Inovasi Bra Inklusif Rekat Buatan Mahasiswa Vokasi UI

Kamis, 09 Juli 2026 | 17:55:01 WIB
Ilustrasi Universitas Indonesia (FOTO: NET)

DEPOK - Mahasiswa Program Studi Bisnis Kreatif Vokasi Universitas Indonesia meluncurkan Rekat, sebuah produk bra inklusif yang dibuat untuk mempermudah perempuan dengan gangguan motorik, lansia, serta penyandang disabilitas dalam berpakaian tanpa mengabaikan faktor kenyamanan dan keindahan.

Didorong oleh keadaan tersebut, Rekat dirancang oleh kelompok mahasiswa Vokasi UI yang beranggotakan lima orang, yakni Patricia Revi De Mila, Quency Nova Mardira, Aulia Attaya, Nayang Nurizah, dan Annas Tasya.

"Aktivitas berpakaian merupakan rutinitas dasar harian yang sering kali menjadi tantangan besar bagi perempuan dengan keterbatasan fisik, bahkan memengaruhi kemandirian serta rasa percaya diri mereka," kata Patricia Revi De Mila di Depok, Rabu.

Inisiatif ini berawal dari mata kuliah Pengembangan Produk yang mewajibkan mahasiswa menemukan persoalan nyata di tengah masyarakat, menyusun solusi, sampai menciptakan purwarupa yang siap digunakan.

Karya inovatif ini dianggap sangat sesuai dalam mendukung pemenuhan hak aksesibilitas di tanah air.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik 2023, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai kisaran 22,97 juta jiwa atau berkisar 8,5 persen dari keseluruhan populasi.

Jumlah yang besar itu memperlihatkan tingginya kebutuhan pasar akan produk sandang inklusif yang menggunakan konsep desain ramah semua kalangan, suatu hal yang selama ini masih sangat jarang diterapkan pada produk pakaian dalam seperti bra.

Gagasan ini semakin diperkuat setelah seorang anggota kelompok melihat secara langsung kendala motorik yang dihadapi oleh salah satu anggota keluarganya.

Menggunakan pendekatan desain yang berfokus pada kebutuhan pengguna, Rekat tampil sebagai bra tanpa kawat yang ditunjang oleh sistem pengunci magnet pada bagian depan.

Sistem pengait magnet di sisi depan ini membantu pengguna memakai dan melepas pakaian dalam lewat gerakan yang jauh lebih simpel serta mandiri, jika dibandingkan dengan model pengait biasa di bagian punggung.

Masa perancangan produk ini memerlukan waktu sekitar tiga bulan, meliputi kegiatan studi pustaka, riset keperluan, pemilihan bahan baku, hingga proses wawancara mendalam bersama target pengguna.

“Kami belajar bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Terkadang, inovasi terbaik hadir dari kemampuan memahami kebutuhan pengguna dan menyederhanakan pengalaman mereka. Dari proses ini, kami menyadari bahwa empati merupakan bagian penting dalam menciptakan solusi yang benar-benar relevan dan berdampak,” ujar Patricia Revi.

Direktur Program Pendidikan Vokasi UI Dr. Safrin Arifin menyatakan Rekat ialah perwujudan konkret mengenai bagaimana ilmu pengetahuan dan daya kreativitas dari ruang kuliah diubah menjadi tindakan sosial yang merangkul semua kalangan.

Rekat pun mempunyai peluang untuk menjadi acuan inovasi mode inklusif di Indonesia, sekaligus merintis jalan bagi munculnya produk kreatif lain yang ramah bagi penyandang disabilitas serta menjunjung keadilan sosial.

Terkini