Bahaya Jalur Alternatif Jogja-Purworejo: Jangan Dianggap Remeh!

Bahaya Jalur Alternatif Jogja-Purworejo: Jangan Dianggap Remeh!
Ilustrasi Jalur Alternatif Jogja-Purworejo.(Sumber:NET)

JAKARTA - Sebagai perantau asal Sumatera yang terbiasa berkendara sepeda motor, rute jalanan di Pulau Jawa awalnya dianggap biasa saja.Namun, pandangan tersebut berubah total setelah melintasi jalur alternatif Jogja-Purworejo.

Rasa percaya diri yang berlebihan seketika sirna di rute tersebut.Karakteristik jalanan di wilayah Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul sebenarnya mengingatkan pada kampung halaman di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Jalur berbelok, tanjakan, turunan tajam, serta jurang di sisinya terasa sangat mirip dengan rute Singkarak menuju Bukittinggi.Perbedaannya hanya terletak pada kepadatan lalu lintas Jogja yang jauh lebih ramai dibanding Bukittinggi.

Sebelumnya muncul anggapan bahwa jika medan ekstrem di Sumatera Barat saja sanggup ditaklukkan, rute di Jawa tentu bukan kendala besar.Namun, keputusan menerjang jalur alternatif Jogja-Purworejo membuktikan bahwa perkiraan tersebut sepenuhnya keliru.

Perjalanan mengendarai motor Beat Karbu dari Jogja menuju rumah kerabat di Purworejo ditempuh seorang diri.Estimasi waktu dua jam membuat keputusan diambil untuk melaju terus tanpa beristirahat di tengah jalan.

Pemandu arah sepenuhnya mengandalkan penunjuk suara dari Google Maps melalui earphone karena buta rute.Beberapa opsi rute dengan selisih waktu tipis sebenarnya ditawarkan oleh aplikasi navigasi tersebut.

Pilihan akhirnya jatuh pada rute dengan durasi sedikit lebih lama karena dianggap lebih aman dan layak dilintasi.Tanpa disadari, rute yang dipilih tersebut ternyata merupakan jalur alternatif Jogja-Purworejo.

Perjalanan dimulai pukul 14.00 WIB dengan laju santai menembus kemacetan, terik matahari, asap kendaraan, serta lalu lalang truk besar.Rute Jalan Godean di awal perjalanan masih terasa sangat mudah dan lancar untuk dilalui.

Memasuki kawasan Kulon Progo, pemandangan perbukitan dan udara sejuk mulai menyapa, diiringi tanjakan panjang yang menggantikan jalan lurus.

Rasa cemas mulai timbul, tetapi tekad untuk terus melaju hingga ke tujuan tetap dipaksakan.Mengikuti arahan peta digital, lebar jalan mendadak menyempit hingga hanya muat untuk satu mobil dan satu motor dengan jurang di sisinya.

Area pemukiman warga yang semula ada di pinggir jalan lambat laun menghilang sepenuhnya.Medan di depan berganti menjadi turunan panjang serta tikungan tajam yang kian memicu rasa takut.

Niat untuk memutar balik menuju Jogjakarta sempat terlintas karena kondisi rute yang semakin menyeramkan.

Niat tersebut dibatalkan karena rasa takut juga membayangi jika harus kembali melewati tanjakan panjang yang baru saja dilalui.Dalam kondisi penuh keraguan, kehati-hatian ekstra diterapkan dengan mengandalkan rem yang pakem saat melintasi turunan curam.

Jari tangan bahkan sampai mengalami kram akibat terus-menerus menekan tuas rem di sepanjang turunan.Jalur alternatif Jogja-Purworejo atau Jalan Raya Kaligesing ini ternyata sangat mengerikan dengan kondisi sempit, menanjak, miring, serta menurun.

Suasana kian mencekam karena kawasan tersebut didominasi hutan, sepi pemukiman, dan sangat jarang dilalui kendaraan lain.Papan peringatan di tepi jalan menjadi satu-satunya petunjuk bahaya yang membantu untuk tetap waspada.

Demi keselamatan, keputusan diambil untuk turun dan menuntun sepeda motor melewati turunan serta tikungan tajam.Kepanikan hebat terjadi ketika rem depan mendadak blong dan rem belakang tidak berfungsi optimal di tengah jalanan sepi.

Rasa putus asa hingga ingin menangis muncul karena perjalanan masih jauh dan tidak ada orang yang bisa dihubungi untuk meminta pertolongan.Kecerobohan meremehkan rute alternatif Jogja-Purworejo serta mengabaikan kondisi kendaraan berujung pada situasi kritis.

Usaha untuk tetap tenang dilakukan sambil terus menuntun motor di turunan hingga akhirnya menemukan warga lokal di ujung jalan.

Pertanyaan langsung diajukan kepada seorang warga, "Permisi, Pak, saya mau bertanya, di sekitar sini, bengkel motor di mana ya? Motor saya remnya blong,".

Mengingat lokasi bengkel masih jauh, warga tersebut secara sukarela memeriksa kondisi rem dan kampas rem motor.Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada kerusakan fisik, melainkan piringan cakram yang mengalami panas berlebih akibat gesekan terus-menerus di turunan.

Warga tersebut menyarankan agar kendaraan diistirahatkan terlebih dahulu agar piringan cakram dingin dan rem dapat berfungsi kembali.Anggapan miring bahwa perempuan tidak paham teknis kendaraan terasa menampar diri sendiri pada momen tersebut.

Keberanian dan tekad terbukti tidak cukup tanpa diimbangi pemahaman teknis serta kepedulian terhadap kondisi kendaraan.

Sambil memberikan nasihat, bapak tersebut menyampaikan, “Untung sampean selamat, Mbak, lewat turunan sini. Jalan Kali Gesing sudah banyak makan korban, apalagi yang pakai motor matik, remnya kebanyakan blong. Makanya kalau perjalanan jauh harus istirahat dulu biar remnya itu bisa optimal, jangan dipakai terus-menerus apalagi lewati turunan,”.

Rasa syukur mendalam dirasakan karena masih terhindar dari marabahaya meski sempat bertindak ceroboh.Pengalaman menaklukkan rute Sumatera ternyata tidak bisa dijadikan jaminan untuk meremehkan beratnya medan jalan alternatif Jogja-Purworejo.Sambil menunggu rem dingin, obrolan singkat dilakukan bersama beberapa warga yang sedang berkumpul di pinggir jalan.

Seorang ibu warga lokal turut menceritakan pengalaman buruk pengendara lain dengan mengatakan, “Jalanan di sini memang serem, Mbak, lain kali jangan lewat jalan sini. Turunannya curam, banyak kejadian akibat lewat jalan sini. Kemarin seminggu yang lalu, pasangan suami istri kecelakaan, istrinya meninggal, suaminya luka-luka karena rem blong pakai motor matik.”

Tuturan tersebut seketika membuat bulu kuduk merinding dan memicu rasa syukur atas keselamatan yang masih diberikan.

Pelajaran penting dari kejadian ini adalah jangan pernah meremehkan rute jalanan dan selalu utamakan keselamatan berkendara.Persiapan matang serta pengetahuan berkendara yang aman jauh lebih penting dibandingkan hanya mengandalkan nyali semata.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index