Bahaya Salah Isi BBM, Performa Turun dan Komponen Mesin Rusak

Bahaya Salah Isi BBM, Performa Turun dan Komponen Mesin Rusak
Ilustrasi isi bensin (FOTO: NET)

JAKARTA - Saban unit kendaraan bermotor sudah dirancang sedemikian rupa untuk menggunakan jenis bahan bakar tertentu yang sesuai dengan spesifikasi mesin dari pabrikan.

Kondisi tersebut mengakibatkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang tidak sesuai berisiko merusak ritme kerja kendaraan hingga membuat komponen mesin lebih cepat aus.

Di Indonesia sendiri, beberapa pilihan BBM yang umum digunakan meliputi Pertalite (RON 90), Pertamax (RON 92), Pertamax Green 95 (RON 95), Pertamax Turbo (RON 98), serta solar untuk kendaraan bermesin diesel.

Kendati demikian, dalam realitasnya masih sering ditemukan kasus salah pengisian jenis bahan bakar.

Padahal, keteledoran semacam itu dapat memicu penurunan performa, konsumsi bahan bakar yang menjadi lebih boros, hingga mempercepat kerusakan pada komponen mesin apabila tidak segera ditangani.

Lantas, apa dampak nyata yang bakal terjadi jika kendaraan diisi dengan BBM yang tidak selaras dengan spesifikasi mesinnya?

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar menjelaskan bahwa setiap teknologi pada kendaraan dirancang dengan mengacu pada karakteristik fisik serta kimia dari jenis bahan bakar tertentu.

Perancangan tersebut digarap dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari keluaran tenaga, efisiensi, hingga ketahanan komponen internal mesin.

Menurut dirinya, apabila kendaraan mengonsumsi bahan bakar yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrik, maka imbasnya bisa langsung dirasakan dalam periode singkat.

"Jadi kalau misalkan kendaraan tidak diisi sesuai spesifikasi bahan bakar yang ditentukan produsennya, maka dalam jangka pendek akan berdampak terhadap penurunan kinerja seperti power, torsi, dan peningkatan konsumsi bahan bakar," kata Supriyadi kepada Kompas.com, Minggu (28/6/2026).

Sementara itu, untuk efek jangka panjang, penggunaan BBM yang tidak tepat dapat mempercepat tingkat kerusakan pada beraneka ragam komponen mesin.

Sebagai contoh, mobil diesel dengan standar Euro 4 dirancang untuk mengonsumsi solar yang memiliki kandungan sulfur maksimal 50 ppm.

Apabila tangki diisi dengan solar yang kadar sulfurnya lebih tinggi, maka masa pakai komponen mesin serta sistem penyaring emisi dapat menjadi lebih pendek.

Di samping jenis bahan bakar, Supriyadi menegaskan bahwa keselarasan nilai oktan (Research Octane Number/RON) dengan tingkat rasio kompresi mesin juga menjadi aspek yang amat krusial.

"Penggunaan bahan bakar dengan nilai RON lebih rendah dari yang direkomendasikan pabrikan dapat memicu knocking atau detonasi," jelasnya.

"Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko kerusakan pada piston, katup, hingga komponen mesin lainnya," sambungnya.

Supriyadi mengimbuhkan, kualitas dari bahan bakar tidak cuma diukur dari angka oktan saja, melainkan turut dipengaruhi oleh sifat penguapan (distilasi), kandungan sulfur, stabilitas saat disimpan, serta paket aditif yang berguna untuk memelihara kebersihan sistem bahan bakar, menangani korosi, menekan munculnya endapan kotoran, dan mengoptimalkan proses pembakaran.

Oleh sebab itu, dirinya mengimbau para pemilik kendaraan untuk selalu memilih BBM yang sesuai dengan petunjuk resmi pabrikan.

Tindakan tersebut sangat penting dilakukan demi menjaga performa mesin, efisiensi bahan bakar, keandalan mekanis, memperpanjang usia pakai komponen, sekaligus ikut berperan dalam mengurangi emisi gas buang dari kendaraan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index