JAKARTA - Pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai jalur pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan.
Selama ini, sektor pendidikan berbasis agama seperti madrasah dan sekolah keagamaan lainnya dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga kesenjangan akses teknologi dibandingkan sekolah umum.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah agar tidak terjadi ketimpangan dalam proses pembangunan pendidikan nasional.
Dalam upaya memperkuat sektor pendidikan keagamaan, pemerintah melalui Kementerian Agama mengajukan tambahan anggaran yang cukup besar untuk tahun anggaran mendatang.
Dana tersebut diharapkan mampu mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, memperkuat digitalisasi pembelajaran, serta meningkatkan fasilitas pendidikan keagamaan di berbagai daerah.
Kementerian Agama (Kemenag) mengusulkan tambahan anggaran jumbo sebesar Rp24,8 triliun untuk tahun anggaran 2026, guna menghapus ketimpangan kualitas antara pendidikan keagamaan dan sekolah umum di Indonesia, termasuk menggenjot digitalisasi.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan usulan ini merupakan manifestasi dari komitmen pemerintah dalam menciptakan keadilan akses pendidikan.
Menurutnya, sektor pendidikan keagamaan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata dalam peta pembangunan sumber daya manusia (SDM).
"Usulan anggaran ini adalah ikhtiar kita untuk menjamin bahwa tidak ada lagi ketimpangan antara madrasah dan sekolah umum," ujar Menag.
Penguatan Infrastruktur Pendidikan Keagamaan
Dalam rinciannya, Kemenag mengalokasikan porsi terbesar tambahan anggaran ini untuk dua pilar utama. Pertama, infrastruktur fisik dan penguatan teknologi informasi. Kedua, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan tercatat menelan biaya paling besar, yakni mencapai Rp13,7 triliun.
Dana tersebut direncanakan untuk menyasar perbaikan sarana dan prasarana (sarpras) di 7.131 lembaga satuan pendidikan. Fokus perbaikan mencakup 6.973 madrasah, serta sekolah-sekolah keagamaan lain seperti 128 sekolah Kristen, 13 sekolah Katolik, 9 sekolah Hindu, dan 8 sekolah Buddha.
Langkah revitalisasi ini dinilai penting untuk memastikan fasilitas pendidikan keagamaan mampu mendukung kegiatan belajar mengajar secara optimal.
Dengan perbaikan sarana dan prasarana yang memadai, diharapkan kualitas pendidikan di lembaga keagamaan dapat semakin meningkat dan setara dengan sekolah umum.
Selain itu, peningkatan fasilitas fisik juga diharapkan dapat memberikan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan aman bagi para siswa. Lingkungan pendidikan yang baik menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung perkembangan akademik maupun karakter peserta didik.
Dorongan Digitalisasi Pembelajaran Madrasah
Selain fokus pada pembangunan fisik, Kemenag juga memberikan perhatian besar terhadap penguatan teknologi dalam proses pembelajaran. Hal ini menjadi bagian penting dari upaya menghadapi tantangan pendidikan di era digital yang semakin berkembang.
Kemenag juga mengusulkan dana Rp10,9 triliun untuk Digitalisasi Pembelajaran. Langkah ini dipandang krusial guna memastikan siswa di sekolah keagamaan memiliki kompetensi teknologi yang setara dengan siswa di sekolah umum.
Dengan dukungan teknologi yang memadai, proses pembelajaran di madrasah dan sekolah keagamaan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan inovatif.
Pemanfaatan teknologi digital juga memungkinkan akses terhadap berbagai sumber belajar yang lebih luas, sehingga dapat memperkaya materi pembelajaran.
Digitalisasi juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas tenaga pendidik dalam mengembangkan metode pembelajaran yang lebih adaptif. Dengan demikian, siswa di lembaga pendidikan keagamaan dapat memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia modern.
Program Pendukung Peningkatan Kualitas Pendidikan
Selain dua program utama tersebut, Kemenag juga mengusulkan berbagai program pendukung untuk memperkuat ekosistem pendidikan keagamaan di Indonesia.
Kemenag juga mendorong program pendukung lainnya seperti Bantuan Buku Tulis Gratis dengan total nilai Rp159 miliar dan Sekolah Unggul Garuda Transformasi dengan usulan anggaran Rp22,9 miliar.
Program bantuan buku tulis gratis diharapkan dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus memastikan siswa memiliki perlengkapan belajar yang memadai.
Sementara itu, program Sekolah Unggul Garuda Transformasi bertujuan menciptakan lembaga pendidikan yang mampu bersaing secara nasional maupun internasional.
"Pemerintah harus hadir dan memberikan perhatian yang sama. Semuanya harus setara, karena ini menyangkut hak anak bangsa untuk masa depan mereka," tegas Nasaruddin.
Melalui berbagai program tersebut, pemerintah berupaya memastikan bahwa seluruh siswa di Indonesia, termasuk yang berada di lembaga pendidikan keagamaan, mendapatkan kesempatan belajar yang sama dan berkualitas.
Perluasan Program Gizi Bagi Santri Dan Siswa Madrasah
Selain peningkatan kualitas pendidikan, perhatian juga diberikan pada aspek kesehatan dan gizi peserta didik di lingkungan madrasah dan pondok pesantren.
Nasaruddin juga menyampaikan bahwa implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan madrasah dan pondok pesantren baru menyentuh angka 10—12%. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan sekolah umum yang diproyeksikan segera mencapai cakupan 80%.
Padahal, Nasaruddin menilai anak-anak madrasah dan santri justru menjadi kelompok yang paling membutuhkan dukungan nutrisi ini jika dilihat dari kondisi ekonomi.
Dia pun menekankan bahwa ekosistem pondok pesantren sebenarnya adalah model yang paling siap untuk menjalankan program MBG.
“Di pesantren hampir tidak ada kasus risiko kesehatan terkait pangan, karena mereka sudah terbiasa dengan pola dapur mandiri dan makan bersama. Ini adalah model yang sangat aman dan efektif,” tambahnya.
Melalui usulan anggaran yang signifikan ini, Kemenag berharap dapat memacu kualitas SDM nasional melalui jalur pendidikan keagamaan yang lebih inklusif dan kompetitif di kancah global.
Pemerataan kualitas pendidikan serta dukungan terhadap digitalisasi dan pemenuhan gizi diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi tantangan masa depan.