JAKARTA - Mengidentifikasi indikasi penyakit ginjal pada anak dapat dijalankan sedini mungkin apabila orang tua memahami bermacam unsur yang memicu peningkatan risikonya.
Pasalnya, masalah kesehatan ginjal pada anak kerap kali tidak menunjukkan tanda-tanda yang spesifik pada fase permulaan sehingga baru terdeteksi tatkala kondisinya sudah berada di tahap yang lebih parah.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi RS Pondok Indah, dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro, mengutarakan tingkatan paling esensial dalam memelihara kesehatan ginjal anak diawali dengan mencermati apakah anak mempunyai indikasi risiko tertentu.
"Kalau punya (faktor risiko), berarti dia harus lebih hati-hati," ujar dr. Henny dalam acara pemaparan informasi mengenai gangguan ginjal pada anak yang diselenggarakan RS Pondok Indah Group (19/06).
Risiko masalah ginjal, mengacu pada penjelasan dr. Henny, sejatinya dapat bermula semenjak sang anak masih berbentuk janin di dalam rahim.
Oleh sebab itu, rekam jejak masa kehamilan serta jalannya proses persalinan menjadi salah satu poin penting yang wajib dicermati oleh orang tua.
"Pertama kalau anak lahirnya prematur, artinya lahir di bawah 37 minggu, kedua kalau berat badan lahirnya rendah di bawah 2,5 kilo, itu punya faktor risikonya," kata dr. Henny.
Ia menguraikan, situasi lain berupa oligohidramnion atau tipisnya volume air ketuban dapat pula menjadi indikasi awal bahwa proses produksi urine pada janin berjalan kurang maksimal.
“Di akhir-akhir masa kehamilan atau di semester-semester akhir, jumlah air ketubannya sedikit, karena pipisnya bayi itu masuk ke dalam air ketuban. Jadi kalau air ketuban sedikit, itu bisa jadi clue kalau si bayi produksi pipisnya enggak cukup,” tutur dr. Henny.
Bukan hanya itu, paparan zat obat yang mempunyai sifat merusak ginjal sepanjang masa mengandung, kondisi ibu yang mengidap diabetes gestasional, hingga preeklamsia pun berpotensi mengganggu proses pertumbuhan ginjal janin.
“Kalau ibu hamil dikit-dikit sakit minum asam mefenamat, dikit-dikit pusing minum ini, itu, bisa masuk ke plasenta dan masuk ke bayinya, mengganggu perkembangan ginjal,” jelasnya.
Rekam jejak penyakit ginjal di dalam garis keturunan keluarga juga tidak boleh disepelekan begitu saja.
Menurut penuturan dr. Henny, para orang tua wajib meningkatkan kewaspadaan bila dijumpai adanya anggota keluarga yang menderita gagal ginjal tanpa disertai alasan pemicu yang terang.
"Kalau kami lihat itu berturut-turut, misalnya pamannya sakit ginjal-cuci darah, bapaknya sakit ginjal-cuci darah, kakaknya sakit ginjal-cuci darah, tapi penyebabnya enggak tahu, itu hati-hati karena bisa jadi ada penyakit yang sama, yang ditunrunkan kepada anak," ujarnya.
Di samping faktor keturunan, anak yang lahir membawa kelainan pada organ ginjal serta saluran kemih (CAKUT), sindrom genetik, ataupun kondisi displasia ginjal juga mempunyai tingkat risiko yang lebih besar untuk mengalami penurunan fungsi ginjal.
Keberadaan beberapa penyakit menahun juga dapat mempertinggi potensi kerusakan pada ginjal anak.
Varian penyakit seperti diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2, tekanan darah tinggi, lupus, berat badan berlebih (obesitas), serta penyakit jantung masuk ke dalam kategori yang membutuhkan pengawasan medis lebih intensif.
"Kalau seorang anak sudah punya diagnosis penyakit komorbid, penyakit diabetes tipe 1 maupun tipe 2, hipertensi, lupus, anaknya obesitas, atau punya penyakit jantung, maka dia punya risiko mengalami penyakit ginjal. Jadi harus dilakukan pemeriksaan yang berkala," jelas dr. Henny.
Menurut pandangannya, pada situasi seperti kasus tekanan darah tinggi, tim dokter pada umumnya akan mengutamakan pembenahan pada pola hidup terlebih dahulu sebelum menjatuhkan pilihan pada konsumsi obat, terkecuali bila tensi darah sang anak sudah terlampau tinggi atau disertai indikasi yang fatal.
Masuknya infeksi varian tertentu juga dapat menjadi pemicu awal timbulnya gangguan pada organ ginjal.
Salah satu contohnya ialah infeksi bakteri streptokokus yang memicu radang pada tenggorokan dan berpotensi memicu glomerulonefritis pada tubuh anak yang memiliki tingkat kerentanan tertentu.
“Jadi kalau anaknya pernah mengalami sakit tenggorokan disertai demam tinggi, kemudian biasanya kalau kami cek darahnya, sel darah putihnya naik. Infeksi saluran napas yang disebabkan oleh streptokokus, ini bisa men-trigger terjadinya peradangan di ginjal. Enggak semua anak, tapi ada beberapa anak yang dia memang rentan terhadap munculnya penyakit ginjal lanjutan akibat streptokokus,” ungkap dr. Henny.
Selain hal itu, problem infeksi saluran kemih yang terjadi berulang kali, kondisi sepsis, serta paparan hepatitis B juga dikategorikan sebagai faktor yang wajib diantisipasi.
Di luar ranah kondisi medis, pola kebiasaan yang dijalani sehari-hari turut memegang peranan bagi kesehatan organ ginjal.
Tingkat konsumsi garam yang terlampau tinggi serta kondisi kekurangan cairan (dehidrasi) kronis akibat kurangnya minum air putih dapat memicu kenaikan risiko kerusakan fungsi ginjal dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, dr. Henny memberikan peringatan kepada orang tua agar tidak semata-mata mengidentifikasi aspek risikonya saja, melainkan juga mulai mengaplikasikan kebiasaan pola hidup yang sehat semenjak dini.
Dr. Henny menyarankan tindakan positif seperti mencukupi asupan cairan tubuh bulanan, membatasi konsumsi pangan berkadar garam tinggi, menjaga keaktifan fisik anak, menghindari konsumsi obat-obatan secara sembarangan tanpa resep dokter, hingga melangsungkan pengecekan fungsi ginjal secara teratur bagi anak yang masuk ke dalam kelompok berisiko tinggi.