Harga Kedelai Melambung, Ukuran Tahu di Kulon Progo Diperkecil

Senin, 25 Mei 2026 | 14:52:15 WIB
Perajin tahu di Kalurahan Tuksono mencetak tahu dengan alat pres lalu dipotong menjadi beberapa bagian.(Sumber:NET)

KULON PROGO - Usaha Tahu Nunggal Roso yang berlokasi di Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini mulai memperkecil dimensi produk tahunya. 

Langkah ini diambil sebagai strategi menghadapi kenaikan harga bahan baku kedelai yang telah menembus angka Rp10.800 hingga Rp11.000 per kilogram.

Wakil Ketua Tahu Nunggal Roso, Mubari, di Kulon Progo pada Senin menyatakan bahwa bagi para pekerja di sana, fluktuasi harga kedelai yang kini berada di kisaran Rp10.800 sampai Rp11.000 per kilogram menjadi beban berat yang harus ditanggung.

"Agar dapur Tahu Nunggal Roso tetap mengepul dan pelanggan setia di wilayah pemasaran Yogyakarta, serta sekitarnya tidak kecewa, kami menerapkan beberapa strategi bertahan dengan menyiasati ukuran dan ketebalan. 

Kami memilih untuk melakukan penyesuaian ukuran tahu sedikit lebih ekonomis dengan mengurangi beberapa milimeter daripada menaikkan harga," kata Mubari.

Ia menjelaskan bahwa metode tersebut dinilai lebih mudah diterima oleh para pembeli dari kalangan bawah maupun para pedagang di pasar tradisional.

Selain mengubah ukuran, para pekerja Tahu Nunggal Roso Tuksono juga melakukan efisiensi dalam proses produksi dengan memperketat pengawasan selama pembuatan agar dapat menekan risiko kegagalan produk.

"Setiap butir kedelai harus dimasak dengan maksimal. Selain itu, kami memaksimalkan efisiensi bahan bakar dalam proses perebusan tahu," katanya.

Mubari juga menguraikan dampak langsung yang dirasakan oleh para produsen tahu, yakni menyusutnya margin keuntungan mereka.

Kedelai sendiri merupakan bahan baku utama yang memakan porsi sekitar 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional produksi. 

Ketika harganya melonjak, biaya operasional secara otomatis ikut membengkak, sedangkan para produsen tidak bisa menaikkan harga jual tahu ke konsumen secara tiba-tiba.

"Akibatnya, keuntungan kami terpangkas jauh," katanya.

Dilema terbesar bagi para produsen tahu saat ini adalah menentukan harga jual yang ideal. 

Mubari menilai bahwa menaikkan harga jual berisiko membuat para pelanggan, baik pedagang pasar maupun konsumen langsung, beralih ke tempat lain atau mengurangi volume pembelian mereka. 

Namun, jika harga tetap dipertahankan, para produsen dipaksa untuk menutupi sendiri selisih biaya produksi yang membengkak tersebut.

"Untuk itu, kami melakukan pengelolaan arus kas yang ketat. Modal kerja yang dibutuhkan untuk membeli jumlah kedelai yang sama kini menjadi lebih besar. 

Kami harus memutar otak agar arus kas harian tetap aman untuk membayar tenaga kerja dan biaya lain seperti kayu bakar/gas dan plastik kemasan," katanya.

Sebagai solusi atas kenaikan harga kedelai dan penurunan profit, Mubari mengungkapkan bahwa para produsen tahu kini memaksimalkan pemanfaatan produk sampingan. 

Para pelaku usaha mengoptimalkan pendapatan dari hasil sampingan pengolahan tahu, seperti menjual limbah padat tahu untuk pakan ternak atau mengolahnya kembali menjadi tempe gembus. 

Hal ini dilakukan demi mendapatkan pemasukan tambahan guna membantu menutup biaya produksi utama.

Selanjutnya, para produsen tahu tetap menjaga loyalitas konsumen melalui aspek kualitas, walau ukuran produk mengalami perubahan. 

Para pekerja Tahu Nunggal Roso Tuksono berkomitmen penuh untuk tetap mempertahankan cita rasa, kebersihan, serta tekstur lembut yang sudah menjadi ciri khas produk mereka.

"Bagi kami, kepercayaan pelanggan adalah modal terbesar untuk bertahan di masa sulit seperti ini," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, produsen Tahu Nunggal Roso lainnya, Suhadi, menyampaikan harapannya agar ada langkah nyata dari pemerintah maupun lembaga terkait untuk menstabilkan harga komoditas kedelai di pasar domestik.

"Subsidi atau jalur distribusi yang lebih pendek akan sangat membantu perajin skala rumahan seperti kami di Kaliwiru agar tetap bisa bertahan dan menyediakan sumber protein terjangkau bagi masyarakat," katanya.

Tags

Terkini