Proyek Besar Kepung Tinjomoyo, Warga Semarang Pilih Bertahan

Proyek Besar Kepung Tinjomoyo, Warga Semarang Pilih Bertahan
Warga Tinjomoyo Semarang yang Bertahan di Tengah Kepungan Pembangunan. (Sumber: NET)

SEMARANG - Suara bising dari operasional berbagai alat berat terdengar saling menyahut di kawasan Tinjomoyo, Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Gumpalan debu pun sesekali terlihat beterbangan selaras dengan aktivitas konstruksi yang terus dikebut di lokasi tersebut. 

Di tengah pusaran perubahan tata ruang yang bergulir amat cepat ini, sejumlah rumah milik warga lokal tampak masih berdiri kokoh seperti sediakala. 

Bangunan-bangunan itu seolah-olah menjadi saksi bisu dari jalannya riwayat panjang sebuah perkampungan yang kini keadaannya kian terdesak oleh proyek pembangunan.

Di salah satu hunian sederhana yang berada di area RT 06 RW 05, seorang pria bernama Santoso (50) memilih keputusan untuk tetap menetap di sana. 

Bagi dirinya, tempat tinggal tersebut bukan sekadar berfungsi untuk berlindung dari terik matahari dan basah air hujan. 

Sebab di lokasi itulah ia melewatkan perjalanan hidupnya selama puluhan tahun. Ia juga menyaksikan secara langsung proses perubahan Tinjomoyo, mulai dari wilayah yang dahulunya kaya akan sumber mata air alami hingga sekarang bertransformasi menjadi kawasan yang berkembang secara masif.

Santoso bahkan masih mengingat secara gamblang masa di mana para penghuni kampung sangat mengandalkan suplai kebutuhan air harian dari sejumlah sendang yang tersebar luas di sekitar permukiman.

"Dulu banyak sendang di sini. Sebelum PDAM masuk, warga mengambil air dari sumber-sumber itu," ujarnya saat ditemui Kompas.com, Selasa (2/6/2026).

Pada saat sekarang, pemandangan alam yang tersaji di depan matanya saban hari sudah mengalami perubahan drastis. 

Aktivitas pembangunan sebuah kawasan niaga berskala raksasa terus dikebut tepat di area sekeliling lingkungan tempat tinggalnya. 

Gelombang perubahan tersebut di satu sisi membawa angin segar bagi kemajuan daerah, namun di sisi lain ikut memantik rasa khawatir yang mendalam bagi sebagian masyarakat.

Pada bangunan rumah kepunyaan Santoso sendiri, beberapa titik di bagian lantai sudah mulai menunjukkan adanya gejala retak-retak. 

Walau demikian, bagi pria paruh baya ini, persoalan utama yang sedang dihadapi sebenarnya bukan semata-mata mengenai kerusakan fisik pada komponen rumahnya. 

Satu hal yang dirasa jauh lebih krusial ialah perihal bagaimana caranya memastikan lingkungan tempat mereka tinggal bisa tetap bersih, aman, sekaligus nyaman untuk dihuni.

Kondisi psikologis yang tidak jauh berbeda rupanya turut dirasakan oleh Imam (50), warga sekitar yang kediamannya berada tak jauh dari zona proyek pembangunan tersebut. 

Ia memaparkan bahwa dirinya sangat mengerti bahwa laju pertumbuhan ekonomi di suatu daerah merupakan sebuah dinamika yang tidak mungkin dapat dibendung. 

Oleh karena itu, ia memberikan penegasan bahwa warga setempat sama sekali tidak memiliki niat untuk menentang berjalannya proyek tersebut.

"Kami bukan menolak pembangunan. Kami hanya ingin ada kejelasan dan perhatian terhadap warga yang terdampak," katanya.

Bagi para penduduk asli seperti Santoso dan Imam, sebuah rumah memiliki esensi yang teramat dalam ketimbang cuma dinilai sebagai struktur fisik belaka. 

Rumah merupakan tempat sakral untuk merawat memori kolektif, membesarkan anak-anak, hingga merajut tali silaturahmi antartetangga yang telah terjaga selama puluhan tahun. Sebab dalam iklim bertetangga itulah roda kehidupan mereka dapat tumbuh dan mengakar kuat.

Oleh sebab itu, di kala tanah kelahiran tempat mereka tinggal mulai diubah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang baru, mereka menaruh harapan besar agar segala prosesnya dapat berjalan secara transparan serta melibatkan peran aktif publik yang sudah sejak lama mendiami wilayah tersebut.

Warga setempat pun sangat memahami bahwa kawasan Tinjomoyo saat ini telah berevolusi menjadi sebuah wilayah yang makin strategis. 

Kehadiran proyek pembangunan berskala besar merupakan bagian dari pergeseran zaman yang tidak mungkin bisa dielakkan lagi.

Akan tetapi, di balik megahnya proyek-proyek raksasa yang terus beroperasi, terdapat denyut nadi kehidupan masyarakat kecil yang sedang berjuang keras demi mempertahankan ruang hidup mereka.

Di tengah kebisingan suara mesin pabrik serta masifnya aktivitas konstruksi yang seakan tidak pernah ada jedanya, asa yang mereka gantungkan sejatinya tergolong sangat sederhana. 

Roda perubahan dipersilakan saja bergulir, namun jangan sampai mengesampingkan atau melupakan keberadaan para warga lokal yang sudah sejak lama hidup sekaligus tumbuh bersama dengan Tinjomoyo.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index