Strategi Pemerintah Genjot Konsumsi Susu Lewat Program MBG 2026

Strategi Pemerintah Genjot Konsumsi Susu Lewat Program MBG 2026
Kementan Usul Bikin Dapur Susu untuk Pasok MBG.(Sumber:NET)

JAKARTA - Langkah besar tengah disiapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk memacu lonjakan konsumsi susu nasional pada tahun 2026.

Momentum peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 ini diintegrasikan sebagai langkah penguatan gizi warga melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, pihak industri, para peternak, hingga elemen masyarakat.

Menurut penegasan dari Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, HSN tidak boleh dipandang sebagai perayaan tahunan belaka. 

Agenda tersebut menjadi wadah sinergi demi menjamin pemenuhan gizi masyarakat dapat berjalan makin optimal, khususnya lewat peningkatan konsumsi susu.

Perayaan Hari Susu Dunia yang jatuh setiap tanggal 1 Juni kini telah diperingati oleh lebih dari 70 negara. 

Langkah ini kemudian diadaptasi oleh Indonesia menjadi Hari Susu Nusantara 2026 dengan menitikberatkan pada penguatan budaya minum susu di ranah domestik.

Susu pun telah diakomodasi ke dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar kelompok anak-anak serta ibu hamil dalam kebijakan gizi nasional. 

Target yang dipatok pemerintah adalah mengubah konsumsi susu dari yang semula bersifat berkala menjadi sebuah kebiasaan harian bagi masyarakat.

"Kami berharap dengan susu kami tidak hanya sekadar minum susu, tapi menjadi rutinitas yang harus kami kembangkan," ujar Widiastuti dikutip dari Antara pada Rabu, 3 Juni 2026.

Melihat dari aspek produksi, upaya penguatan sektor susu nasional terus dipacu pemerintah lewat langkah peningkatan kapasitas para peternak, penambahan jumlah populasi sapi perah, serta jalinan kemitraan bersama industri dan koperasi. 

Strategi ini diambil demi menekan angka ketergantungan pada impor yang hingga kini terpantau masih tinggi.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa produksi susu di dalam negeri baru sanggup menyuplai kisaran 25 persen dari total kebutuhan nasional. 

Mengingat sisa kebutuhan lainnya masih disokong oleh jalur impor, maka penguatan sektor produksi kini diposisikan sebagai fokus utama oleh pemerintah.

Melalui Direktorat Hilirisasi Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian memberikan penegasan bahwa kunci utama keberhasilan terletak pada peningkatan populasi sekaligus produktivitas sapi perah. 

Pemerintah turut mendorong adanya perbaikan pada mutu pakan, aspek kesehatan hewan, serta tingkat efisiensi peternakan demi mendongkrak output susu nasional.

Di sisi lain, catatan dari Badan Gizi Nasional menunjukkan bahwa program MBG sejauh ini telah menjangkau hingga 29.670 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang aktif beroperasi, dengan total penerima manfaat yang menembus angka 63 juta orang.

Kewajiban untuk menyediakan susu atau minuman bergizi minimal dua kali seminggu juga dibebankan kepada setiap SPPG, selaras dengan ketentuan Surat Edaran Kepala BGN Nomor 10 Tahun 2026. Regulasi ini menjadi tindakan nyata dalam membentuk budaya minum susu sejak usia dini.

Meski demikian, lonjakan kebutuhan susu demi menyokong program MBG ini masih membentur kendala distribusi, khususnya untuk area-area terpencil. 

Pihak pemerintah mengakui ketersediaan pasokan di beberapa wilayah masih harus terus diperkuat demi mewujudkan pemerataan gizi.

Jika ditinjau dari aspek produktivitas, target yang dipasang pemerintah adalah mengerek hasil produksi susu per ekor sapi yang saat ini terpantau masih berada di bawah angka 20 liter per hari. 

Target ke depan, produktivitas tersebut dapat merangkak naik ke atas 20 liter, atau bahkan menyentuh angka ideal 25 liter per hari guna mendekati standar yang diterapkan di negara-negara lain.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index