JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memberhentikan 137 Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Manajer Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
"Per hari ini, saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional telah mencopot 137 Kepala Dapur di seluruh Indonesia yaitu di Jawa Barat, Lampung, Jawa Timur, Sumatra Utara, Banten dan Jawa Tengah termasuk yang kemarin dapurnya yang di Semarang yang menimbulkan keracunan di SMK Negeri 6 Semarang," ujar pria yang akrab disapa Mas Dar ini seusai Rapat Pimpinan di Kantor BGN dalam keterangan resmi pada Senin (3/8).
Sudaryono menerangkan bahwa tindakan pemecatan ini dijatuhkan kepada pimpinan SPPG yang terbukti melanggar kedisiplinan dan mempunyai rekam jejak yang menyimpang dari standar operasional serta integritas penyelenggaraan MBG.
Pemberhentian tersebut, lanjut Sudaryono, menjadi wujud penegakan disiplin lembaga atas beraneka pelanggaran di lapangan, mulai dari insiden keracunan makanan hingga pelanggaran tata kelola keuangan.
"Yang jelas kami zero tolerance terhadap keracunan, zero toleran terhadap tindakan korupsi, hengki pengki, ngentik uang, dan lain-lain itu kami zero tolerance, dan kami telah menyiapkan suatu sistem mekanisme di mana trust is good, tapi control is better," tegas Sudaryono.
Dalam rangka memperkuat tata kelola, BGN turut merancang sistem pemantauan digital agar seluruh aktivitas operasional di dapur dapat diawasi secara terstruktur.
Di samping memperketat pengawasan internal, BGN pun berkomitmen mendongkrak keterbukaan publik lewat penyediaan data yang gampang diakses oleh para pemangku kepentingan, terutama orang tua, pihak sekolah, hingga pemerintah daerah.
"Sebagaimana janji saya setelah saya dilantik adalah bagaimana menyediakan informasi yang terbuka kepada pihak-pihak terkait khususnya orang tua, kemudian dinas kesehatan, dinas pendidikan, termasuk guru, kepala sekolah itu mendapatkan informasi bahwa anaknya diberi menu makan apa oleh negara di hari ini, hari kemarin, hari esok, dan rencananya apa, kandungan gisinya apa, kemudian menu tadi itu dimasak di SPPG mana, kepala SPPG-nya siapa, dan ada keluhan apa, sehingga kita bisa lihat," ujar Sudaryono.