JAKARTA - Universitas Bakrie menyelenggarakan Webinar Contemporary Digital Culture demi merumuskan langkah dalam menyikapi persoalan ekspansi kecerdasan buatan (AI), algoritma media sosial, beserta pergeseran tren konsumsi informasi yang dinilai memicu hambatan baru bagi kelestarian budaya lokal di Indonesia.
Kepala Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, Dr Prima Mulyasari Agustini memaparkan, di tengah kuatnya gelombang digitalisasi, publik dituntut tak cuma cakap menyelaraskan diri dengan teknologi, namun juga memelihara jati diri budaya supaya tetap eksis di semesta digital.
"Bahwa transformasi digital tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi budaya lokal, melainkan sebagai momentum untuk memperluas eksistensi dan daya saing budaya Indonesia di tingkat global," kata Prima di Jakarta, Rabu.
Oleh sebab itu, wadah ilmiah dengan tajuk "Strategi Komunikasi dan Tantangan Ketahanan Budaya Lokal di Ruang Digital" ini mempertemukan kaum akademisi, ilmuwan, praktisi komunikasi, mahasiswa pascasarjana, serta aktivis budaya guna membedah strategi menyikapi pergeseran konstelasi komunikasi digital.
Berdasar penuturannya, budaya lokal mempunyai kapasitas untuk tetap eksis jika sanggup menyesuaikan diri terhadap pergeseran masa.
Semesta digital justru memicu kesempatan bagi publik untuk mengarsipkan, mengudarakan, serta membesarkan khazanah budaya Indonesia menuju khalayak yang jauh lebih masif.
"Yang dibutuhkan adalah strategi komunikasi yang tepat agar teknologi dan budaya dapat tumbuh secara berdampingan," ujarnya.
Bukan hanya ekspansi AI, webinar pun membedah aneka gejala yang kian lekat dengan keseharian publik, layaknya disinformasi, cyberbullying, echo chamber imbas algoritma media sosial, hingga merosotnya mutu ruang publik digital.
Menurut pengajar Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie Eli Jamilah Miharja, ekspansi teknologi wajib dicerna tak cuma dari sudut pandang pembaruan, namun juga lewat kacamata sosial serta budaya, menimbang perkara itu berimbas pada pola masyarakat menjalin interaksi sosial, memaknai budaya, serta mengonstruksi identitas.
"Karena itu, pendekatan akademik melalui riset menjadi penting agar perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa mengikis nilai-nilai budaya yang menjadi identitas bangsa," katanya.
Webinar mengundang dua akademisi yang mempunyai rekam jejak mumpuni dalam ranah komunikasi serta budaya digital, yaitu pengajar sekaligus Communication Specialist Dr Hany Nurahmawati, yang mengantongi jam terbang akademik di Indonesia, Malaysia, dan Prancis, mengulas dinamika komunikasi lintas budaya, branding, digital media, beserta pergeseran tindakan publik dalam ekosistem digital.
Di samping itu, Assoc. Prof Bambang Sukma Wijaya ahli branding serta komunikasi pemasaran yang sempat berkiprah melebihi satu dekade pada sektor periklanan, membedah ekspansi (AI), consumer culture, etika komunikasi, beserta dampaknya pada implementasi komunikasi modern.