JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sedang mengupayakan peningkatan alokasi anggaran stimulan untuk pembangunan hunian tetap (huntap) in situ bagi warga terdampak bencana banjir serta tanah longsor di Aceh, dari yang mulanya Rp60 juta menjadi Rp80 juta per unit.
Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, menuturkan bahwa penyesuaian nominal dana bantuan ini menyasar kategori rumah dengan tingkat kerusakan berat, khususnya di wilayah Aceh yang mempunyai tantangan tersendiri dalam proses pengadaan sekaligus distribusi material bangunan.
"Peningkatan nilai bantuan diharapkan dapat menghasilkan kualitas bangunan yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak," kata dia.
Menurut dia, usulan penyesuaian nominal bantuan tersebut kini telah disepakati melalui Rapat Tingkat Menteri yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), dan saat ini tahapan pembahasan masih terus berjalan.
Adapun lewat skema pembangunan secara in situ atau didirikan di atas lahan milik warga sendiri, tiap unit huntap didesain menggunakan konstruksi permanen tipe 36 yang sudah dilengkapi dengan fasilitas berupa dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu, dinding bata plester, serta rangka atap baja ringan.
Sampai dengan saat ini, BNPB mencatat sudah menerima total usulan pembangunan berkisar 15.000 unit huntap in situ yang tersebar di wilayah terdampak pada tiga provinsi, mencakup Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dari keseluruhan total usulan tersebut, tercatat ada sebanyak 800 hingga 900 unit rumah yang tengah didirikan secara serentak di pelbagai wilayah, di mana hampir 400 unit di antaranya dikabarkan telah rampung secara fungsional.
Suharyanto menegaskan bahwa proses rehabilitasi serta rekonstruksi ini dikerjakan secara bertahap dan berkesinambungan, di mana tiap hunian yang telah selesai dibangun bakal langsung diserahterimakan kepada warga penerima manfaat supaya dapat segera dihuni.
"Nanti kami bisa melihat dari Aceh Tamiang, Aceh Timur sampai ke Aceh Utara sana beberapa rumah yang sudah jadi dan ini sudah langsung begitu jadi diserahkan ke masyarakat. Supaya masyarakat terdampak melihat bahwa ya semuanya tidak bisa seketika jadi, tapi ini proses berjalan terus,” katanya.