Penyebab Utama Tabrakan Beruntun Sering Terjadi di Lajur Kanan Tol

Penyebab Utama Tabrakan Beruntun Sering Terjadi di Lajur Kanan Tol
Ilustrasi Kecelakaan Beruntun di Lajur Kanan Tol.(Sumber:NET)

JAKARTA Tabrakan beruntun di jalan tol paling sering berlangsung di lajur kanan atau lajur mendahului.Mayoritas titik insiden kecelakaan, dari benturan ringan sampai karambol belasan mobil, berada di lajur paling cepat ini.

Mengapa lajur kanan seolah menjadi tempat langganan tabrakan beruntun?

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menerangkan ada kondisi psikologis yang membedakan pengemudi lajur cepat dengan lajur lain.

Laju kendaraan di lajur satu, dua, atau tiga cenderung konstan dan kondisi emosional pengemudi relatif lebih tenang.

Namun, situasi mendadak berubah sewaktu pengemudi berpindah menuju lajur paling kanan."Kondisi psikologi seseorang ketika ada di jalur cepat atau mendahului itu berbeda. Di lajur lain, mereka constant speed rata-rata, tidak ada beban intimidasi. Tapi di lajur cepat, secara psikis ada beban intimidasi kesannya harus buru-buru," ujar Jusri.

Tekanan mental akibat kendaraan belakang menguntit sangat rapat menjadi bentuk intimidasi, bukan cuma dari klakson atau lampu tembak.Konsentrasi pengemudi di lajur kanan terpecah akibat tekanan psikologis merasa dikejar mobil belakang.

Pengemudi cenderung mengutamakan kecepatan supaya tidak menghalangi mobil lain, namun lalai pada prinsip memelihara jarak aman.

Jusri mengumpamakan pengemudi lajur cepat seperti tim sepak bola yang asik menyerang sampai lupa pertahanan.

"Karena tegang dan fokus harus cepat gara-gara mobil di belakang nempel, akhirnya ada area bolong yang mereka lupa untuk konsentrasi, misalnya terhadap jarak aman. Saat itulah ketika mobil di depan mendadak mengerem, pengemudi tidak siap," jelas Jusri.

Kombinasi kecepatan tinggi dan gaya inersia menjadi faktor berikutnya yang membuat efek tabrakan di lajur kanan fatal.

Jarak reaksi pengemudi menjadi sangat sempit saat beberapa kendaraan melaju beriringan dalam kecepatan tinggi di lajur kanan.

Mobil-mobil di belakang hampir tidak punya waktu atau ruang cukup untuk berhenti aman apabila kendaraan paling depan mengerem mendadak.

"Kecepatan tinggi itu linear dengan inersia. Kalau sudah tiga atau empat mobil tandem di lajur cepat, otomatis efek karambol yang mungkin terjadi itu sangat tinggi. Begitu satu mengerem mendadak, langsung kena semua," kata Jusri.

Oleh sebab itu, Jusri mengingatkan lajur kanan murni digunakan khusus untuk mendahului.Pengemudi disarankan segera kembali ke lajur kiri atau tengah setelah menyalip guna terhindar dari tekanan psikis serta menjaga jarak aman.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index