Rupiah

Rupiah Melemah Mendekati Rp17.100 per Dolar AS BI Intervensi

Rupiah Melemah Mendekati Rp17.100 per Dolar AS BI Intervensi
Rupiah Melemah Mendekati Rp17.100 per Dolar AS BI Intervensi

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Pergerakan mata uang domestik yang kian melemah mendorong otoritas moneter untuk bertindak cepat guna menjaga stabilitas pasar. Langkah intervensi pun dilakukan sebagai respons atas tekanan eksternal yang memengaruhi sentimen investor dan arus modal.

Bank Indonesia Perkuat Intervensi Pasar Valas

Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di pasar spot dan forward non-deliverable.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti kepada Reuters mengatakan, intervensi ini dilakukan setelah rupiah mencapai rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Menstabilkan rupiah tentu menjadi prioritas utama kami saat ini. Kami akan menggunakan setiap instrumen dan kebijakan yang kami miliki, kami akan mengerahkan semua upaya,” katanya.

Langkah ini menegaskan komitmen otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global yang semakin kompleks. Intervensi dilakukan tidak hanya pada pasar spot, tetapi juga pada instrumen derivatif guna meredam volatilitas yang berlebihan.

Tekanan Global Picu Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Destry menambahkan bahwa tekanan pada mata uang tersebut sebagian besar disebabkan oleh dinamika global, termasuk reaksi pasar terhadap perang AS-Israel di Iran.

Rupiah melemah hingga 0,35% menjadi 17.090 per dolar AS pada Selasa pagi, menurut data LSEG. Rupiah juga telah jatuh lebih dari 2% terhadap dolar pada tahun 2026, yang sejalan dengan beberapa mata uang regional lainnya, menurut data tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 10.21 WIB, rupiah berada di level Rp 17.084 per dolar AS atau melemah 0,29% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.035 per dolar AS.

Sepanjang hari ini, rekor pelemahan rupiah berada di Rp 17.095 per dolar AS.

Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan semata berasal dari faktor domestik, melainkan juga dipengaruhi oleh gejolak geopolitik dan sentimen global yang memicu penguatan dolar AS.

Strategi BI Jaga Stabilitas Dan Likuiditas Pasar

Destry mengatakan, BI melakukan intervensi di pasar mata uang spot dan forward non-deliverable, dan siap membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder jika diperlukan. Otoritas juga akan berupaya meningkatkan arus masuk dengan meningkatkan daya tarik sertifikat berdenominasi rupiah yang dikenal sebagai SRBI.

Langkah ini menunjukkan pendekatan komprehensif yang dilakukan BI, tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi juga memastikan likuiditas pasar tetap terjaga.

Instrumen seperti SRBI diharapkan mampu menarik minat investor, sehingga dapat memperkuat aliran modal masuk ke dalam negeri. Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah dapat diredam secara bertahap.

Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Ekonomi Domestik

Ia mengatakan pelemahan rupiah pasti akan berdampak negatif pada aktivitas ekonomi, meskipun harga komoditas utama yang lebih tinggi akan membantu mengimbangi dampak tersebut.

Sebenarnya pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia. Di mana, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,29%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi bersifat regional dan global, sehingga memerlukan respons kebijakan yang adaptif dan terkoordinasi. Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan terus bersinergi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung.

Dengan berbagai langkah intervensi dan kebijakan yang ditempuh, stabilitas rupiah diharapkan dapat kembali terjaga. Meski tantangan global masih membayangi, upaya aktif dari otoritas menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pasar serta ketahanan ekonomi Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index