Langkah Menghadapi Pasangan yang Sering Menyalahkan Versi Psikolog

Langkah Menghadapi Pasangan yang Sering Menyalahkan Versi Psikolog
Ilustrasi Pasangan Selalu yang Menyalahkan.(Sumber:NET)

JAKARTA - Pernahkah setiap ada masalah dalam hubungan, entah mengapa pada akhirnya kamu yang diposisikan salah? Kerap disalahkan saat terlambat maupun ketika salah memesan makanan. Bahkan di saat permasalahan tersebut sejatinya bukan sepenuhnya akibat perbuatanmu, kamu tetap dituntut untuk bertanggung jawab.

Bila pola seperti ini terus berulang, dinamika hubungan jelas terasa sangat menguras energi. Apalagi niat awal hanya ingin memaparkan kondisi sebenarnya, tetapi dialog justru berubah menjadi adu argumen mengenai pihak yang paling bersalah.

Seorang ahli psikologi klinis mengulas pola tersebut. Menurut pandangannya, terdapat individu yang terbiasa menggeser kesalahan kepada orang lain lantaran sulit menerima kenyataan bahwa dirinya pun sanggup berbuat keliru.

Beberapa orang dapat merasa sangat rentan tatkala harus mengakui kekeliruan. Alih-alih mengemban tanggung jawab, mereka justru mencari sosok lain yang bisa dijadikan dalang permasalahan.

Pasangan umumnya menjadi sasaran lantaran merupakan sosok terdekat. Masalahnya, tatkala tudingan itu disanggah, pihak yang terbiasa mengalihkan kesalahan dapat merasa tengah diintimidasi. Implikasinya, percakapan yang semula sekadar membahas satu persoalan dapat merembet ke mana-mana. Sikap saling membela diri pada akhirnya membuat pertikaian kian berlarut-larut.

Sangat manusiawi apabila kamu berniat membela diri tatkala dituduh melakukan hal yang bukan kekeliruanmu. Namun terus memperdebatkan pihak yang salah belum tentu membawa hubungan menuju titik terang.

Ia memberikan gambaran mengenai pasangan yang menyiapkan santapan malam, tetapi hidangan tersebut malah hangus. Pada kondisi demikian, keduanya dapat saja sibuk memperdebatkan sosok yang menyebabkan masakan gagal. Padahal realitanya hidangan sudah terlanjur hangus dan mereka tetap wajib memikirkan santapan malam. Sehingga memperpanjang perdebatan mengenai pemicunya belum tentu memberi faedah.

Pendekatan yang disarankan dinamakan redirection, yakni menggeser haluan pembicaraan dari mencari pihak yang salah menjadi mencari jalan keluar.

Sebagai contoh tatkala makanan sudah hangus, daripada membalas tuduhan dengan sanggahan baru, pasangan dapat menyampaikan, “Oke, kami makan di luar saja malam ini. Besok kamu bisa coba masak lagi kalau mau.”

Melalui cara ini, persoalan tetap diakui tanpa membuat percakapan berubah menjadi ajang kompetisi untuk menentukan pihak yang paling bersalah. Pasangan juga dapat membantu merapikan oven seusai makan.

Fokusnya bukan lagi mencari pemenang maupun pihak yang kalah, melainkan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama. Kebiasaan saling menyalahkan dapat membuat relasi terasa bak perlombaan. Satu orang berupaya membuktikan dirinya benar, sedangkan pihak lainnya ditempatkan sebagai muara masalah.

Pola semacam ini justru sanggup memicu amarah serta rasa jengkel. Sebaliknya, tatkala pasangan mengalihkan perhatian ke tujuan bersama, pertikaian sanggup bertransformasi menjadi bentuk kerja sama.

Kendati demikian, redirection bukan berarti kamu wajib menerima seluruh tudingan atau senantiasa menjadi pihak yang mengalah. Perubahan pada sosok yang sulit mengakui kekeliruan memerlukan proses serta ikhtiar. Bagi individu yang merasa amat berat mengakui kesalahan, psikoterapi dapat membantu memahami rasa takut terlihat tidak sempurna serta kerentanan yang bersarang di balik kebiasaan menyalahkan orang lain.

Maka saat pasangan kembali menyalahkanmu, kamu tidak harus selalu masuk ke mode membuktikan siapa yang benar. Dalam kondisi tertentu, mengubah pertanyaan dari "Siapa yang salah?" menjadi "Sekarang kami bisa melakukan apa?" dapat menjadi pijakan yang jauh lebih produktif untuk meredam konflik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index