SULAWESI SELATAN - Ketika malam datang, di kala tempat tinggal penduduk lain terang benderang oleh daya listrik, suatu bangunan berukuran kecil di Dusun Minanga Tallu, Desa Tanjong, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, malah tenggelam dalam keheningan malam yang gelap.
Pada tempat tinggal berukuran 3 x 4 meter itu, Mursalim (45) mesti menyalakan lampu pelita berbahan bakar minyak tanah.
Sinar temaram yang berkedip-kedip tersebut menjadi satu-satunya sarana penerangan bagi Mursalim, Yeni (48) istrinya, serta anak lelaki mereka, Muhammad Ghibran (7), yang baru saja masuk sekolah dasar.
Tempat bernaung itu sebetulnya bukan sebuah rumah tinggal, melainkan bekas tempat memasak nira untuk dijadikan gula aren yang sekarang terpaksa dihuni lantaran tak memiliki pilihan lain.
Segala macam kegiatan dijalankan di dalam satu ruangan yang sama.
Bagian lantai tempat tinggal mereka telah pecah-pecah dan sebagian ditutupi lembaran perlak tua, sementara tembok dari papan yang mulai lapuk menahan atap rumbia yang mudah rusak bila cuaca memburuk.
Di sana tidak tersedia ruangan kamar tidur tersendiri.
Seluruh aktivitas keluarga dilakukan pada satu area tunggal, mulai dari beristirahat, memasak, hingga menaruh pakaian serta peralatan dapur, sebuah keadaan yang telah dilewati selama lebih dari satu tahun.
Pada sudut ruangan, tas sekolah milik Ghibran tampak digantung di dinding papan.
Anak laki-laki tersebut mulai menempuh pendidikan sekolah dasar, tetapi gairah belajarnya mesti berhadapan dengan keadaan bahwa tiap malam ia belajar cuma ditemani oleh lampu pelita.
Apabila persediaan minyak tanah habis, rumah tersebut bakal menjadi kian gulita.
"Kalau aki motor masih ada setrumnya, kami pakai lampu dari aki. Kalau sudah habis, ya kembali pakai pelita."
"Kalau minyak tanah juga habis, kadang kami menyalakan unggun di dekat rumah atau langsung tidur. Pernah juga tetangga memberi lilin," kata Mursalim, Senin (29/6/2026).
Minyak tanah tersebut didapatkan dengan harga Rp 15.000 untuk satu botol ukuran kecil di Pasar Padang Sappa, dan pemakaiannya mesti dihemat secara ketat supaya bisa mencukupi kebutuhan selama satu minggu.
Sektor penghidupan Mursalim bersandar pada hasil bertani cabai serta nilam di lahan sempit miliknya, sekaligus menjadi buruh harian di perkebunan tetangga dengan pemasukan rata-rata cuma Rp 4 juta per tahun yang mesti mencukupi segala keperluan.
Keadaan finansial yang pelik menjadikan impian untuk mempunyai tempat tinggal yang layak masih sukar diwujudkan.
Mursalim mengungkapkan bahwa aparat desa setempat telah mengetahui kondisi yang menimpa keluarganya, tetapi situasi mereka belum mengalami perubahan.
Ketika ditanyai mengenai keinginan yang dipendamnya, pria tersebut bersuara dengan sangat lirih.
"Mudah-mudahan pemerintah ke depannya bisa memahami kondisi kami seperti ini," ucapnya.
Himpitan ekonomi juga pernah memaksanya mengambil keputusan berat kala sang istri menderita sakit hingga lumpuh sesaat dan tidak dapat dibawa ke rumah sakit lantaran ketiadaan dana.
"Pernah istri saya sakit tidak bisa jalan. Saya ingin membawa ke rumah sakit, tapi kondisi keuangan tidak memungkinkan. Akhirnya hanya dirawat di rumah dan saya belikan obat seadanya," ujarnya.
Untuk saat ini, keluarga tersebut tidak mempunyai jaminan BPJS Kesehatan yang berstatus aktif.
Dahulu mereka sempat terdaftar sebagai anggota mandiri ketika mengadu nasib di Kalimantan, namun mesti terhenti akibat tidak sanggup lagi membayar biayanya.
"Kalau ada kesempatan saya mau ke desa supaya dialihkan menjadi BPJS Kesehatan yang dibayar APBD, karena sekarang saya sudah tidak mampu lagi membayar," tutur Mursalim.
Walaupun hidup di dalam segala keterbatasan, Mursalim tidak berkeluh kesah dan senantiasa memeras keringat demi menghidupi keluarganya.
Perasaan cemas selalu hadir tatkala hujan turun, tetapi ia merasa lega lantaran tempat bernaungnya sampai detik ini belum pernah diterjang banjir.
"Kalau takut tentu ada. Tapi mau bagaimana lagi. Untungnya selama ini belum pernah kemasukan hujan atau genangan air," jelasnya.
Bagi keluarga Mursalim, sarana berupa jaringan listrik dan rumah yang layak huni merupakan impian yang belum menjadi kenyataan.
Kendati hidup sederhana, mereka tetap melewati hari-hari dengan penuh ketabahan.
Ghibran tetap mempunyai semangat tinggi untuk bersekolah demi masa depannya, sementara bapak dan ibunya giat membanting tulang supaya kebutuhan makan mereka tetap terpenuhi.
Kisah dari keluarga Mursalim menjadi cerminan bahwa masih terdapat penduduk yang bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Uluran tangan dari bermacam-macam kalangan sangat dinantikan guna membantu keluarga ini memperoleh rumah yang layak, jaringan listrik, serta jaminan kesehatan yang layak agar anak mereka dapat tumbuh dengan kehidupan yang lebih baik.