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung.
Mulai dari proses produksi, pengolahan, hingga distribusi makanan bergizi, semua membutuhkan sumber daya manusia yang tidak sedikit. Hal ini memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja, khususnya di wilayah yang sebelumnya memiliki keterbatasan peluang kerja.
Efek ini dinilai berkontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, daya beli pun ikut terdorong, sehingga menciptakan siklus ekonomi yang lebih sehat di daerah.
Purbaya juga menegaskan bahwa stabilitas ekonomi menjadi salah satu nilai penting dari kebijakan ini, terutama di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Program seperti MBG dinilai mampu menjadi penopang ekonomi domestik agar tetap kuat menghadapi tekanan eksternal.
Evaluasi Dan Perbaikan Untuk Keberlanjutan Program
Meski memberikan dampak positif, pemerintah tetap membuka ruang evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG. Purbaya menyebut bahwa ke depan, mekanisme pelaksanaan kebijakan ini masih dapat disempurnakan agar manfaatnya semakin optimal.
Ia juga menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait kondisi ekonomi dengan menegaskan bahwa program seperti MBG justru dapat membantu menjaga ketahanan ekonomi nasional. Dengan desain yang tepat, kebijakan ini diyakini mampu memberikan manfaat berkelanjutan.
“Dampaknya cukup baik, hanya saja ke depan mungkin kita perbaiki lagi cara menjalankan kebijakan itu,” pungkasnya.
Evaluasi yang berkelanjutan menjadi penting agar program tidak hanya efektif dalam jangka pendek, tetapi juga mampu memberikan dampak jangka panjang. Perbaikan dalam tata kelola, distribusi, serta efisiensi anggaran akan menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan program ini.
Dengan kombinasi antara kontribusi pajak, peningkatan aktivitas ekonomi, serta penciptaan lapangan kerja, program MBG menunjukkan potensi besar sebagai salah satu pilar penguatan ekonomi nasional.
Pemerintah pun optimistis bahwa dengan penyempurnaan yang tepat, manfaat program ini akan semakin dirasakan oleh masyarakat luas.