Perjuangan Haji Nenek Jumaria, Tabung Uang di Ember Sejak 2011

Perjuangan Haji Nenek Jumaria, Tabung Uang di Ember Sejak 2011
Perjuangan Jumariah, nenek asal Makassar yang berjuang menabung untuk ibadah haji dari penghasilannya sebagai seorang petani.(Sumber:NET)

MAKKAH – Suasana di salah satu kamar hotel di kawasan Jarwal terlihat jauh lebih ramai daripada biasanya.

Tempat itu merupakan pemondokan bagi Jumaria, seorang jemaah haji lanjut usia asal Maros yang sedang berada di Tanah Suci. Banyak jemaah dari kamar lain berkerumun di depan pintu dan mengintip karena penasaran melihat proses wawancara yang dilakukan oleh tim Media Center Haji (MCH) terhadap dirinya.

"Ini kamarnya ibu Jumaria yang terkenal itu," bisik salah seorang jemaah lain asal Maros kepada salah satu tim MCH.

Di lorong penginapan, para tetangga kamar dan jemaah lain juga sempat menghentikan langkah kaki mereka untuk melihat kehebohan kecil tersebut. Mereka mengaku ikut bahagia karena ada warga yang bersahaja dari daerah asal mereka mendadak viral hingga ke tingkat internasional.

"Bangga sekali, orang asal kampung kami bisa dikenal dunia," ujar salah seorang jemaah yang ikut menengok dari depan pintu kamar.

Di dalam kamar, lansia asal Desa Kurusumange itu duduk di atas kasur sembari memegang ujung kerudung hitamnya yang berulang kali dipakai untuk menyeka air mata kebahagiaan. Ketua Kloter UPG 14, Sitti Hawaisyah, bersama rekan sekamar lainnya ikut mendampingi dan membantu menjawab pertanyaan tim MCH karena sang nenek sering terharu dan kelu akibat rasa syukur yang mendalam.

Sejak tiba di Tanah Suci, sosoknya memang menarik perhatian banyak orang. Kisah hidupnya yang sebatang kara selama puluhan tahun serta kegigihannya menabung uang di dalam ember hingga bisa berangkat haji, membuat profilnya diangkat dalam publikasi global musim haji Arab Saudi tahun ini.

Meski kini menjadi pusat perhatian, ia tetap bersikap rendah hati dan sering tersipu ketika dipuji.

"Nggak tahu (kalau dirinya terkenal). Alhamdulillah, saya lihat, saya dengar itu. Senang juga," katanya pelan sambil tersenyum malu.

Di usianya yang sudah memasuki kepala tujuh, mimpi perempuan tua ini untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci akhirnya menjadi kenyataan. Pengalaman yang paling membekas di hatinya adalah saat berkesempatan ziarah ke makam Nabi Muhammad di Raudhah, Masjid Nabawi, serta momen pertama kali melihat langsung Ka'bah di Masjidil Haram.

Saat topik itu dibahas lagi, air matanya langsung mengalir deras. Ucapannya sempat terhenti lalu berubah menjadi tangisan haru.

"Alhamdulillah saya senang sekali. Kenapa aku bisa di sini. Saya orang miskin...," ucapnya lirih.

Suasana haru itu seketika menular ke seluruh orang di dalam kamar. Beberapa orang tampak menunduk dan ikut meneteskan air mata, termasuk para kru MCH.

Perempuan paruh baya itu kemudian melanjutkan cerita tentang perjuangan panjangnya untuk bisa sampai ke tempat suci ini. Sebelum berangkat ke Madinah dan Makkah, kehidupannya dilewati dalam kesunyian selama lebih dari dua puluh tahun.

"Tidak ada anak," ujarnya saat ditanya tentang keluarganya.

Kesehariannya di desa berjalan dengan sangat sederhana. Setelah salat Subuh, ia langsung memberi makan ternak, merapikan rumah, menimba air, mencuci baju, dan memasak sendiri. Setelah urusan rumah tangga selesai, ia baru pergi ke sawah atau ladang.

"Kalau selesai pekerjaan di rumah, pergi ke sawah. Lihat-lihat padi, bersih-bersihkan rumputnya," tuturnya.

Sawah tersebut berada dekat dari rumahnya, sementara ladang yang ia garap adalah milik warga sekitar. Di ladang itu, ia menanam ubi jalar, singkong, hingga jagung.

"Dimakan sendiri saja. Karena bukan saya punya kebun. Kebunnya orang. Saya kerja," katanya.

Dari hasil pertanian itulah ia mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk modal berhaji. Uang hasil kerjanya disisihkan secara rutin selama bertahun-tahun.

"Kalau saya dapat 100 ribu, saya simpan 50 ribu, kumpulkan," ujarnya.

Saat ditanya mengenai lokasi penyimpanan uang untuk ongkos naik haji tersebut, suasana kamar langsung berubah riuh oleh tawa ringan.

"Di ember," jawab Jumaria singkat sambil ikut tertawa malu.

Ia menjelaskan tidak pernah menabung di bank karena jarak kantor bank yang sangat jauh dan dirinya tidak paham dengan prosedur perbankan.

"Saya nabung di ember saja," ulangnya.

Butuh perjuangan dalam waktu yang lama sampai akhirnya ia bisa mendaftar haji pada tahun 2011 yang lalu. Sosok perempuan ini dikenal punya tekad yang sangat kuat dalam beribadah. Bahkan setelah tiba di kota suci, ia sudah menjalankan ibadah umrah sunnah setelah sebelumnya menyelesaikan umrah wajib.

Ketua kloter dan teman sekamarnya pun sering kewalahan mengikuti stamina luar biasa dari lansia ini. Pihak pendamping menyebutkan bahwa sang nenek hampir tidak pernah mengeluh selama beribadah.

"Masyaallah ia sangat kuat," ujar Ketua Kloter UPG 14 Sitti Hawaisyah yang mendampinginya.

Hawaisyah menambahkan bahwa semangat tinggi dari sang nenek sudah terlihat bahkan sebelum jadwal keberangkatan dimulai.

"Beliau ini tidak pernah absen manasik haji, selalu datang," ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai rahasia menjaga kesehatan fisiknya, ia mengatakan hal itu karena kebiasaannya yang selalu aktif bergerak.

"(Karena) berkebun dan bertani. Banyak minum juga, sedikit-sedikit minum," jawab Jumaria.

Kini, setelah melewati puluhan tahun dalam kesendirian di desanya, ia sedang bersiap untuk menjalani ibadah inti di padang Arafah. Saat ditanya mengenai doa apa yang ingin dipanjatkan di tempat suci nanti, perempuan lanjut usia ini kembali merasa haru.

Bibirnya tampak bergetar beriringan dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya ke wajah secara perlahan. Hal yang pasti, semua orang di ruangan itu tahu betapa besarnya rasa syukur dan kebahagiaan yang ia rasakan, sebuah perasaan yang sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index