Kenali 6 Penyebab Gangguan Dasar Panggul pada Perempuan

Kenali 6 Penyebab Gangguan Dasar Panggul pada Perempuan
Ilustrasi Gangguan Dasar Panggul.(FOTO:NET)

JAKARTA - Masalah kesehatan dasar panggul pada perempuan hingga kini masih tergolong sebagai topik yang jarang didiskusikan, meskipun dampaknya dapat mengganggu kenyamanan hidup sehari-hari secara signifikan.

Gejala awal berupa kesulitan mengendalikan buang air kecil, munculnya rasa tidak nyaman pada rongga panggul, sampai melemahnya fungsi organ di area tersebut berpotensi terjadi saat jaringan pendukung dan otot panggul mulai mengendur.

Menurut penjelasan dari dr. Ni Komang Yeni Dhana Sari, Sp.OG, FAUCICOG, MM., MARS selaku dokter spesialis obstetri dan ginekologi estetika, terdapat beragam pemicu yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada dasar panggul.

Sebagian dari faktor risiko tersebut berkaitan erat dengan siklus biologis alami yang dilewati oleh kaum perempuan, sementara sebagian lainnya dipengaruhi oleh kebiasaan hidup sehari-hari serta kondisi medis tertentu.

Berikut ini adalah beberapa faktor utama yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami gangguan pada kekuatan dasar panggulnya.

6 Penyebab gangguan dasar panggul pada wanita

1. Kehamilan

Proses mengandung buah hati menjadi salah satu kondisi yang dapat memengaruhi stabilitas serta kekuatan area dasar panggul seorang perempuan.

Selama masa mengandung, bentuk tubuh perempuan mengalami adaptasi yang besar, termasuk adanya penambahan tekanan beban di bagian panggul karena perkembangan janin di dalam rahim.

Berdasarkan pemaparan dr. Yeni, perhatian khusus terhadap kondisi kesehatan area dasar panggul idealnya menjadi bagian krusial dalam rangkaian perawatan masa kehamilan.

Langkah ini tidak sekadar berfokus pada perkembangan janin serta kesehatan fisik sang ibu secara umum, melainkan juga harus memastikan kekuatan otot serta jaringan penopang panggul tetap terjaga.

“Bukannya perempuan tidak boleh hamil, tetapi apakah selama kehamilan itu benar-benar dijaga kesehatannya secara menyeluruh termasuk ke dasar panggulnya,” jelas dr. Yeni dalam Seminar Media Bamed Healthcare, di Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026).

Penerapan perawatan yang tepat sepanjang masa kehamilan sangat efektif dalam menjaga keandalan fungsi otot dasar panggul, sehingga potensi munculnya keluhan di masa depan dapat ditekan sekecil mungkin.

2. Persalinan pervaginam

Metode melahirkan secara normal atau pervaginam juga diidentifikasi sebagai salah satu aspek penting yang memengaruhi kesehatan otot-otot panggul.

Ketika proses melahirkan berlangsung, seluruh otot beserta jaringan di sekitar panggul dipaksa bekerja ekstra keras demi memfasilitasi jalan lahir bagi bayi.

Kendati demikian, dr. Yeni meluruskan bahwa proses melahirkan normal itu sendiri bukanlah penyebab utamanya, melainkan dipengaruhi oleh bagaimana prosedur tersebut dilewati oleh sang ibu.

Penerapan cara mengejan yang tidak tepat bisa memicu tekanan yang terlalu besar pada struktur dasar panggul.

“Persalinan secara normal yang tidak dijaga dengan baik juga bisa memicu gangguan dasar panggul. Jika teknik mengejannya baik, maka tidak akan terjadi gangguan ini,” ujarnya.

Oleh sebab itu, pemberian edukasi yang memadai seputar teknik melahirkan yang aman sangat diperlukan guna meminimalkan risiko cedera otot atau pengenduran panggul pascapersalinan.

3. Obesitas

Kondisi berat badan yang melebihi batas ideal atau obesitas menjadi pemicu berikutnya yang harus diwaspadai secara serius.

Masalah ini tidak hanya memberikan beban tekanan ekstra pada rongga panggul, tetapi juga berisiko mengganggu kestabilan fungsi organ tubuh lainnya.

Menurut penuturan dr. Yeni, pengaruh buruk obesitas pada area dasar panggul berkaitan langsung dengan daya tahan jaringan otot dalam menyangga organ-organ penting di area pelvis.

Apabila tekanan berlebih ini dibiarkan berlangsung secara konstan, kemampuan otot dalam menopang organ akan terus mengalami penurunan.

“Obesitas tidak hanya merugikan untuk otot dasar panggul, tapi juga metabolisme yang ada kaitannya dengan dasar panggul yang tidak mampu menopang lagi,” kata dr. Yeni.

Kondisi tersebut menjadikan upaya pengendalian berat badan sebagai langkah preventif yang sangat mendasar demi melindungi kesehatan jangka panjang dasar panggul.

4. Meningkatnya tekanan abdomen

Adanya tekanan yang terjadi secara konstan di dalam rongga perut atau abdomen dapat memicu dampak buruk terhadap kekuatan dasar panggul.

Beban tekanan yang berlebihan memaksa barisan otot panggul untuk memberikan usaha yang lebih keras agar bisa terus menyangga organ dalam tubuh.

Dr. Yeni memberikan gambaran melalui studi kasus pada perempuan di Bali yang memiliki kebiasaan mengusung banten atau sesajen berbobot berat di atas kepala mereka.

Kebiasaan membawa beban tersebut secara otomatis memaksa otot perut terus berkontraksi demi menyeimbangkan posisi tubuh.

“Ada juga penelitian mengenai wanita Bali yang membawa banten yang terlalu berat di kepala, sehingga perut harus tegang dan menahan. Hal ini bisa memengaruhi kondisi dasar panggul,” jelasnya.

Fenomena serupa juga sangat mungkin terjadi pada jenis aktivitas fisik lain yang memicu lonjakan tekanan abdomen dalam jangka waktu yang lama.

5. Menurunnya kadar estrogen

Fluktuasi hormon di dalam tubuh, khususnya penurunan jumlah hormon estrogen, memegang peranan penting terhadap kondisi kesehatan dasar panggul perempuan.

Hormon estrogen ini memiliki tugas krusial untuk mempertahankan elastisitas jaringan sekaligus menjaga kekuatan struktural otot di area reproduksi wanita.

Di saat kadar hormon estrogen ini mulai merosot, kemampuan alami jaringan untuk menopang organ-organ panggul akan ikut melemah.

Sebagai konsekuensinya, kerentanan terhadap gangguan dasar panggul akan melonjak secara signifikan, terutama bagi wanita yang tengah memasuki fase perimenopause maupun menopause.

6. Operasi di daerah pelvis

Faktor risiko terakhir yang berpotensi memicu timbulnya gangguan pada dasar panggul adalah adanya riwayat tindakan pembedahan di sekitar pelvis.

Prosedur medis tersebut berisiko memengaruhi keselarasan struktur jaringan, fungsi otot, ataupun jalur saraf yang mengendalikan organ panggul.

Meskipun tindakan operasi tersebut dilakukan demi tujuan medis atau penyembuhan, proses pemulihan serta monitoring berkala terhadap fungsi panggul tetap wajib dilakukan pascaoperasi.

Melalui penanganan pascaoperasi yang tepat, kualitas fungsi otot serta jaringan penyangga dapat dipertahankan dengan optimal sekaligus memperkecil risiko komplikasi di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index