Warga RW 07 Joglo Jakbar Olah Sampah Mandiri Jadi Kompos dan Maggot

Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:17:43 WIB
Ilustrasi sampah rumah tangga yang berada di RW 07 Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat.(Sumber:NET)

JAKARTA - Sampah rumah tangga umumnya berakhir di tempat pembuangan.Namun, warga RW 07, Kelurahan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, memilih mengolah sampah dari sumbernya.

Sejak 2019, warga setempat secara mandiri menginisiasi pengelolaan sampah rumah tangga.Kini, mereka mampu mengolah sampah yang dikumpulkan dari lingkungan sendiri.

Ketua RW 07 Kelurahan Joglo, Eko Gunoto, mengatakan perjalanan tersebut tidak langsung berjalan mulus.Butuh waktu bertahun-tahun untuk membiasakan warga memilah dan mengolah sampah dari rumah.

"Pengolahan sampah ini sebetulnya sudah kami laksanakan sejak tahun 2019. Sebelum ada program dari pemerintah, kami sudah menginisiasi program pengolahan sampah ini dari awal," kata Eko, Selasa (11/8/2026).

Menurut Eko, perjalanan selama sekitar tujuh tahun tersebut diwarnai berbagai kendala.Namun, warga perlahan mulai memahami pentingnya pengelolaan sampah dari sumbernya.

"Memang itu tidak mudah. Kendalanya memang banyak, tapi bersyukur warga diajak pelan-pelan akhirnya mau, sampai akhirnya kami berada di titik ini. Sekarang kami sudah mengolah sampah 100 persen dari rumah," ujarnya.

Meski telah mampu mengolah sampah dari rumah, Eko mengatakan capaian tersebut bukan berarti persoalan selesai.Konsistensi warga menjadi kunci agar sistem pengelolaan sampah tetap berjalan secara berkelanjutan.

"Kalau program yang berkelanjutan itu kan tidak berhenti di satu titik saja. Dari waktu ke waktu pasti ada permasalahan," tuturnya.

Dalam sistem tersebut, warga terlebih dahulu memilah sampah rumah tangga.Sampah organik kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Sebagian sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sebagian lainnya dimanfaatkan sebagai pakan maggot.

Maggot yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mendukung kebutuhan peternakan warga, seperti pakan ikan dan ayam.

"Kalau skalanya besar bisa dijual, tapi karena kami skalanya komunal di tingkat RW, jadi hanya kami gunakan untuk pakan ternak warga, seperti pakan ikan atau ayam," jelas Eko.

Meski berorientasi pada kebutuhan warga, sebagian kompos dan maggot juga dijual.Namun, Eko menegaskan, penjualan tersebut bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan.

"Memang ada sebagian yang dijual, termasuk kompos juga, tapi itu tujuannya untuk membiayai biaya produksi, karena prosesnya cukup memakan biaya," katanya.

Pengolahan sampah organik hingga menjadi kompos membutuhkan waktu cukup panjang.Dari sampah masuk hingga siap dikemas, prosesnya bisa memakan waktu sekitar satu setengah bulan.

Eko menjelaskan, sampah yang masuk terlebih dahulu menjalani proses pengendapan dalam beberapa tahap.

"Kurang lebih sekitar 1,5 bulan. Mulai dari masuk, sampah diendapkan dulu per dua minggu, lalu setelah 1,5 bulan mulai dikeringkan," ungkapnya.

Setelah melalui proses tersebut, sampah dijemur hingga kering.Material yang telah kering kemudian masuk ke proses penggilingan sebelum akhirnya dikemas.

"Setelah dikeringkan ada proses penjemuran dan penggilingan lagi. Kalau sudah siap baru masuk proses packing," sambungnya.

Untuk saat ini, kompos yang dihasilkan belum menjadi bisnis utama warga.Pengelolaan masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan sekitar.

"Sebenarnya bisa dijual, tapi sampai hari ini orientasi kami memang tidak untuk jualan," kata Eko.

Terkini