Venezuela Pertahankan Kedaulatan dalam Kesepakatan Minyak 25 Tahun dengan AS

Venezuela Pertahankan Kedaulatan dalam Kesepakatan Minyak 25 Tahun dengan AS

BERITAKINI.CO.ID — Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menyatakan negaranya masih memegang kedaulatan penuh atas kekayaan alamnya. Pernyataan itu disampaikan untuk merespons klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengumumkan keberhasilan mengamankan kendali mayoritas atas 65 miliar barel cadangan minyak terbukti di Venezuela.

Angka Kunci dalam Kesepakatan 25 Tahun

Rodriguez merinci perjanjian yang negosiasinya berlangsung berminggu-minggu itu akan berlaku selama 25 tahun. Proyek ini membayangkan pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan target produksi awal 1,5 juta barel per hari.

Rencana yang lebih luas juga mencakup delapan blok minyak baru sebagai bagian dari perluasan sektor energi. Berdasarkan kesepakatan tersebut, 19 dolar AS dari setiap barel minyak yang diproduksi dan dijual ke Amerika Serikat akan mengalir ke Caracas.

Pengaturan itu dapat bernilai hingga 209 miliar dolar AS per tahun bagi Venezuela, tergantung pada pergerakan harga minyak dunia.

Kedaulatan vs Kendali Asing

Pernyataan Rodriguez muncul setelah Trump mengumumkan langkah tersebut melalui akun media sosial Truth Social pada Jumat (28/8) waktu setempat. Dalam unggahan yang disebutnya sebagai "BREAKING NEWS", Trump menyebut keputusan itu sebagai "kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia".

"Atas arahan saya, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth -- yang bekerja sama erat dengan Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodriguez, yang sangat dihormati, dan melalui kemitraan dengan sektor swasta, telah berhasil mengamankan kendali mayoritas AS atas lebih dari 65 MILIAR BAREL cadangan minyak terbukti di Venezuela, tanpa membebani biaya sepeser pun bagi para pembayar pajak Amerika," demikian klaim Trump.

Sementara itu, Rodriguez menegaskan Venezuela akan tetap memiliki sumber daya alamnya. "Sambil memanfaatkan modal, teknologi, dan keahlian operasional untuk mendukung pemulihan industri strategis yang telah sangat terpengaruh oleh sanksi," katanya dalam pidato yang dilansir Al-Jazeera, Minggu (30/8/2026).

Latar Gelap di Balik Meja Perundingan

Perjanjian ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik yang melatarbelakanginya. Venezuela berada di bawah tekanan hebat sejak Washington menggulingkan dan menangkap pemimpin lama negara itu, Nicolas Maduro, dalam operasi militer pada Januari lalu.

Setelah operasi itu, AS mengizinkan Rodriguez yang ketika itu menjabat Wakil Presiden untuk tetap memimpin sebagai pemimpin sementara. Syaratnya, ia bersedia mengikuti kebijakan Washington.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut kesepakatan tersebut sebagai kemenangan bagi kedua negara. Bagi Venezuela, Rubio menjanjikan investasi swasta senilai hampir 100 miliar dolar AS untuk Caracas.

'Kemenangan' yang Digantung pada Dunia Nyata

Trump menyatakan keinginannya mengamankan minyak Venezuela sejak lama. Ia mengklaim transaksi ini akan melipatgandakan cadangan minyak AS lebih dari dua kali lipat dan menurunkan harga bahan bakar di dalam negeri.

Rincian teknis kesepakatan, termasuk daftar perusahaan yang akan mendapatkan hak eksplorasi, belum diungkap ke publik. Para pejabat Venezuela disebut bersiap menandatangani perjanjian ini pekan depan.

Pertanyaan besar yang menggantung: apakah aliran modal 100 miliar dolar AS yang dijanjikan benar-benar akan tiba, atau sekadar retorika politik dari kedua pemimpin yang sama-sama membutuhkan pencapaian di tengah tekanan domestik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index