A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined property: stdClass::$ai_summary

Filename: controllers/read.php

Line Number: 107

BGN Ganti Pimpinan: Dari Ahli Serangga ke Sarjana Biologi

BGN Ganti Pimpinan: Dari Ahli Serangga ke Sarjana Biologi

BGN Ganti Pimpinan: Dari Ahli Serangga ke Sarjana Biologi
Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang.(Sumber:NET)

JAKARTA - Tampuk kepemimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) resmi beralih. Lembaga yang sebelumnya dipimpin oleh Dadan Hindayana selaku pakar serangga, saat ini dikomandoi oleh Nanik S Deyang yang berlatar belakang Sarjana Biologi.

Sebelum diangkat sebagai Kepala BGN, Dadan lebih populer di lingkungan akademis sebagai seorang ahli serangga. Dirinya merupakan lulusan terbaik di program studi Hama dan Penyakit Tanaman.

Dadan meraih gelar doktornya di Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover, Jerman, dengan predikat Dr. rer. Hort, sebuah gelar akademis tingkat doktoral untuk rumpun tumbuhan dan tanaman.

Saat ini, struktur pimpinan BGN mengalami perombakan. Presiden RI Prabowo Subianto mengubah komposisi posisi Kepala BGN serta dua Wakil Kepala BGN yang sebelumnya ditempati oleh Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung.

Sarjana Biologi

Guna menggantikan posisi Dadan, Presiden mempercayakan jabatan tersebut kepada Nanik S Deyang, yang pada periode sebelumnya mengemban tugas sebagai Wakil Kepala BGN.

Dalam sesi konferensi pers pertamanya usai ditetapkan sebagai Kepala BGN, Nanik memberikan klarifikasi bahwa latar belakang pendidikannya merupakan Sarjana Biologi, bukan Kehutanan.

"Saya Nanik S. Deyang, Sarjana Biologi ya, saya ulang bukan Sarjana Kehutanan, Sarjana Biologi," tutur Nanik di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Untuk mengelola lembaga tersebut, Nanik bakal ditopang oleh dua Wakil Kepala BGN yang baru, yakni Agustina Arumsari beserta Mayjen TNI Trenggono.

Memperkenalkan rekannya, Nanik menyebut Agustina mempunyai jam terbang sekitar 34 tahun dalam ranah pengawasan serta audit, bahkan pernah mengisi posisi Wakil Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

"Tugas dari Pak Presiden, beliau akan mengawasi super ketat tata kelola dan keuangan negara yang di BGN," tegas dia.

Selanjutnya, Nanik turut mengenalkan Mayjen TNI Trenggono selaku Wakil Kepala BGN lainnya. Ia memastikan bahwa Trenggono kini tengah memproses pengunduran dirinya dari status militer aktif.

"Sebelum ditanyakan soal TNI aktif, proses pengunduran diri beliau sudah berjalan dan saat ini masih dalam proses penyelesaian," kata Nanik.

Koreksi Kalau Salah

Nanik pun mengharapkan masyarakat bersedia melayangkan koreksi andai dirinya melakukan kekeliruan kala menakhodai institusi yang mengawal program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut.

"Mohon doanya, mohon dukungannya, dan mohon dikoreksi kalau kami salah," kata Nanik dalam jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Dipaparkan oleh Nanik, BGN sangat memerlukan jepitan masukan dari publik demi menyukseskan jalannya program Makan Gizi Gratis (MBG).

Pada momentum yang sama, ia berniat mengadakan konferensi pers secara rutin sepekan sekali sepanjang masa baktinya sebagai wujud transparansi kepada publik.

"Insyaallah kita bisa bertatap muka setiap minggu atau maksimal dua minggu sajalah, soalnya saya juga masih sidak ya," ucap Nanik.

Kejar Kualitas

Merespons adanya dugaan kasus korupsi dalam tata kelola program MBG yang tengah ditangani Kejaksaan Agung, Nanik menyebutkan sudah meminta restu dari Prabowo agar tidak sekadar mengejar aspek kuantitas program.

"Nah, jadi gini dampaknya ya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, 'Tahun 2026 ini mohon Bapak kami tidak mengejar kuantitas, kami akan perbaiki kualitas'," ujar Nanik.

Nanik menandaskan bahwa di bawah manajemen barunya, BGN tidak cuma terpaku pada pemenuhan target 82 juta sasaran penerima MBG, melainkan juga menjamin unit dapur MBG memproduksi makanan yang benar-benar padat gizi.

Strategi yang diambil, BGN bakal melangsungkan langkah refocusing agar pendistribusian MBG diarahkan ke sekolah-sekolah yang posisinya dinilai sangat membutuhkan.

"Misalnya nanti akan kita juga kalau ada sekolah-sekolah yang mahal gitu kan kita tanya apakah masih perlu MBG? Nah, ini yang kita alihkan ke 3T," ucap Nanik.

Melalui kebijakan refocusing ini, Nanik optimis total penerima manfaat program justru berpeluang bertambah. Skema program MBG pun diyakini tetap bergulir optimal di tengah kebijakan pengetatan anggaran.

"Kami concern hal pertama yang kami lakukan adalah untuk melakukan efisiensi anggaran, sehingga meskipun sekarang sudah dipotong Rp 2 (triliun), tinggal Rp 268 (triliun), kami berharap masih bisa menurunkan lagi, namun tidak mengurangi sasaran," ujar Nanik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index