Ketika perusahaan teknologi global seperti OpenAI, Anthropic, Google DeepMind, Meta, Microsoft, xAI, dan Amazon menginvestasikan ratusan miliar dolar untuk mengembangkan model dan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pengusaha Indonesia-Australia Wempy Dyocta Koto melihat peluang yang berbeda.
Menurutnya, peluang terbesar tidak selalu berada pada perusahaan yang membangun teknologi AI itu sendiri, melainkan pada mereka yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk menciptakan produk, layanan, dan bisnis yang memberikan nilai nyata bagi pelanggan.
Berangkat dari pandangan tersebut, Wempy membentuk Wempy Dyocta Koto Artificial Intelligence Team, sebuah tim yang terdiri dari tiga profesional Indonesia berpendidikan Australia yang bertugas mengidentifikasi, menguji, dan mengembangkan peluang bisnis berbasis kecerdasan buatan.
Tim tersebut terdiri dari Bernard Choa, Cherish Valerie Sukmana, dan Darryl Hilmy, yang masing-masing menjabat sebagai Artificial Intelligence Specialist. Ketiganya mewakili generasi baru talenta Indonesia yang menggabungkan pendidikan internasional, pemahaman teknologi global, serta kedekatan dengan dinamika pasar Asia Tenggara.
Demam Emas Baru di Era Kecerdasan Buatan
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan AI telah melahirkan berbagai teknologi yang mampu menulis, menganalisis data, membuat konten, menghasilkan kode pemrograman, mengotomatisasi pekerjaan, hingga membantu pengambilan keputusan dalam skala yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun menurut Wempy, gelombang nilai ekonomi berikutnya kemungkinan besar tidak akan datang dari perusahaan yang membangun model AI baru.
Sebaliknya, peluang terbesar justru berada pada para pengusaha yang mampu menemukan cara paling efektif untuk menerapkan teknologi tersebut dalam kehidupan nyata.
"Tidak banyak perusahaan yang harus menjadi Google untuk mendapatkan manfaat dari internet," ujar Wempy.
"Begitu juga dengan AI. Tidak banyak perusahaan yang harus menjadi OpenAI atau Anthropic untuk menciptakan nilai. Peluang terbesar mungkin justru dimiliki oleh mereka yang mampu menerapkan teknologi ini untuk memecahkan masalah nyata dan membangun bisnis yang dibutuhkan pasar."
Filosofi inilah yang menjadi fondasi utama tim AI yang baru dibentuk tersebut.
Alih-alih berfokus pada riset teoretis atau membangun model AI dari nol, tim ini akan mengevaluasi peluang-peluang yang dapat meningkatkan produktivitas, mengotomatisasi proses bisnis, memperbaiki pengalaman pelanggan, membuka pasar baru, dan menciptakan model bisnis yang sebelumnya tidak memungkinkan.
Generasi Baru Talenta AI Indonesia
Pembentukan tim ini juga mencerminkan keyakinan bahwa keberhasilan bisnis AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis semata.
Diperlukan kombinasi antara teknologi, komunikasi, riset, kreativitas, strategi, dan kemampuan mengeksekusi ide menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Bernard Choa: Teknolog yang Berorientasi Solusi
Bernard Choa bergabung dengan tim AI dengan latar belakang yang kuat di bidang rekayasa perangkat lunak, komputasi awan, keamanan siber, otomatisasi, dan penerapan kecerdasan buatan.
Lulusan RMIT University Melbourne dan BINUS International ini memiliki pengalaman dalam pengembangan perangkat lunak perusahaan, proyek chatbot berbasis AI, infrastruktur cloud, serta riset teknologi seperti computer vision, virtual reality, dan generative AI.
Kombinasi kemampuan teknis dan pengalaman industri yang dimilikinya memberikan fondasi yang kuat untuk mengevaluasi serta mengimplementasikan solusi AI yang memiliki nilai komersial.
Cherish Valerie Sukmana: Ahli Strategi dan Komunikasi
Cherish Valerie Sukmana membawa keahlian di bidang komunikasi, media digital, strategi konten, manajemen proyek, dan pengembangan audiens.
Lulusan Monash University ini memiliki pengalaman dalam produksi multimedia, pengelolaan media sosial, promosi podcast, pengembangan konten digital, serta koordinasi berbagai proyek kreatif.
Perjalanannya juga ditandai dengan penghargaan Principal Award dari Sampoerna Academy dan pelatihan lanjutan di bidang public speaking serta kepemimpinan.
Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, pemahaman Cherish mengenai perilaku manusia, komunikasi, dan keterlibatan audiens memberikan perspektif yang penting agar teknologi tetap relevan dengan kebutuhan pengguna.
Darryl Hilmy: Penghubung Teknologi dan Manusia
Darryl Hilmy menghadirkan kombinasi unik antara kemampuan teknis, komunikasi, dan pemikiran analitis.
Lulusan program double degree Computer Science dan Information Technology melalui RMIT University Melbourne dan BINUS University ini memiliki dasar yang kuat dalam pengembangan perangkat lunak, sistem informasi, dan teknologi digital.
Darryl dikenal karena meraih skor IELTS tertinggi yang dapat dicapai, mencerminkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris, berpikir kritis, dan analisis yang luar biasa.
Selain itu, ia memiliki pengalaman magang di sektor Jaminan Sosial Pemerintah Indonesia dan layanan keuangan, dengan keterlibatan pada pengembangan aplikasi web, sistem rekrutmen digital, dan operasional perusahaan.
Sebagai juara debat dua kali, pengajar, serta penulis dua novel yang telah diselesaikan, Darryl menghadirkan perpaduan kemampuan teknis, kreativitas, komunikasi, dan disiplin intelektual yang semakin penting di era AI.
Mengapa Ini Penting bagi Indonesia
Di luar pembentukan sebuah tim baru, inisiatif ini mencerminkan tren yang semakin terlihat di kalangan generasi muda Indonesia.
Semakin banyak profesional Indonesia berpendidikan internasional yang memilih untuk menghubungkan pengalaman global mereka dengan peluang yang ada di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
Bagi Wempy, keputusan membangun tim ini dengan talenta Indonesia merupakan langkah yang disengaja.
"Indonesia memiliki salah satu populasi muda terbesar di dunia," katanya.
"Kombinasi antara ambisi, pendidikan internasional, dan pemahaman terhadap pasar lokal menciptakan potensi yang luar biasa. Saya percaya sebagian bisnis berbasis AI paling sukses dalam satu dekade mendatang akan dibangun oleh orang-orang yang memahami tren teknologi global sekaligus memahami kebutuhan pasar lokal."
Meski menempuh pendidikan di Australia dan memiliki paparan internasional, ketiga anggota tim tetap memiliki keterikatan kuat dengan Indonesia serta mewakili generasi profesional yang semakin nyaman bekerja lintas negara, lintas industri, dan lintas budaya.
Melampaui Hype Kecerdasan Buatan
Di tengah antusiasme global terhadap AI, Wempy mengingatkan bahwa tidak semua proyek AI akan berhasil.
Menurutnya, banyak inisiatif gagal karena terlalu fokus pada teknologinya, bukan pada masalah yang ingin diselesaikan.
"Pertanyaannya bukan apakah AI itu mengesankan," ujarnya.
"Pertanyaannya adalah apakah AI mampu menyelesaikan masalah yang nyata dan apakah pelanggan bersedia membayar untuk solusi tersebut."
Prinsip itulah yang kini menjadi landasan kerja Wempy Dyocta Koto Artificial Intelligence Team.
Misinya bukan membangun OpenAI atau Google DeepMind berikutnya. Sebaliknya, tim ini berfokus mencari peluang di mana kecerdasan buatan dapat diterjemahkan menjadi produk yang bermanfaat, layanan yang dapat berkembang secara global, dan bisnis yang berkelanjutan secara komersial.
Di era yang semakin ditentukan oleh kecerdasan buatan, kemampuan mengubah teknologi menjadi nilai ekonomi yang nyata mungkin akan menjadi salah satu keunggulan paling berharga di masa depan.