JAKARTA - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa luapan air limbah di kawasan pemukiman dapat meningkatkan risiko seseorang terkena infeksi bakteri.
Hal ini termasuk jenis bakteri yang kebal terhadap antibiotik atau resisten dari berbagai jenis obat, sehingga penyakit yang muncul menjadi lebih sulit disembuhkan.
Penelitian yang disampaikan dalam pertemuan ASM Microbe 2026 di Washington, DC ini menekankan pentingnya investasi untuk memodernisasi infrastruktur air dan sanitasi.
Menurut penjelasan promotor utama penelitian tersebut, Nick An, penyediaan dana untuk memperkuat sistem jaringan air dan sanitasi sangat penting dilakukan guna melindungi kesehatan masyarakat dari risiko yang terus meningkat ini.
"Hal ini terjadi ketika air limbah yang tidak diolah masuk ke rumah atau lingkungan melalui pipa yang rusak, tersumbat, atau kelebihan beban," tutur kandidat PhD di Departemen Kesehatan Global, Lingkungan, dan Kerja di Sekolah Kesehatan Masyarakat di Universitas Maryland, College Park ini, dilansir dari Phys, Sabtu (6/6/2026).
Dalam penelitian ini, tim ilmuwan mengumpulkan sebanyak 107 sampel dari 86 rumah di Maryland selama periode Oktober 2023 hingga Juni 2025.
Mereka memeriksa sampel-sampel itu untuk mendeteksi keberadaan bakteri Enterococci yang biasanya menjadi indikator adanya kontaminasi kotoran.
Selanjutnya, mereka menguji apakah berbagai jenis antibiotik masih bekerja dengan baik atau tidak untuk mengatasi bakteri ini.
Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan, hampir setengah atau 46 persen dari rumah yang diperiksa terbukti memiliki kandungan Enterococci.
Selain itu, sebanyak 21 persen rumah tercatat mengandung bakteri E. faecalis dan sekitar 27 persen mengandung E. faecium, yaitu jenis Enterococci yang dapat menyebabkan infeksi pada orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Bahkan, jumlah tempat tinggal yang tercemar limbah atau air yang membawa Enterococci dalam waktu satu bulan terakhir ditemukan lebih banyak dibandingkan tempat tinggal yang bersih dari kejadian serupa baru-baru ini.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa waktu terjadinya peristiwa kemungkinan besar memiliki peran penting dalam tingkat paparan bakteri Enterococci.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa keberadaan bakteri Enterococci yang kebal terhadap obat antibiotik ditemukan pada lebih dari sepertiga jumlah rumah.
Lebih dari 1 di antara 10 rumah terbukti memiliki kandungan Enterococci yang telah resisten terhadap berbagai jenis obat-obatan.
Bakteri jenis ini tercatat mampu bertahan dari tiga atau lebih jenis obat antibiotik.
Saat bakteri berubah menjadi kebal dari beberapa jenis antibiotik, maka penyakit infeksi yang ditimbulkan akan semakin sulit untuk diobati karena pilihan penyembuhan yang efektif menjadi semakin berkurang.
Kawasan perumahan yang mengalami kejadian pencemaran air limbah atau air bersih baru-baru ini ditemukan memiliki tingkat bakteri kebal obat 3 kali lipat lebih banyak jika dibandingkan dengan rumah-rumah yang bersih dari kejadian serupa baru-baru ini.
Meski demikian, hasil akhir penelitian belum bisa dipastikan secara mutlak apakah perbedaan itu disebabkan oleh faktor kebetulan saja, mengingat jumlah sampel penelitian yang tergolong sedikit.
Penelitian ini menunjukkan bahwa luapan air limbah serta bencana banjir dapat membawa bakteri yang resisten terhadap antibiotik ke dalam lingkungan rumah.
Fenomena itu terjadi seiring dengan semakin tingginya intensitas cuaca ekstrem serta bertambahnya usia pakai sarana saluran pembuangan, yang membuat lebih banyak rumah tangga berisiko terpapar mikroorganisme penyebab penyakit tersebut.
Tim peneliti memiliki rencana untuk mengumpulkan sampel tambahan dari rumah-rumah yang terkena dampak luapan air limbah serta bencana banjir selama musim panas, sekaligus memeriksa sampel tersebut untuk mendeteksi bakteri yang menjadi target.
"Kami juga berencana untuk membagikan temuan kami di acara-acara komunitas di lingkungan tempat kami bekerja dan secara lebih luas di komunitas-communitas Maryland yang terdampak luapan air limbah," tutur An.
Penelitian berbeda yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada awal tahun 2026 menunjukkan bahwa air limbah dari fasilitas rumah sakit yang mengalir melewati daerah perkotaan di India ikut memicu bakteri patogen berubah menjadi kebal pada antibiotik standar.
Sisa-sisa kandungan antibiotik di dalam saluran pembuangan serta selokan secara nyata ikut 'melatih' bakteri untuk melawan pengobatan medis, sehingga meningkatkan risiko obat-obatan yang sering digunakan akan kehilangan kekuatannya.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa fenomena resistensi terhadap antibiotik saat ini tidak hanya terisolasi di area rumah sakit saja, melainkan dapat menyebar melalui jaringan pembuangan limbah kota hingga sampai ke sungai.
Sisa antibiotik yang mengalir ke sistem drainase — baik yang berasal dari rumah sakit, kegiatan rumah tangga, maupun sektor lainnya — memberikan ruang bagi bakteri untuk berkembang biak serta saling memindahkan sifat resistensi terhadap obat.
Sistem drainase yang terbuka, saluran pembuangan limbah di daerah pinggiran kota, serta air limbah rumah sakit yang tidak diolah terlebih dahulu sering kali dialirkan secara langsung ke sungai, yang akhirnya memicu risiko kesehatan bagi warga yang tinggal di daerah hilir.
Beberapa jenis antibiotik, termasuk amoksisilin, sempat ditemukan di dalam air limbah dengan tingkat konsentrasi yang cukup pekat untuk memicu proses penggandaan gen di antara bakteri, sehingga membuka peluang untuk saling menurunkan sifat kekebalan obat satu sama lain.
“Kami melihat sirkulasi aktif antara air limbah dan rumah sakit. Air limbah berfungsi sebagai reservoir untuk kemunculan dan penyebaran patogen XDR (patogen yang resisten terhadap banyak obat)," ujar penulis senior studi ini dan ahli mikrobiologi di Translational Health Science and Technology Institute, Bhabatosh Das, dilansir dari Down to Earth.