BAKTI Akselerasi Jaringan Digital di Wilayah Perbatasan 3T

Jumat, 12 Juni 2026 | 16:03:15 WIB
Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi Darien Aldiano (FOTO: NET)

MARATUA - Pihak berwenang negara mengubah konsep pembangunan di wilayah perbatasan yang awalnya hanya menjadi benteng pertahanan kedaulatan kini bertransformasi menjadi gerbang utama penyambung masyarakat pedalaman dengan dunia luar.

Demi mendukung perubahan besar ini, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mempercepat perluasan jaringan internet di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadilah Mathar, mengungkapkan bahwa pengadaan sarana telekomunikasi di wilayah perbatasan saat ini tidak melulu soal mempertahankan teritori negara, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan taraf hidup warga.

"Dari titik kedaulatan, beranjak menjadi kedaulatan dan ekonomi serta kesejahteraan. Wilayah terluar atau perbatasan bukan lagi sekadar garis kedaulatan melainkan beranda depan bangsa yang menghubungkan ekonomi lokal ke kawasan nasional atau internasional," ujar Fadilah saat memberikan paparan kepada sejumlah jurnalis dalam kunjungan media ke Berau, Kalimantan Timur, Selasa (10/6) malam.

Menurut Fadilah, pada masa-masa awal wilayah perbatasan kerap kali dipandang sebagai area halaman belakang semata.

Saat memasuki tahun 2016, Fadilah masih sering mendengar kisah masyarakat di beranda negara seperti Nunukan atau Atambua yang malah menangkap sinyal roaming lebih kuat dari Malaysia atau Timor Leste dibandingkan dengan sinyal domestik sendiri.

"Karena pada saat itu, orientasi kami hanya menjaga kedaulatan secara fisik di lokasi-lokasi terluar dan perbatasan Indonesia. Kemudian itu berubah, sekarang kami sudah masuk ke paradigma baru yang menjadikan perbatasan sekaligus sebagai beranda ekonomi," lanjutnya.

Fadilah menjelaskan bahwa BAKTI mengemban misi khusus untuk menyediakan akses komunikasi dan internet di kawasan yang dianggap tidak menguntungkan secara bisnis oleh operator swasta.

Oleh karena itu, fokus pembangunan diarahkan pada wilayah 3T yang selama ini terhambat oleh keadaan geografis yang menantang dan keterbatasan infrastruktur.

Hingga saat ini, BAKTI telah mengoperasikan lebih dari 31 ribu titik koneksi internet di berbagai wilayah Indonesia, meliputi lembaga pendidikan, puskesmas, kantor desa, hingga pusat layanan publik lainnya.

Di samping itu, ribuan menara BTS 4G terus dibangun untuk menjangkau wilayah pelosok yang belum mendapatkan fasilitas komunikasi yang layak.

Salah satu terobosan besar dalam pemerataan akses ini adalah pemanfaatan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1).

Penggunaan satelit multifungsi tersebut membuat jangkauan internet mampu menembus wilayah terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan kabel atau jalur darat.

Terkini