Jaga Stabilitas Harga

Bulog Sumut Tingkatkan Penyaluran Beras SPHP Jaga Stabilitas Harga

Bulog Sumut Tingkatkan Penyaluran Beras SPHP Jaga Stabilitas Harga
Bulog Sumut Tingkatkan Penyaluran Beras SPHP Jaga Stabilitas Harga

JAKARTA - Ketersediaan beras dengan harga yang stabil menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat. 

Ketika harga gabah di tingkat petani mulai mengalami kenaikan dan panen di sejumlah daerah belum berlangsung optimal, langkah pengendalian pasokan menjadi strategi yang perlu dilakukan untuk mencegah lonjakan harga di tingkat konsumen.

Upaya menjaga keseimbangan antara pasokan dan harga tersebut dilakukan melalui berbagai kebijakan distribusi pangan oleh pemerintah. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat penyaluran beras program stabilisasi agar masyarakat tetap dapat mengakses bahan pangan pokok dengan harga terjangkau.

Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) menambah kuota penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) guna menjaga stabilitas harga di wilayah tersebut.

“Kami meningkatkan penyaluran beras SPHP menjadi sekitar 700 ton per hari dari sebelumnya 300 ton per hari di pasar,” ujar Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumut Budi Cahyanto.

Peningkatan Penyaluran Beras Untuk Menjaga Stabilitas Harga

Langkah peningkatan distribusi beras SPHP dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas harga di pasar. Program tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam memastikan pasokan beras tetap tersedia bagi masyarakat dengan harga yang terkendali.

Budi mengatakan peningkatan penyaluran beras SPHP ke sejumlah mitra dilakukan karena ada potensi kenaikan harga beras yang dipicu harga gabah di pasaran mencapai Rp7.500 per kilogram.

Kenaikan harga gabah tersebut menjadi salah satu indikator yang dapat memengaruhi harga beras di tingkat konsumen. Ketika harga bahan baku meningkat, potensi kenaikan harga beras di pasar juga semakin terbuka.

Dengan meningkatkan volume distribusi beras SPHP ke pasar, Bulog berupaya menahan tekanan harga agar tidak meningkat secara signifikan. Program ini sekaligus menjadi langkah preventif untuk menjaga daya beli masyarakat.

Faktor Panen Dan Pemulihan Wilayah Terdampak Bencana

Selain faktor harga gabah, kondisi produksi di sejumlah wilayah juga menjadi pertimbangan dalam meningkatkan penyaluran beras. Produksi yang belum maksimal dapat memengaruhi ketersediaan pasokan di pasar.

Lebih lanjut, ia mengatakan potensi lain berasal dari panen di sejumlah daerah di Sumut yang belum maksimal. Selain itu, sebagian wilayah serapan masih dalam tahap pemulihan pasca-bencana, seperti Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Langkat.

Kondisi tersebut membuat distribusi beras perlu diperkuat agar pasokan di pasar tetap terjaga. Daerah yang masih dalam tahap pemulihan tentu membutuhkan waktu untuk kembali memaksimalkan produksi pertanian.

Melalui penguatan distribusi beras SPHP, Bulog berupaya memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi meskipun terdapat tantangan dalam produksi dan distribusi pangan di beberapa wilayah.

Perkembangan Harga Beras Di Tingkat Pasar

Pemantauan harga di pasar menjadi bagian penting dalam kebijakan distribusi beras. Data harga dapat menjadi indikator awal untuk mengetahui potensi perubahan harga yang terjadi di tingkat konsumen.

“Berdasarkan pemantauan kami, harga beras premium sudah naik Rp200 di pasar atau rata-rata menjadi Rp15.400 per kilogram. Sementara untuk kelas medium masih stabil karena masih tersedia beras SPHP,” katanya.

Ketersediaan beras SPHP di pasar dinilai mampu menahan kenaikan harga beras kelas medium sehingga tetap berada dalam kondisi stabil. Program stabilisasi ini berfungsi sebagai penyeimbang ketika harga beras komersial mulai mengalami kenaikan.

Ia menambahkan intensifikasi penyaluran beras SPHP ke sejumlah mitra telah mencapai 24.753 ton sejak Januari hingga 4 April 2026.

Penyaluran dalam jumlah besar tersebut menunjukkan peran penting program SPHP dalam menjaga stabilitas harga pangan, khususnya di wilayah Sumatera Utara.

Distribusi Melalui Berbagai Mitra Dan Ketersediaan Stok

Penyaluran beras SPHP tidak hanya dilakukan melalui satu jalur distribusi, tetapi melibatkan berbagai mitra yang berperan dalam menjangkau masyarakat secara lebih luas. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat distribusi beras ke berbagai daerah.

Budi mengatakan penyaluran dilakukan melalui sejumlah mitra, antara lain Program Gerakan Pangan Murah (GPM), pengecer di pasar rakyat, gerai pangan binaan pemerintah daerah, serta badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang pangan.

Sementara itu untuk harga, Budi mengatakan ketentuan tetap mengacu pada harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp13.100 per kilogram.

"Namun, harga jual di lapangan dapat menyesuaikan kebijakan masing-masing instansi dalam kerja sama tersebut," ujarnya.

Selain memperkuat distribusi, Bulog juga memastikan ketersediaan stok beras di gudang tetap berada dalam kondisi aman untuk memenuhi berbagai kebutuhan program pangan.

Budi menambahkan hingga saat ini stok gudang di Sumut mencapai 56.400 ton sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan di wilayah tersebut.

"Stok itu cukup untuk memenuhi bantuan pangan, beras SPHP, dan kebutuhan lainnya. Apalagi, kami juga terus melakukan penyerapan gabah dari petani," katanya.

Ketersediaan stok yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di pasar. Dengan cadangan beras yang cukup, Bulog dapat melakukan intervensi pasar ketika terjadi tekanan harga.

Melalui langkah peningkatan distribusi beras SPHP serta penguatan stok pangan, upaya menjaga stabilitas harga beras di Sumatera Utara diharapkan dapat terus berjalan. 

Kebijakan ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memastikan masyarakat tetap memperoleh akses terhadap bahan pangan pokok dengan harga yang terkendali.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index