Kualitas Udara Jakarta Terburuk Sedunia, Warga Diimbau Pakai Masker

Kualitas Udara Jakarta Terburuk Sedunia, Warga Diimbau Pakai Masker
Berdasarkan data laman IQAir yang diperbarui pukul 04.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta pada Jumat 15 Mei 2026 pagi berada pada angka 154.(Sumber:NET)

JAKARTA - Kualitas udara di ibu kota pada Kamis pagi ini masuk dalam kategori tidak sehat, bahkan menempati urutan pertama sebagai kota dengan polusi udara paling buruk di dunia. 

Sehubungan dengan kondisi tersebut, masyarakat dianjurkan untuk menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah.

Merujuk pada data dari situs pemantau kualitas udara IQAir pukul 06.01 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta mencapai angka 170. Kategori tidak sehat ini dipicu oleh polutan PM2.5 dengan konsentrasi zat sebesar 82 mikrogram per meter kubik.

Data tersebut mengindikasikan bahwa kondisi udara saat ini tidak aman bagi kelompok yang sensitif. 

Pasalnya, tingkat polusi tersebut dapat membawa efek negatif bagi manusia dan fauna yang rentan, bahkan berpotensi merusak vegetasi hingga mengganggu estetika lingkungan sekitar.

Situs pemantau tersebut turut membagikan anjuran terkait situasi udara di Jakarta sekarang, yakni masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di ruang terbuka. Apabila terpaksa beraktivitas di luar, masyarakat diminta mengenakan masker, serta dianjurkan menutup jendela rumah agar udara kotor dari luar tidak masuk.

Sebagai informasi, kualitas udara yang diklasifikasikan baik berada pada rentang PM2.5 sebesar 0-50. Pada tingkat ini, udara sama sekali tidak menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan manusia, fauna, flora, bangunan, maupun keindahan lingkungan.

Sementara itu, kategori sedang berada di rentang PM2.5 antara 51-100. Artinya, tingkat pencemaran udara belum sampai mengganggu kesehatan manusia atau hewan, tetapi sudah mulai memberikan pengaruh pada tumbuhan yang sensitif serta aspek estetika wilayah.

Selanjutnya, kategori sangat tidak sehat berada di rentang PM2.5 sebesar 200-299. Pada tingkat polusi ini, risiko kesehatan mulai mengintai sebagian kelompok masyarakat yang terkena paparan secara langsung. 

Level tertinggi adalah berbahaya (300-500), yang menandakan bahwa mutu udara secara global dapat memicu gangguan kesehatan yang fatal bagi masyarakat luas.

Di tingkat global, posisi kedua kota dengan tingkat pencemaran udara tertinggi ditempati oleh Santiago (Chile) dengan skor 157. 

Di urutan ketiga ada Kampala (Uganda) di angka 152, disusul Riyadh (Arab Saudi) pada posisi keempat dengan nilai 128, dan Dhaka (Bangladesh) di peringkat kelima dengan angka 126.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kini sedang melakukan langkah antisipasi dengan menyiapkan tindakan cepat guna menanggulangi polusi udara di ibu kota selama musim kemarau, yang diprediksi bergulir mulai awal Mei hingga Agustus mendatang.

Langkah taktis yang diambil untuk mengatasi polusi pada musim panas ini meliputi pengoptimalan sistem pemantauan mutu udara serta penggalakan uji emisi bagi seluruh kendaraan bermotor.

Tidak hanya itu, Pemprov DKI juga memberlakukan Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU). Strategi ini sedang dievaluasi kembali dari berbagai aspek, mulai dari pergerakan PM2.5, jumlah emisi dari masing-masing sektor, sampai dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Pihak otoritas Jakarta menilai bahwa penanganan polusi udara ini mustahil dituntaskan secara terpisah oleh satu daerah saja, sehingga amat diperlukan langkah konkret bersama yang padu antar-instansi daerah sekaligus sinergi lintas wilayah di sekitar Jakarta.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index