BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjamin Pemerintah Provinsi Jawa Barat bakal menanggung seluruh biaya perawatan korban pembegalan.Langkah tersebut merupakan bentuk komitmen nyata pemerintah dalam melindungi masyarakat dari tindakan kekerasan dan kejahatan di jalanan.
Ia mengungkapkan, Pemprov Jabar siap membiayai pengobatan korban pembegalan, pencurian, perampokan, hingga aksi kekerasan lainnya.Hal ini menjadi perhatian serius pemprov lantaran korban kejahatan sering kali kesulitan memenuhi beban biaya medis.
"Rumah sakit tidak memberikan jaminan layanan kesehatan bagi mereka korban begal, korban pencurian, korban kekerasan, karena tidak ada asuransinya. BPJS-nya tidak mau bayar," kata Dedi di Bandung, Minggu, 9 Agustus 2026.
Oleh sebab itu, ia menegaskan pihak pemprov akan turun tangan langsung untuk menutupi biaya pengobatan korban.
"Untuk itu saya tegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan membiayai pengobatan bagi siapapun korban kekerasan, korban penculikan, korban pembulian, korban pembegalan, korban perampokan," katanya.
Bahkan, ia menambahkan bahwa pemerintah akan mengambil alih tanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarga korban jika insiden tersebut menyebabkan gugurnya tulang punggung keluarga.
"Apabila meninggal dan meninggalkan istri dan anak-anaknya, maka gubernur di Jawa Barat bertanggung jawab terhadap kehidupannya ke depan. Sekolah anak-anaknya, pembiayaan bagi keluarganya. Ini penting karena psikologinya," kata dia.
Lebih jauh, Dedi menyebutkan bahwa program sayembara terkait begal yang dicetuskannya bertujuan untuk mengikis rasa takut warga terhadap aksi kejahatan.
Ia memandang pembentukan mental dan psikologis masyarakat yang tangguh sangat mendasar dalam menyelesaikan masalah ini.
Menurutnya, penanganan tindak kriminal tidak cukup sebatas bergantung pada kelengkapan senjata maupun tindakan penangkapan oleh kepolisian, melainkan wajib ditopang dengan perlawanan psikologis warga.
Ia menegaskan ketakutan publik terhadap pelaku kejahatan tidak boleh didiamkan, sebab sikap pembiaran hanya memberi celah lebih luas bagi penjahat dalam melancarkan aksinya.
"Masa 100 orang membuat takut 100 ribu orang? Enggak bisa. Kami yang harus buat takut mereka. Ini perang psikologi, disebutnya perang asimetris," kata Dedi.
Sebab itulah, Dedi mengklaim bahwa sayembara tersebut adalah wujud nyata dalam membakar keberanian masyarakat.
Hal ini krusial agar warga tidak lagi gentar berhadapan dengan begal, melainkan para komplotan penjahat yang berbalik takut ketika hendak beraksi di tengah publik.
"Saya bikin sayembara untuk membangunkannya. Kami tidak boleh takut oleh begal, begal yang harus takut oleh kami," katanya.