Kenny Roberts: Marquez Belum Nyaman dengan Ducati, Butuh Motor Khusus

Kenny Roberts: Marquez Belum Nyaman dengan Ducati, Butuh Motor Khusus

BERITAKINI.CO.ID — Tiga kali juara dunia 500cc, Kenny Roberts, angkat bicara soal performa Marc Marquez di atas Ducati. Penilaian ini muncul bukan tanpa dasar—Roberts mengikuti karier Marquez sejak debutnya di MotoGP dan melihat perbedaan signifikan antara cara Marquez mengendarai Honda di era awal kariernya dibandingkan saat ini.

Dalam wawancara dengan GPOne, Senin (24/8/2026), Roberts menyebut masalah utama bukan terletak pada kemampuan teknis Ducati, melainkan pada filosofi pengembangan motor yang tidak mengakomodasi gaya berkendara sang juara dunia delapan kali itu.

Gaya Agresif Marquez vs Karakter Ducati

"Saya suka Marquez, karena dia sangat agresif. Dia mungkin pebalap yang paling sering saya ikuti. Saya tidak suka semua kesalahan yang dia buat, tapi itu bagian dari sifat agresifnya," ujar Roberts.

Agresivitas ini justru menjadi fondasi kesuksesan Marquez di era Honda. Motor RC213V periode 2013-2019 dirancang untuk merespons gaya berkendara ekstrem—rem mendadak, sudut kemiringan ekstrem, dan manuver penyelamatan yang menjadi ciri khasnya. Ducati, sebaliknya, punya karakteristik berbeda: stabilitas tinggi di kecepatan puncak dan handling yang lebih "mudah" namun kurang toleran terhadap gaya agresif yang memaksa motor keluar dari ritme idealnya.

Perbandingan dengan Era Honda: Kenyamanan yang Hilang

"Dia tidak pernah terlihat benar-benar nyaman dengan motor ini, tidak seperti saat dia mengendarai Honda di tahun-tahun awal. Gaya berkendaranya berbeda dari yang lain dan saya rasa dia membutuhkan motor yang dirancang khusus untuk gaya tersebut. Saya rasa saat ini dia belum memilikinya," lanjut legenda balap berjuluk King Kenny itu.

Analisis Roberts ini menarik karena berbanding terbalik dengan hasil akhir musim lalu. Marquez memang berhasil membawa pulang gelar juara dunia bersama Ducati, tetapi performa di lintasan menunjukkan pola yang tidak konsisten—cepat di beberapa seri, tetapi kesulitan menemukan ritme di seri lainnya. Ini mengindikasikan bahwa Marquez mungkin menang berkat kecepatan murni dan pengalaman, bukan karena motor yang benar-benar "menyatu" dengan gaya balapnya.

Pengalaman Pribadi Roberts: Pelajaran dari Yamaha

Roberts mengaku memahami persoalan ini secara personal. Semasa aktif balap, ia pernah mengalami situasi serupa ketika mengendarai Yamaha dengan posisi berkendara yang tidak sesuai dengan postur tubuhnya. Pengalaman itu membuatnya percaya bahwa pabrikan seharusnya memprioritaskan kebutuhan pebalap utama dalam pengembangan motor.

"Apa yang harus dilakukan, mengembangkan motor untuk semua orang atau untuk dia? Jelas harus dikembangkan untuk dia," tegas Roberts.

Pelajaran untuk Pengembangan Motor: Teknis vs Karakter

Pernyataan Roberts menyentuh isu yang lebih dalam: motor yang secara teknis sempurna belum tentu cocok untuk seorang pebalap. Karakter dan gaya berkendara menjadi faktor penentu apakah potensi motor bisa dimaksimalkan di lintasan. Ini berlaku tidak hanya di MotoGP, tetapi juga relevan bagi pengguna motor harian di Indonesia—sebuah motor dengan spesifikasi mesin terbaik belum tentu nyaman jika posisi berkendara atau karakter tenaganya tidak sesuai kebutuhan.

Bagi Marquez, pertanyaan besarnya adalah apakah Ducati bersedia mengorbankan pengembangan motor untuk kebutuhan satu pebalap, atau tetap mempertahankan motor yang sudah terbukti kompetitif untuk semua pebalapnya. Dengan kontrak Marquez yang masih berjalan, keputusan ini akan menentukan apakah ia bisa kembali menemukan kenyamanan yang hilang sejak meninggalkan Honda.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index