JAKARTA - Di tengah dinamika industri bahan bangunan yang semakin kompetitif, strategi ekspansi dan efisiensi menjadi kunci bagi pelaku usaha untuk menjaga pertumbuhan sekaligus memperbaiki profitabilitas.
Hal ini juga menjadi fokus utama PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) yang tengah berada dalam fase penguatan bisnis pada 2026.
Perusahaan yang dikenal sebagai produsen bata ringan Blesscon dan Superior Block ini menatap prospek industri dengan optimisme. Dorongan dari sektor konstruksi, pembangunan infrastruktur, serta meningkatnya kebutuhan hunian dinilai menjadi faktor utama yang menjaga permintaan tetap kuat.
Direktur Keuangan Superior Prima Sukses, Andrew, menegaskan bahwa BLES memandang prospek industri bahan bangunan tetap positif pada tahun ini.
Optimisme tersebut didorong oleh pertumbuhan sektor konstruksi, pembangunan infrastruktur, serta meningkatnya kebutuhan hunian di berbagai wilayah Indonesia.
"Dengan kapasitas produksi yang telah diperluas, efisiensi biaya yang semakin baik serta jaringan distribusi yang semakin kuat, BLES berada pada posisi yang strategis untuk menangkap peluang pertumbuhan," kata Andrew.
Strategi Efisiensi Dan Ekspansi Pasar
Dalam upaya meningkatkan kinerja, BLES menitikberatkan strategi pada optimalisasi utilisasi kapasitas produksi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas produksi dapat digunakan secara maksimal, sehingga mampu meningkatkan volume penjualan.
Pada tahun ini, BLES akan fokus pada optimalisasi utilisasi kapasitas produksi. Emiten milik SPS Corporate ini akan menjalankan strategi tersebut melalui peningkatan efisiensi operasional dan biaya, serta ekspansi pasar ke wilayah dengan pertumbuhan tinggi.
"Menerapkan strategi tersebut, BLES optimistis dapat melanjutkan pertumbuhan penjualan sekaligus meningkatkan margin secara bertahap di tahun 2026 dan seterusnya," imbuh Andrew.
Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan peningkatan margin laba, yang menjadi tantangan utama perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Kinerja Keuangan Jadi Cerminan Tantangan
Meski mencatat pertumbuhan penjualan, kinerja keuangan BLES pada 2025 menunjukkan adanya tekanan dari sisi biaya. Penjualan bersih BLES tahun lalu meningkat 2,73% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 1,46 triliun menjadi Rp 1,50 triliun.
Namun, beban pokok penjualan BLES naik lebih tinggi, yakni sebanyak 12,14% (yoy) menjadi Rp 1,11 triliun dari sebelumnya Rp 993,75 miliar. Hasil tersebut membuat laba bruto BLES menyusut 17,09% (yoy) dari Rp 469,16 miliar menjadi Rp 388,94 miliar pada 2025.
Pada periode yang sama, jumlah beban usaha BLES naik 1,79% (yoy) menjadi Rp 254,55 miliar. Laba usaha BLES pun terpangkas 38,66% (yoy) menjadi Rp 134,38 miliar, dari tahun sebelumnya sebesar Rp 219,08 miliar. Di sisi lain, beban lain-lain neto BLES melonjak 71,64% (yoy) menjadi Rp 27,12 miliar.
Meski jumlah beban pajak penghasilan menurun 45,38% (yoy) menjadi Rp 23,15 miliar, tapi laba tahun berjalan BLES ambles sebesar 47,72% (yoy) dari Rp 160,89 miliar menjadi Rp 84,10 miliar pada 2025.
Secara bottom line, BLES meraih laba bersih sebesar Rp 83,94 miliar pada 2025. Keuntungan BLES turun 47,63% dibandingkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan sebesar Rp 160,30 miliar pada 2024.
Permintaan Tetap Kuat Di Tengah Ekspansi
Andrew menjelaskan, pertumbuhan penjualan tahun lalu mencerminkan kuatnya permintaan pasar di tengah fase ekspansi strategis yang tengah dijalankan oleh BLES.
"Pertumbuhan (penjualan) ini menjadi indikator penting atas keberhasilan strategi penetrasi pasar dan penguatan distribusi yang dilakukan Perseroan," kata Andrew.
Dia menambahkan, kinerja BLES menunjukkan akselerasi pada kuartal IV-2025, yang menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan. Pada periode tersebut, BLES mencatat laba bersih sebesar Rp 35,3 miliar atau 42% dari total laba bersih tahunan.
BLES mencetak penjualan bersih sebesar Rp 430,2 miliar atau 28,6% dari total penjualan tahunan. Sedangkan volume penjualan tercatat sebesar 1 juta m³ atau 28,5% dari total volume tahunan.
Secara kumulatif, total volume penjualan BLES sepanjang tahun 2025 mencapai 3,7 juta m³, menunjukkan tingkat permintaan yang tetap solid di pasar.
"Pertumbuhan penjualan di tengah fase ekspansi menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk kami tetap kuat. Penurunan laba lebih bersifat sementara sebagai konsekuensi dari investasi yang kami lakukan untuk memperbesar kapasitas dan memperluas pasar," kata Andrew.
Produk bata ringan tetap menjadi tulang punggung bisnis dengan kontribusi sekitar 99% dari total penjualan atau sebesar Rp 1,49 triliun. Sementara itu, penjualan semen mortar tercatat sebesar Rp 16 miliar.
Efisiensi Jadi Kunci Peningkatan Margin
Dalam menghadapi tekanan biaya, BLES terus melakukan berbagai upaya efisiensi untuk menjaga daya saing. Perusahaan mencatat mampu menurunkan biaya produksi sebesar 7,3% per m³ dibandingkan tahun sebelumnya.
Andrew mengungkapkan, BLES mempertahankan posisinya sebagai salah satu produsen bata ringan terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi mencapai 5,6 juta m³ per tahun. Di sisi efisiensi, langkah penurunan biaya ini menjadi modal penting untuk meningkatkan margin laba ke depan.
BLES mencatat margin laba kotor sebesar 26%. Andrew menerangkan, penurunan laba bersih BLES pada tahun 2025 terutama dipengaruhi oleh peningkatan biaya yang sejalan dengan ekspansi usaha. Langkah ini merupakan strategi yang terukur untuk memperbesar skala bisnis dan memperkuat daya saing BLES pada masa depan.
Sementara itu, total aset BLES per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 2,03 triliun, meningkat 10,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama didorong oleh peningkatan aset tidak lancar sebesar Rp 185,2 miliar, seiring dengan ekspansi kapasitas produksi dan investasi jangka panjang.
Dengan berbagai strategi tersebut, BLES optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperbaiki profitabilitas secara bertahap di tengah persaingan industri yang semakin ketat.