Rebut Takhta AS, LineShine China Jadi Superkomputer Tercepat Dunia

Rebut Takhta AS, LineShine China Jadi Superkomputer Tercepat Dunia
Ilustrasi AI ChatGPT soal superkomputer di China.(FOTO:NET)

BEIJING - Tiongkok kembali mengukuhkan diri sebagai "raja" superkomputer.

Sistem bernama LineShine buatan Tiongkok berhasil menduduki kembali peringkat teratas dalam daftar superkomputer tercepat di dunia Top 500 edisi Juni 2026 ini.

Posisi puncak ini sebelumnya dipegang oleh Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, daftar tersebut diperbarui secara berkala dua kali dalam setahun sejak 1993, serta menjadi tolok ukur global yang menampilkan peringkat superkomputer berdasarkan performa komputasinya.

Momen ini menjadi kali pertama bagi Tiongkok untuk kembali (comeback) dan menempatkan superkomputer mereka di peringkat satu dunia sejak tahun 2017.

Sebelumnya, urutan teratas dihuni oleh El Capitan, sebuah superkomputer milik Lawrence Livermore National Laboratory (LLNL) di California, AS.

Melalui pengujian "Linpack" yang menjadi standar Top500, LineShine membukukan performa sebesar 2.198 petaflop atau berkisar 2,2 exaflop.

Sebagai pembanding, El Capitan memperoleh skor performa sebesar 1.809 petaflop.

Lewat pencapaian tersebut, performa LineShine dapat dikatakan berada di angka 21 persen lebih tinggi daripada kompetitor terdekatnya asal AS, yang kini harus puas menempati posisi kedua sebagai superkomputer tercepat di dunia.

Keunggulan dari LineShine tidak cuma tampak pada pengujian standar Linpack.

Superkomputer ini pun sukses menempati urutan pertama dalam pengujian High Performance Conjugate Gradient (HPCG).

Ini merupakan sebuah metode benchmark yang dibuat untuk mengukur performa sistem ketika mengoperasikan aplikasi ilmiah di dunia nyata.

Dalam pengujian HPCG tersebut, LineShine mencatatkan skor sebesar 22,00 HPCG-Petaflop/s.

Di sisi lain, El Capitan bertengger di posisi kedua dengan perolehan skor sebesar 17,41 HPCG-Petaflop/s.

Tepat di bawah keduanya, terdapat superkomputer kepunyaan Jepang bernama Fugaku dengan raihan skor 16,00 HPCG-Petaflop/s serta Frontier milik AS dengan skor sebesar 14,05 HPCG-Petaflop/s.

Benchmark HPCG sendiri sering dinilai lebih mampu merepresentasikan performa sesungguhnya apabila dibandingkan dengan Linpack.

Hal tersebut dikarenakan pengujian ini menguji kapabilitas sistem dalam mengelola perhitungan yang lumrah diterapkan pada simulasi ilmiah serta teknik.

Salah satu poin yang memicu ketertarikan terhadap LineShine terletak pada pendekatan arsitektur yang digunakannya.

Mayoritas superkomputer modern pada masa kini bergantung pada perpaduan antara prosesor (CPU) dan pengolah grafis (GPU).

GPU menjadi elemen krusial lantaran sanggup mengeksekusi banyak operasi secara paralel sekaligus sangat efisien untuk keperluan kecerdasan buatan (AI) maupun simulasi ilmiah.

Akan tetapi, LineShine menerapkan metode yang berbeda.

"Pembatasan ekspor teknologi dari AS ke China memicu lahirnya inovasi mandiri," ujar perwakilan tim pengembang.

Bukannya memakai GPU terpisah seperti produk Nvidia atau AMD, para teknisi Tiongkok menanamkan fungsi-fungsi komputasi sejenis GPU langsung ke dalam chip utama mereka.

Struktur rancangan ini memungkinan sistem untuk menyelesaikan komputasi matriks serta vektor dalam skala masif, tanpa harus bergantung pada akselerator dari luar.

Adapun chip dari LineShine dirakit dengan menggunakan prosesor LingKun LX2 serta akselerator LingQi yang diproduksi secara mandiri di Tiongkok.

Sistem komputasi tersebut mempunyai kurang lebih 13,79 juta inti komputasi (cores) yang ditempatkan pada 90 kabinet perangkat keras.

Chip yang diaplikasikan mengadopsi arsitektur instruksi dari Arm Holdings, sebuah perusahaan desain chip asal Inggris yang kini dimiliki oleh konglomerat Jepang, SoftBank.

Teknologi dari Arm selama ini populer diaplikasikan pada ponsel pintar, namun saat ini juga sudah banyak diimplementasikan pada pusat data oleh perusahaan-perusahaan raksasa seperti Nvidia, Amazon, dan Qualcomm.

Walaupun demikian, pihak pengembang LineShine masih enggan membeberkan korporasi yang memproduksi chip itu maupun teknologi manufaktur yang diaplikasikannya.

Keberhasilan LineShine ini pun terbilang sangat menarik karena diraih di tengah ketatnya blokade ekspor teknologi dari pihak AS ke Tiongkok.

Pada beberapa tahun belakangan, pemerintah AS membatasi aktivitas penjualan GPU AI mutakhir dari Nvidia dan AMD ke Tiongkok.

Negara AS juga memberlakukan bermacam kebijakan demi membatasi akses Tiongkok terhadap teknologi semikonduktor paling baru.

Pada saat ini, LineShine sendiri dimanfaatkan untuk menyokong bermacam proyek riset dalam skala masif.

Salah satu di antaranya yakni simulasi sistem Bumi yang mengintegrasikan atmosfer, lautan, daratan, serta lapisan es demi menyokong penelitian iklim global.

Di samping itu, sistem ini pun dilaporkan digunakan untuk mengoperasikan simulasi rumit mengenai otak manusia yang memerlukan daya komputasi dalam kapasitas luar biasa besar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index