DAIRI - Kasus dugaan penganiayaan brutal terhadap 2 bocah bersaudara yang masing-masing berusia 7 dan 6 tahun di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara, memasuki babak baru. Pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa RS (52), pengasuh yang diduga melakukan tindak penganiayaan tersebut, positif mengonsumsi narkotika jenis sabu berdasarkan hasil tes urine.
Pihak kepolisian masih terus mendalami perkara ini, termasuk merangkai urutan aksi kekerasan yang diduga dialami oleh 2 korban, yaitu AGP (7) dan AP (6), selama mereka berada dalam pengasuhan RS.
Berdasarkan hasil penyelidikan, ibu dari kedua anak tersebut awalnya menitipkan buah hatinya kepada RS lantaran harus bekerja di luar daerah. RS dijanjikan mendapat upah mengasuh sebesar Rp500 ribu setiap minggu, namun pembayaran gaji tersebut diduga mengalami kendala yang memicu kemarahan RS hingga melampiaskannya kepada anak-anak tersebut.
“Untuk motifnya adalah karena gaji yang disepakati setiap minggu Rp500 ribu ini mengalami kendala, sehingga pelaku ini merasa tidak terima dan melampiaskannya kepada si anak,” ujar pihak kepolisian.
Pemeriksaan sementara menunjukkan kekerasan dilakukan secara berulang kali memanfaatkan berbagai benda di dalam rumah, seperti sapu, hanger, sandal, hingga kayu. Luka ditemukan di sekujur tubuh kedua korban, bahkan kepala korban diduga pernah dibenturkan dan bibirnya dibakar menggunakan korek api.
“Semua sekujur tubuh korban ini mengalami penganiayaan, mulai dari kepala dibenturkan, kemudian juga tangannya, bibirnya ada yang dibakar menggunakan mancis,” ungkap pihak kepolisian. Akibat aksi penganiayaan tersebut, salah satu korban sampai mengalami patah tulang pada bagian lengan kiri.
“Kemudian perutnya semua bekas luka penganiayaan semua, kakinya juga, dan lengan sebelah kiri mengalami patah tulang karena didorong,” tambahnya.
Kasus ini baru terbongkar usai AGP ditemukan oleh warga di kawasan belakang Gedung Nasional Djauli Manik, Sidikalang, pada Jumat (21/8/2026). Rekaman yang memperlihatkan kondisi mengenaskan korban langsung tersebar luas di media sosial hingga akhirnya dilaporkan secara resmi ke Polres Dairi.
Petugas kepolisian dengan cepat mengamankan RS serta mengevakuasi kedua anak tersebut agar segera mendapatkan penanganan medis di RSUD Sidikalang. Karena membutuhkan perawatan yang jauh lebih intensif, kedua korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Haji Medan dan kini kondisinya dikabarkan mulai membaik.
“Saat ini kondisi korban sudah semakin membaik. Langsung ditangani penanganan pertama dari tim medis RSUD Sidikalang dan saat ini sudah dirujuk ke Rumah Sakit Haji di Medan untuk penanganan yang lebih baik,” terang pihak kepolisian.
Saat ini penyidik masih terus melanjutkan proses pemeriksaan terhadap RS, termasuk mendalami temuan hasil tes urine positif sabu serta kaitannya dengan aksi kekerasan yang ia lakukan. Peristiwa ini menyita perhatian publik karena aksi kekerasan serius justru dialami oleh anak-anak dari sososok yang seharusnya mengasuh dan melindungi mereka.