Di Balik Megah Piala Dunia 2026, Tunawisma New York Jadi Sorotan

Di Balik Megah Piala Dunia 2026, Tunawisma New York Jadi Sorotan
Pemandangan di salah satu sudut Kota New York, Amerika Serikat. (FOTO:NET)

JAKARTA - Gemuruh sorak-sorai para pendukung dari pelbagai penjuru dunia terdengar lantang di sudut-sudut kota New York.

Sebagai salah satu kota tempat penyelenggaraan ajang Piala Dunia 2026, nuansa sepak bola di wilayah ini terasa sangat hidup.

Akan tetapi, di balik panggung megah kompetisi sepak bola paling akbar di dunia ini, terdapat kenyataan kontras yang menyengat begitu kaki melangkah keluar dari Penn Station.

Bagi kami yang sudah biasa dengan situasi padat di Jakarta, New York menjanjikan pemandangan perkotaan legendaris seperti yang kerap tampil pada film-film Hollywood.

Gedung-gedung tinggi mencakar langit yang menembus awan, kilauan lampu di Times Square, serta aktivitas padat dari para pekerja kota.

Namun, terdapat satu pemandangan tata kota yang memicu guncangan budaya atau culture shock yang luar biasa bagi kami, yakni masifnya jumlah tunawisma (homeless) yang dijumpai di sepanjang kawasan pusat kota.

Kontras di Balik Kemegahan The Big Apple

Cuma berjarak beberapa blok dari area fan zone resmi milik FIFA yang dipadati suvenir bernilai mahal serta senyuman ramah berselimut pengamanan ketat, realita sosial langsung terpampang jelas di depan mata.

Di sepanjang area trotoar Manhattan, di bawah bayangan papan reklame raksasa yang mengiklankan pertandingan perempat final, banyak warga setempat yang tidur beralaskan potongan kardus tipis.

Sebagian dari mereka malahan tidur tanpa menggunakan alas sama sekali.

Mereka tampak meringkuk di dalam kantong tidur, berhimpitan dengan tumpukan barang-barang milik pribadi yang ditaruh di dalam troli belanjaan.

Pemandangan yang kontras ini memunculkan rasa ironi yang begitu mendalam.

Pada satu sisi, dana miliaran dolar berputar demi mempercantik kota ini dalam menyongsong turnamen sepak bola paling akbar.

Di sisi lain, aroma pesing yang menusuk hidung serta rintihan meminta bantuan dari kalangan yang tersisih menjadi pengiring harian yang tidak dapat dihindari sewaktu kami berjalan menuju ke stadion ataupun pusat media.

Bau menyengat tersebut kian ditambah dengan aroma marijuana yang secara bebas dibakar dan dihirup oleh banyak penduduk New York.

Sebuah fenomena yang tampaknya tidak bakal dijumpai di Indonesia dalam kurun waktu dekat.

Menembus Batas Nyaman saat Liputan

Pada mulanya, terdapat perasaan khawatir yang menggelayut di dalam pikiran.

Di kota Jakarta, kami mungkin sudah terbiasa menjumpai pengemis di area persimpangan jalan, akan tetapi di New York, pola interaksinya terasa sangat berbeda.

Sejumlah tunawisma di kawasan ini menderita gangguan kesehatan mental yang tergolong cukup parah atau mengalami ketergantungan pada zat adiktif.

Tidak jarang saya pun mesti berpapasan langsung dengan seseorang yang berteriak secara histeris menghadap langit-langit stasiun subway, atau menghampiri kami dengan pandangan kosong demi meminta beberapa sen mata uang dolar.

Sebagai seorang jurnalis, fokus saya diwajibkan untuk tetap tajam dalam memberitakan perihal strategi di lapangan hijau, kondisi kebugaran dari para bintang sepak bola, serta kemeriahan para suporter.

Kendati demikian, hati nurani sebagai seorang manusia tidak dapat berbohong.

Tiap kali lensa kamera kami mengabadikan kegembiraan dari para suporter yang mengenakan kostum berwarna-warni, beberapa meter di arah belakangnya hampir selalu dijumpai sosok yang tengah berjuang bertahan hidup di kerasnya jalanan kota New York.

Warga setempat tampaknya telah terbiasa dengan kondisi tersebut dan lebih memilih untuk menghiraukannya, sebuah wujud proteksi diri masyarakat urban yang kerap diistilahkan sebagai city face.

Namun bagi kami, memerlukan waktu hingga berhari-hari demi bisa mengendalikan rasa kaget serta ketidaknyamanan secara emosional ini.

Pengalaman dalam menjalankan tugas liputan Piala Dunia 2026 ini membuka mata kami bahwa kompetisi olahraga seakbar apa pun tidak bakal pernah sanggup benar-benar menutupi persoalan domestik dari sebuah negara maju.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index