Tekanan Ekonomi Picu Stres Kerja dan Burnout pada Anak Muda

Tekanan Ekonomi Picu Stres Kerja dan Burnout pada Anak Muda
banyak anak muda sengaja memperpanjang waktu kerja mereka-bahkan sampai memaksa diri sendiri ke jurang kelelahan yang ekstrem.

JAKARTA - Di iklim ekonomi saat ini, banyak anak muda sengaja memperpanjang waktu kerja mereka-bahkan sampai memaksa diri sendiri ke jurang kelelahan yang ekstrem.

Jasmin Martin selalu dikenal sebagai pekerja keras. Saat menempuh kuliah sarjana di bidang studi budaya dan media di University of Leeds, Inggris, ia melakoni kerja paruh waktu hingga 30 jam per minggu demi membayar sewa apartemen. Setelah itu, ia langsung mengambil pekerjaan purna-waktu di sebuah agensi humas (PR) sembari menuntaskan gelar masternya.

Sebagai pejabat hubungan media di perusahaan yang sama saat ini, Martin memang tidak lagi mencari penghasilan tambahan di luar kantor. Namun, ia masih sangat sering mengambil jam lembur.

"Biasanya saya memulai hari lebih awal dengan membaca berita terkini seputar dunia pendidikan, teknologi, atau iklim. Pekerjaan saya menuntut saya untuk paham banyak topik yang luas," kata Martin yang kini berusia 25 tahun.

"Sering kali di malam hari, saya menghabiskan beberapa jam untuk bersiap menghadapi hari esok. Pada hari Minggu, saya juga kerap ke kafe untuk menyelesaikan tugas administrasi agar minggu depan terasa lebih siap."

Pasangan dan teman-teman sebayanya pun bekerja dengan pola yang sama; tetap berbisnis saat liburan atau memadatkan jam kerja ekstra di malam hari, pagi hari, serta akhir pekan. Sejumlah data statistik dan pengamat sepakat bahwa anak muda merupakan kelompok yang paling rentan melakukan kerja lembur tanpa bayaran tambahan.

Berdasarkan data laporan People at Work 2023 dari ADP Research Institute yang menyurvei 32.000 pekerja di 17 negara, pekerja berusia 18 hingga 24 tahun cenderung memberikan waktu ekstra hingga 8 jam 30 menit per minggu secara sukarela. Mereka memulai kerja lebih awal, lembur, atau tetap bekerja saat jam istirahat makan siang.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 45 hingga 54 tahun yang mencatat 7 jam 28 menit, serta usia 55 tahun ke atas yang hanya mencatat 5 jam 14 menit seminggu.

Awal Karier yang Penuh Tantangan

Para pekerja baru dari generasi ini harus menghadapi lingkungan kerja yang sulit sejak awal melangkah. Banyak yang memulai karier di masa pandemi, sementara yang lain langsung merasakan pahitnya dirumahkan (furlough) atau terkena PHK di usia awal 20-an.

Mereka juga menyaksikan langsung bagaimana perusahaan memangkas staf, menahan kenaikan gaji, serta menunda promosi demi bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi. Para ahli menilai kondisi ini memicu rasa tidak aman terkait masa depan karier jangka panjang. Akibatnya, mereka merasa harus membuktikan nilai diri kepada atasan lewat jalur lembur. Dampak buruknya, pola ini memicu beban kerja berlebih yang berujung pada stres kerja dan kelelahan.

Menurut Nela Richardson, kepala ekonom di ADP Research Institute, rasa tidak aman dalam pekerjaan (job insecurity) menjadi pendorong utama dari tingginya loyalitas berlebih ini. Dalam risetnya, setengah dari responden muda mengaku merasa tidak aman dengan posisi mereka saat ini-angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibanding pekerja di atas 55 tahun.

Meski Richardson menyebut hal ini bisa jadi karena faktor "usia muda", ia juga menggarisbawahi bahwa kelompok ini adalah yang paling terdampak oleh kebijakan efisiensi perusahaan. Hal ini meninggalkan trauma ketidakpastian di awal karier mereka.

Ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu, di mana mereka kesulitan menabung atau mencapai target finansial, pekerjaan terasa bisa hilang kapan saja. Alhasil, tingkat kecemasan pun melonjak tajam.

"Mereka tidak memiliki kepastian seperti angkatan lulusan terdahulu," kata Lara Holliday, seorang pelatih karier eksekutif. "Dulu, kita tahu bahwa jika bekerja keras, kita akan bisa membeli rumah sendiri. Sekarang, mereka masuk ke dunia yang jauh berbeda."

Demi bertahan hidup, para ahli melihat bahwa anak muda merasa tidak punya pilihan selain menambah jam kerja mereka. Jasmin pun mengamini hal ini. "Saya ingin memastikan bahwa saya serius, sehingga perusahaan tahu mereka tidak salah memilih saya. Persaingan sangat ketat, dan saya bersyukur masih bisa punya pekerjaan," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa dirinya dan rekan-rekan berusaha keras mematahkan stereotip negatif yang melekat pada mereka. "Banyak yang menganggap kami malas dan hanya ingin bekerja dari rumah. Kami bekerja ekstra untuk membantah stigma itu."

Uniknya, kerja keras ini tidak melulu didorong oleh ekspektasi kenaikan gaji atau bonus. Riset ADP menunjukkan hanya 50% pekerja muda yang berharap upah mereka naik dalam kurun waktu 12 bulan ke depan, berbeda dengan dua pertiga pekerja dari kelompok usia lain yang lebih optimis.

Pengaruh Tren 'Hustle Culture' di Media Sosial

Rasa takut kehilangan pekerjaan bukan satu-satunya pemicu. Bagi Jasmin, paparan konten bertema produktivitas ekstrem di media sosial ikut mengikis batasan waktu kerjanya.

Di platform seperti TikTok, banyak anak muda memamerkan rutinitas kerja sampingan (side hustle) dari jam 6 pagi sebelum memulai pekerjaan utama jam 9 pagi. Tren hiper-produktivitas ini memotivasi Jasmin untuk sudah siap di meja kerja sejak pukul 7 pagi.

"Ada glamorisasi terhadap produktivitas yang berlebihan, karena mereka melihat potensi karier portofolio," jelas Holliday. "Banyaknya usaha sampingan membuat kesibukan tanpa henti ini dianggap sebagai sebuah pencapaian yang keren."

Di sisi lain, keinginan untuk bekerja di perusahaan yang memedulikan isu sosial juga menjadi faktor pendorong. Generasi baru ini sangat vokal terhadap isu keberagaman, inklusi, serta kesetaraan upah, dan mereka rela memberikan performa terbaik untuk perusahaan yang sejalan dengan nilai tersebut.

Ancaman Nyata Terhadap Kesehatan Mental

Tren lembur ini diprediksi tidak akan mereda dalam waktu dekat. Holliday menilai generasi ini dibesarkan dalam era kecemasan, sehingga kerja lembur dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk bisa maju.

Sayangnya, bekerja tanpa henti bukanlah strategi jangka panjang yang sehat. Alih-alih karier melonjak, mengabaikan work life balance justru akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kejenuhan yang parah jika tidak segera direm.

Bagi sebagian pekerja, dampak buruk ini sudah nyata terjadi. Penelitian membuktikan bahwa banyak pekerja muda yang mengalami gangguan kecemasan tinggi serta burnout kerja. Data ADP bahkan menegaskan bahwa kelompok pekerja usia muda adalah yang paling rentan merasa bahwa tekanan pekerjaan telah merusak kesehatan mental mereka.

"Rasa optimisme mereka dibayangi oleh kewaspadaan yang tinggi," tutur Richardson. "Kekhawatiran tentang bagaimana nasib mereka jika ekonomi melambat akan terus menghantui."

Holliday menyarankan agar para pekerja muda mulai belajar menetapkan batasan demi menjaga diri mereka sendiri. "Butuh kesadaran diri untuk bertanya: bagaimana saya tetap menjaga etos kerja, namun dengan cara cerdas yang tidak mengorbankan kesehatan?"

Jasmin sendiri mengaku mulai mengkhawatirkan risiko kelelahan ekstrem ini, meski kini ia merasa lebih pintar menjaga keseimbangan hidup. Tekanan di masa lalu sempat membuatnya tumbang, namun kini ia memiliki komunikasi yang baik dengan atasannya.

"Sekarang manajer saya selalu mengingatkan untuk mengambil istirahat jika diperlukan. Saya juga sudah tahu tanda-tanda kapan tubuh saya mulai lelah," pungkasnya. Meski begitu, menghentikan kebiasaan bekerja di hari Minggu tampaknya masih menjadi tantangan besar baginya.

Kesimpulan

Fenomena kerja lembur di kalangan anak muda saat ini dipicu oleh kombinasi rumit antara ketidakpastian ekonomi, trauma PHK masal, serta paparan tren hustle culture di media sosial. Demi membuktikan nilai diri dan mempertahankan pekerjaan, mereka rela memangkas waktu istirahat. Namun, jika batasan kerja yang sehat diabaikan, ambisi ini justru menjadi bumerang yang memicu stres kerja, mengganggu kesehatan mental, dan berujung pada burnout kerja. Kunci utamanya terletak pada kemampuan manajemen waktu dan keberanian untuk memprioritaskan work-life balance.

FAQ

Q: Mengapa banyak anak muda yang memilih untuk kerja lembur tanpa dibayar
Pendorong utamanya adalah rasa tidak aman dalam pekerjaan (job insecurity). Banyak dari mereka memulai karier di tengah krisis atau pandemi, sehingga merasa harus bekerja ekstra demi membuktikan kelayakan mereka di mata perusahaan agar tidak mudah digantikan.

Apa saja tanda-tanda bahwa seseorang mulai mengalami burnout kerja? 
Tanda umumnya meliputi kelelahan fisik dan mental yang terus-menerus, penurunan produktivitas, hilangnya motivasi, mudah cemas atau cepat marah, hingga mulai mengabaikan kesehatan fisik akibat stres kerja.

Q: Bagaimana cara menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan pekerjaan yang tinggi? 
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menerapkan batasan kerja yang tegas (menjaga work life balance), menghindari membawa pekerjaan ke rumah atau akhir pekan, mengomunikasikan beban kerja dengan atasan, serta meluangkan waktu untuk istirahat dan hobi di luar jam kantor.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index